Satu minggu setelah pembicaraan antara Salsha dengan papa Aldi, Salsha tidak merasa segan ataupun sungkan.
Bahkan dalam satu minggu, Salsha tidak absen satu haripun. Demi melangkah menebus kesalahannya, setiap pulang sekolah Salsha selalu menyempatkan dua atau tiga jam menjenguk atau sekedar mengajak Aldi bicara.
Sambutan yang Salsha terima juga tidak buruk, Aldi sedikit tersenyum dan selalu memberi pertanyaa 'apa saja yang Salsha lakukan disekolah tanpa dirinya'.
Ya, begitulah sekarang pekerjaan keduanya. Besok lusa, Aldi baru dibolehkan pulang, mungkin karna luka yang Aldi derita mengharuskan dia istirahat total.
Karna selama hidupnya, Aldi tidak ada berhentinya untuk berjuang untuk mendapatkan sesuatu. Dan mungkin, sekarang Salsha yang harus bergantian berjuang.
Apa salahnya, bukannya berjuang tidak dilarang. Jika cowok lelah berjuang, ada cewek yang bisa bergantian membalas perjuangannya. Toh, semua itu tidak mempermalukan dirinya sendiri.
Sedikit memberi fakta, jika sekarang Aldi menjadi tempramental. Dan tidak sedikit memungkiri, Salsha sulit mengontrol amarahnya.
"Iqbal masih deketin kamu?" Tanya Aldi yang masih mendapat diamnya Salsha, entahlah Aldi juga berfikir jika apa yang Salsha lakukan seakan akan hanya kasihan.
"Lo ke sini cuma kasian sama gue doang kan? Kaki gue patah kepala gue diperban. Terus maksud lo selama ini jenguk gue apa si, lo cuma memperalat gue dan deketin Iqbal lagi gitu?" Aldi membuang wajahnya kesal, dia benar benar tidak bisa berfikir dengan jernih sekarang.
"Kapan si gue pernah ngomong sama lo kalo gue selama ini bareng Iqbal dan memperalat lo?" Tanya Salsha dengan sangat pelan, entahlah. Yang dia fikirkan, kenapa sekarang Aldi sangat mengatur hidupnya dan emosinya gampang sekali tersulut.
Itu benar benar mempersulit.
"Yaudah, gue minta maaf. Dulu gue emang bego, gue dulu bego gak setia sama lo dan bareng Iqbal. Tapi semua itu karna ulah lo dulu yang selalu bareng sama Tania, jadi kita impas kan?" Salsha membuang nafasnya kasar.
"Jadi lo nyalahin gue gitu aja? Bukanya lo juga ada salahnya. Lo salah ngegantungin gue sama Iqbal secara bersamaan tanpa kejelasan!"
"Kenapa si Al, lo gak pernah mikir kalo seseorang pernah nyaman terus dikhianatin dan dibikin nyaman lagi radanya aneh. Lo gak pernah mikir saat gue balik lagi sama lo jelas jelas buat gue sama hubungan pertemanan Iqbal jadi sedikit rasa ganjil."
"Gue yang gak enak, gue merasa jadiin Iqbal pelampiasan gue sedangkan itu terjadi begitu aja." Salsha menatap iris mata Aldi yang masih berkabut marah.
"Lo gak tahukan Iqbal itu test satu tahun lebih cepat buat masuk dunia perkuliahan? Dia udah sibuk sama hal itu dan jauhin gue demi lo Al. Tapi lo selalu mikir egois dan nyalahin Iqbal."
"Salah Iqbal dimana si, jelasin ke gue. Lo bilang dia suka sama gue pas MPLS dan gue berusaha biasa aja karna ada elo kan, gue turutin mau lo. Dan pas lo ada yang lain dan nyaman sama yang lain, kenapa gue gak sama orang yang bener bener sayang sama gue. Kalo lo gak sayang sama gue gak mungkin lo pergi gitu aja dan lupain gue."
"Kalo lo salahin Tania, justru lo yang salah. Karna cewek gak akan begitu aja baper kalo lawan jenisnya gak ngebaperin dulu, logikanya cewek gak akan murahan kalo cowoknya gak ngerespon lebih bahkan dibilang gak wajar."
"Gue pulang aja deh, besok gue gak jenguk lo ya gue ada tugas." Sambung Salsha merasa ini percajapan untuk yang terakhir kalinya Aldi dirumah sakit, dia masih waktu banyak setelah ini.
Salsha mengambil tangan Aldi dan menciumnya, lalu dia berlalu begitu saja sebagai mata terlihat terakhir.
Aldi hanya melihat punggung berlalu pergi ditutup dengan pintu yang tertutup rapat.
KAMU SEDANG MEMBACA
PL
RandomPICK LOVE VERSI WATTPAD ON GOING "Kalo lo gak cinta sama Salsha, lo bisa lepasin dia. Biarin gue bahagiain dia." Ucap Iqbal berjalan mendekati Aldi yang sedang melamun. "Gue cinta sama dia." Jawab Aldi berusaha tersenyum dikursinya. Sudah kesekian k...
