Sore itu Yume dan Reiji menelusuri jalan semi-sepi Kabukicho, distrik 'lampu merah' Tokyo yang penuh gemerlap cahaya di kala malam tiba. Reiji menghentikan mobil di parkiran salah satu bar yang cukup terkenal di daerah itu.
"Disini kah tempatnya?" tanya Yume.
"Ya, ini tempat yang sering mereka kunjungi. Disini juga mereka bertemu Nao."
"Apa yang akan kita lakukan jika bertemu mereka?"
"Yang pasti aku akan menghajar mereka dahulu."
Hukum tumpul keatas dan tajam kebawah. Kalimat itu bukan hanya omong kosong belaka, nyatanya Yume sudah melihatnya terjadi di depan matanya sendiri. Setelah mendengar percakapan tidak menyenangkan oleh dua rekan kerjanya di kantor, Yume langsung menghubungi Reiji menanyakan bagaimana perkembangan kasus Nao.
Sementara Nao masih terbaring lemah di rumah sakit, polisi sudah menutup kasus kekerasan yang melibatkan mantan kekasih Nao dan teman-temannya dengan alasan kurangnya bukti, apalagi lebam dan bekas luka itu telah memudar di tubuhnya. Bahkan video kekerasan seksual yang tersebar itu dianggap hanya akting semata.
Belakangan Yume dan Reiji baru mengetahui bahwa salah satu pemuda dalam video itu adalah anak konglomerat yang tentu tidak bisa disentuh bahkan oleh hukum sekalipun. Jika hukum saja tidak dapat menyentuh mereka maka akan muncul lebih banyak korban lainnya seperti Nao.
Bar itu belum begitu ramai saat Reiji dan Yume masuk. Berkat informasi yang Reiji dapat akhirnya mereka menemukan salah seorang diantara keempat pria yang ada dalam video bersama Nao itu.
Sekat demi sekat bambu mereka telusuri, hari masih sore sehingga tidak begitu banyak pengunjung saat itu. Saat mereka hendak mendekati salah satu bilik yang terlihat lebih privat, seorang pelayan wanita menghentikan mereka.
"Mohon maaf, apa kalian sudah memesan tempat?"
Reiji terus berjalan melewati pelayan itu tanpa mengatakan apa-apa. "Tunggu sebentar,!"
"Permisi, apa kau mengenali orang-orang ini?" Yume menarik lengan pelayan itu. "Tolong dilihat baik-baik, apa mereka ada disini?"
"Itu... Tunggu sebentar, tuan tidak boleh masuk sebelum-"
"Jawab aku." Yume mempererat genggamannya. "Mereka disini?"
"Akh!" Pelayan wanita itu tampak kesakitan dan ketajutan, padahal Yume hanya menggertaknya sedikit. Saat Yume melihat luka di balik kerah seragamnya, dia teringat apa yang telah orang-orang brengsek itu lakukan pada Nao.
"Maaf," Yume melepas genggamannya. "Temanku terluka oleh mereka. Kami hanya perlu tahu dimana kami bisa bertemu dengan mereka."
"Maafkan saya, saya tidak bisa membantu anda. Tolong keluar sebelum saya panggilkan petugas keamanan."
"Aku tidak tahu bagaimana kau mendapatkan luka itu, tapi jika yang kupikirkan benar, sebaiknya kau berhenti saja, jangan terlibat lebih jauh dengan orang-orang ditempat ini."
"BRENGSEK!!"
#Buakh!!
Salah satu sekat bambu terlempar dan menabrak dinding tepat disamping mereka. Yume langsung mendorong pelayan didepannya agar terhindar dari pecahan cermin. Reiji berdiri di seberang ruangan dengan wajah merah dan nafas tersenggal-senggal, di kaki Yume tersungkur seorang pemuda.
"Sialan-" Asahi Sakaburo. Salah satu pria dalam video kekerasan seksual terhadap Nao. Yume menahan diri agar tidak menendang wajah menyebalkan itu.
"Berdiri kau bangsat!" Reiji menarik kerah pria itu.
"Cuih!" Sambil tertawa Asahi meludahi wajah Reiji. "Siapa kau, hah?"
"Siapa aku? Biar kukatakan dengan tanganku!"

KAMU SEDANG MEMBACA
Notice me, Sensei !
RomanceYume Tachibana, gadis polkadot yang jatuh cinta pada guru matematika. Yume gadis yang tertutup, selalu terlihat lelah dan tampak tidak menarik. Menjalani masa sekolah tanpa gairah anak muda, dia melanjutkan hidup seperti sebuah kewajiban hingga suat...