(50) Kecelakaan

147 21 2
                                    

Bunyi sepatu para petugas damkar beradu sengit dengan teriakan-teriakan komando di depan nyala api yang melahap rumah Kurumi.

"Astaga-"

Para tetangga berdiri menonton peristiwa naas itu. Mobil ambulans datang lebih terlambat dari seharusnya. Kurumi tak terlihat disana.

"Kurumi!"

"Tolong tunggu disini!" Salah seorang petugas damkar menghalangi Kento.

"Dimana Kurumi?" Tanya Kento panik.

"Kami sedang berusaha menyelamatkan para penghuni-"

"Hanya ada Kurumi. Dia sendiri di dalam sana! Biarkan aku masuk!"

Sekali lagi petugas damkar itu tidak membiarkan Kento melewati batas yang ditetapkan. "Tolong tenanglah, kami tidak bisa membiarkan orang lain masuk. Api masih terus menyebar, dan angin malam ini cukup kencang sehingga membuat kami cukup kesulitan."

"Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan temanmu."

Kento melepaskan diri dari petugas damkar itu. Bila matanya memantulkan kobaran api dan asap yang membumbung tinggi tepat di depannya. Berbagai bentuk ketakutan melandanya. Bagaimana jika Kurumi- Tidak mungkin!

"- aku rasa dia terjebak di lantai dua-"

"Sulit untuk naik ke sana dari dalam, tangga-tangganya-"

Mendengar sekilas percakapan itu membuat kaki Kento secara otomatis berlari kembali ke rumahnya. Walau hanya berjarak beberapa kaki dari kobaran api, angin bertiup ke arah yang berlawanan membuat rumah Kento aman dari kebakaran itu. Meski demikian, mereka dianjurkan untuk tidak berada di dalam rumah untuk sementara waktu.

"Hei, sedang apa anak itu?!" Seru seorang petugas damkar saat melihat Kento melompat dari balkon kamarnya dan mendarat diatas balkon kamar Kurumi.

"Hei! Itu berbahaya! Jangan masuk ke dalam sana!"

Kento membuka paksa jendela kamar Kurumi dan masuk dari sana. Dia hanya mengenakan sapu tangan yang telah dibasahi sebelumnya sebagai penutup mulutnya.

"Kurumi!" Kento berseru memanggil nama sahabatnya beberapa kali tanpa ada jawaban.

"Bawakan tangga darurat dibawah sana, aku akan masuk menyusul anak itu!"

"Kuru- ugh! Sialan," umpat Kento. Tangannya melepuh saat menyentuh pintu kamar Kurumi. Dia hendak keluar, namun api yang membakar ubin kayu di luar kamar itu menghentikannya. Dia terjebak.

Kento menutup kembali pintu agar api itu tidak segera menjalar ke lantai kamar Kurumi. Dia kesulitan melihat dan kesulitan untuk bernafas, tiba-tiba seorang petugas damkar menariknya mundur.

"Keluarlah-"

"Lepaskan aku! Aku harus menyelamatkannya!"

"Kami sudah menemukannya!"

"Apa?"

"Kami sudah menemukannya."


***

Haruto dan Yume tiba bersamaan di tempat kejadian. Saat itu api sudah berhasil dipadamkan, mereka langsung menghampiri Kento yang duduk di pintu belakang ambulans.

"Kento!" Seru Yume.

"Dimana Kurumi?" Tanya Haruto.

"Kurumi baik-baik saja?"

"Dia sudah dibawa ke rumah sakit."

Yume dan Haruto saling pandang dengan cemas. "Dia baik-baik saja kan?" Bisik Yume.

Notice me, Sensei !Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang