Setelah festival budaya berakhir libur musim panas akan dimulai. Setiap pagi seperti biasanya, aku memimpin home room. Di festival budaya kemarin kelas 2-D sudah berusaha keras. Aku mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi kerja keras mereka.
Sudah tradisi bahwa menjelang libur musim panas sekolah mengadakan acara karyawisata bersama. Karena itu bagi murid yang ingin mengikuti camping harus mendaftarkan namanya.
"Kalian pasti sudah tidak sabar menyambut liburan. Tapi sebelum itu kalian harus mengikuti karyawisata sekolah. Karena seperti yang kalian ketahui, karyawisata itu penting untuk memperluas pengetahuan kalian." Kataku.
"Dan yang terpenting, untuk membangun hubungan sosial kalian." Saat mengatakannya secara khusus aku menatap Tachibana. Gadis itu pun balik menatapku seakan tahu kepada dialah aku mengatakannya.
"Dengan mengikuti karyawisata, aku harap kalian semakin akrab satu sama lain. Sebentar lagi kalian akan naik ke kelas 3. Walaupun kemungkinan tidak akan bertemu di kelas yang sama, tapi tidak berarti kalian harus mengasingkan diri. Ini masa muda kalian. Bersenang-senanglah."
"Takka Sensei! Katanya sering terjadi cinta lokasi saat karyawisata, apa itu benar?!" Tanya Kusagawa.
Aku tertawa. "Mana aku tahu? Tugas kalian lah untuk membuktikannya."
"Takka Sensei! Kalau boleh tahu, karyawisata kali ini akan diadakan dimana?" Tanya Kiriyama.
Aku kemudian menjelaskan bahwa pihak sekolah sudah menghubungi salah satu pemilik penginapan di Kota F. Kota itu terkenal dengan pabrik listrik tenaga air dan wisata-wisata air. "Yang pasti, kalian akan menyesal kalau melewatkannya." Kataku.
"Nah, sekian. Sampai jumpa nanti sore. Jangan lupa hubungi orang tua kalian untuk mendapatkan ijin, kalau berhasil segera daftarkan nama kalian di kertas ini." Aku menempelkan kertas kosong di papan jadwal piket kelas 2-D lalu keluar dari kelas.
***
Siang itu seperti biasa aku pergi merokok di atap. Kali ini membawa kopi kalengan sebagai makan siangku. Sejak penutupan festival budaya, Tachibana tidak datang lagi ke atap. Diam-diam terkadang aku berharap kosong akan menemukannya duduk bersandar di dinding itu lagi, atau memangku dagu di besi pembatas sambil memperhatikan kota dibawahnya dengan wajah lelah.
Tapi aku bersyukur dia tidak ada di atap. Bodohnya aku, seorang guru tidak pantas mengharapkan muridnya melanggar sebuah peraturan hanya agar dia dapat bertemu dengannya. Aku ingin bertemu dengan Tachibana?? Aku sendiri tidak menyangka ada pikiran seperti itu melintas kepalaku.
Rokok ditanganku masih menyala. Belum menyentuh bibirku sama sekali. Kopi kaleng pun baru habis setengah. Mungkin karena sejak pertama kali menemukan atap ini, aku tidak hanya menemukan langit luas dan pemandangan kota yang menyejukkan, tapi juga menemukan gadis itu. Tachibana dan atap ini seakan sudah menyatu bagai sepasang sumpit bagiku.
"Mungkin... Aku tidak boleh kesini lagi."
Kalau tidak ingin mengingatnya. Kalau tidak ingin berharap bertemu dengannya. Kalau tidak ingin melanggar prinsip diri sendiri. Aku harus berhenti datang ke tempat ini.
Dengan tekad bulat, aku meneguk habis kopi hitam lalu memasukkan rokok tak tersentuh itu kedalam kalengnya, lalu kembali ke ruang guru. Ada pekerjaan yang menantiku.
"Takahashi-san," Iida Sensei menyapaku di koridor. "Sudah menyusun laporan bulanan kelas anda?"
"Oh itu, ya. Baru akan kuserahkan ke kantor kepala sekolah."
"Jangan dibawa ke kantornya. Hari ini beliau sedang rapat keluar sekolah, titipkan saja kepada Yoshida Sensei."
"Oh, begitu. Baiklah. Terima kasih informasinya, Iida-san."

KAMU SEDANG MEMBACA
Notice me, Sensei !
RomanceYume Tachibana, gadis polkadot yang jatuh cinta pada guru matematika. Yume gadis yang tertutup, selalu terlihat lelah dan tampak tidak menarik. Menjalani masa sekolah tanpa gairah anak muda, dia melanjutkan hidup seperti sebuah kewajiban hingga suat...