(72) Kucing

43 10 4
                                    

#Ding! Pintu lift terbuka satu lantai di bawah lantai apartemen Yume.

"Oh, Yume!" Nao langsung menggandeng tangan Yume dan memeluk lengannya.

"Hei," Yume menyapa temannya itu.

Senyum merekah di wajah Nao, sudah lama rasanya mereka tidak bertemu padahal mereka tinggal dalam satu atap gedung yang sama. Baik Nao dan Yume sama-sama selalu bekerja hingga larut sehingga tidak punya cukup waktu untuk saling bertemu.

"Aku kira kau sedang keluar kota, soalnya aku sama sekali tidak melihatmu beberapa hari ini."

"Pekerjaanku cukup melelahkan. Bagaimana denganmu?"

"Sangat sangat melelahkan!" Saat itu pintu lift terbuka di lantai apartemen Yume. "Ups! Aku jadi ikutan kesini, tadinya aku memang sedang mencarimu."

"Oh? Ada apa?"

"Teman-teman dari tempatku bekerja mengadakan kencan buta, mereka mengajakku tapi kami masih kurang seorang lagi."

"Eh? Selarut ini?"

"Sebenarnya sudah sejak sore tadi, tapi aku baru saja selesai dari kerja sampinganku yang lain jadi baru bisa menyusul sekarang. Bagaimana?"

Kencan buta pada dasarnya bisa dikatakan sebagai pertemuan acak sekelompok pria dan wanita lajang. Tujuannya bisa beragam, mendapatkan pasangan yang cocok dari kencan buta hanya bonusnya saja.

Yume belum pernah ikut dalam acara kencan buta, sering kali teman-teman sekantornya mengajak Yume untuk ikut serta bahkan jika dia tidak serius mencari pasangan saat itu, namun Yume selalu menolak dengan berbagai alasan.

"Setahuku kau juga belum pernah berkencan, kan? Bukankah ini kesempatan untuk menemukan seseorang, bisa jadi orang itu akan menjadi orang penting untukmu suatu saat nanti."

Orang yang penting untukku... Saat itu bayangan Kazuki melintas dalam benaknya. "Maaf Nao, ada orang yang penting bagiku saat ini," ujar Yume.

Nao terlihat kaget, bukan karena penolakan Yume melainkan karena pengakuan bahwa ada seseorang yang penting baginya. "Aku sangat ingin dengar siapa orang itu, sungguh! Tapi sekarang aku sudah terlambat, sampai ketemu besok?"

"Sampai ketemu lagi besok."

***

"Jangan cari masalah sekarang. Pikirkan proyek pertamamu," kata Kento sambil menahan lengan Yume agar gadis itu tidak berbuat hal bodoh.

"Sensei.... Apa yang kau lakukan bersama gadis itu?"

"Aku... adalah pacarnya."

Ugh!!
Yume terkejut dari mimpinya. Kalimat Kento terngiang-ngiang di kepalanya berbalas-balasan dengan ucapan Kazuki yang menggantung mengenai hubungannya dengan Kanna Mori, putri CEO Crown Mori alias anak bos di kantor Yume.

Merasa gerah, Yume bangkit dari kasur empuknya dan membentangkan tirai jendela selebar-lebarnya. Gedung-gedung tinggi Tokyo menjulang di depannya, jalanan ramai seperti akhir pekan biasanya.

Yume adalah gadis yang terbiasa melakukan segala sesuatu seorang diri. Sarapan sendirian, menonton tv sendirian, berbelanja bahan makanan dan kebutuhan rumah tangganya sendirian, memperbaiki alat-alat elektronik rumahnya sendirian, dan kadang berjalan-jalan sendirian di sekitar komplek apartemennya.

Bagi Yume dia tidak keberatan melakukan semua hal sendiri selama dia mampu melakukannya. Tapi hari itu, dia merasakan lelah yang amat sangat. Menatap orang yang berlalu-lalang, kendaraan yang keluar dan masuk ke gedung apartemen, bahkan hanya melihat gerak awan di langit cerah membuatnya merasa sangat kesepian.

Cahaya matahari masuk melalui pintu balkon, menyinari tanaman-tanaman hias yang dirawat Yume, bergerak lambat nan malu-malu menyinari sofa tempat gadis itu merebahkan diri dengan mata menerawang, sinar matahari semakin memojok semakin hari menjelang sore.

Seharusnya aku meminta nomor ponsel Sensei, gumam Yume penuh penyesalan dalam hatinya.

"...ingat proyek pertamamu." Kata-kata Kento kembali terngiang-ngiang olehnya. "Aaargh! Aku tidak tahu lagi." Yume meredam wajahnya di bantal sofa dengan perasaan tidak menentu. Selama dia belum tahu dengan pasti apa hubungan mereka, Yume tidak bisa melakukan apapun.

Siang berganti malam, Yume menghabiskan akhir pekannya dengan bermalas-malasan, suatu hal yang jarang dilakukannya. Setelah selesai berendam dalam air hangat dan memanjakan pikirannya, Yume baru sadar akan janjinya dengan Nao.

"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif-." Ponsel Nao tidak dapat dihubungi. Setahu Yume, acara kencan biasanya berakhir dengan dua hal, minum alkohol bersama atau satu hal lain yang lebih dewasa.

Yume senang jika Nao bersenang-senang apalagi dia merasa sedikit bersalah karena telah menolak ajakannya semalam. Gadis itu mengenakan hoodie ternyamannya dan bersiap mengunjungi Nao. Mungkin Nao bisa memberiku jawaban yang kuinginkan. Alih-alih jawaban, Yume malah dihadapkan dengan persoalan lain yang cukup berbahaya.

***

Notice me, Sensei !Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang