(47) S.O.S / Ship Or Skip

129 22 2
                                    

"Tunggu!!"

Yume terkejut, suara Kurumi menghentikannya saat dia hendak membuka loker. "Lagi?"

Kurumi mengangguk dengan penuh tekad. "Biarkan aku memeriksanya lebih dulu."

"Bukankah perbuatanmu ini sudah berlebihan?" Tanya Haruto.

Yume mengangguk setuju, bulan telah berganti bulan, kejadian loker berdarah semakin terlupakan, namun Kurumi masih saja was-was seakan kejadian yang sama akan terulang kembali.

Hampir setiap hari sejak saat itu Kurumi tidak pernah membiarkan Yume pergi ke lokernya seorang diri. Walaupun terkesan berlebihan, namun Yume berterima kasih dalam hatinya, itu membuktikan bahwa Kurumi peduli dan selalu mencemaskannya.

"Hei! Apanya yang berlebihan? Sebelum pelakunya tertangkap aku tidak akan berhenti melakukan ini."

"Berhenti saja, sekolah sudah menganggap kasus itu sebagai perbuatan orang usil."

"Selama ini juga tidak terjadi apa-apa, kan?" Timpal Yume.

Kurumi menggigit bibir bawahnya dengan tatapan tidak setuju, "Jadi kita akan menerima semuanya begitu saja? Bukankah ini tidak masuk akal? Mau dipikirkan bagaimana pun tetap saja tidak masuk akal."

Haruto menarik lengan Kurumi agar menjauh dari loker Yume. "Berhenti bertingkah seakan kau hidup dalam novel misteri."

Mereka bertiga berjalan keluar gedung sekolah, suara siswa-siswa kelas satu dengan seragam baru mereka membuat nostalgia. Kelopak bunga sakura beterbangan diterpa angin.

"Senpai?"

Seseorang menyapa mereka, saat berbalik laki-laki itu tersenyum. "Lama tak bertemu, Hijiri Senpai."

"Oh, kau. Lama tidak jumpa." Balas Haruto.

Melihat laki-laki itu mengenakan pakaian judo membuat suasana canggung. Kurumi ingat siswa itu, junior yang ikut dalam pertandingan judo tahun lalu, dia juga ada di dalam ruang ganti gymnasium saat Haruto cedera.

"Senpai, bagaimana keadaanmu?"

"Aku baik, kudengar kau lolos pertandingan babak ini. Selamat, ya."

Junior itu tersipu, "Aku hanya berjuang lebih keras dari biasanya. Karena aku ingin menjadi sepertimu, Hijiri Senpai!"

"Menjadi sepertiku?"

"Oh, maksudku karena aku mengagumimu yang bisa sampai di kejurnas. Tapi tentu aku akan berusaha agar tidak mempermalukan sekolah kita."

"Mempermalukan?" Gumam Yume heran.

Kurumi melotot tidak percaya. "Apa maksudmu itu?"

"Kalau kau, aku yakin pasti bisa." Kata Haruto tak acuh lalu melangkah pergi.

"Hijiri Senpai!!" Junior itu menghentikan langkah Haruto dengan sengaja. "Senpai, apa kau tidak ingin kembali ke klub judo?"

"Kau!-" Kurumi melototinya dan hendak menghardik bocah itu, namun Yume dan Haruto segera menghentikannya.

"Tidak." Jawab Haruto. "Aku sudah lama berhenti."

***

Kurumi dan Haruto melambai kearah Yume yang perlahan menghilang kedalam stasiun bawah tanah. Setelah memastikan sahabatnya pergi, Kurumi langsung menonjok bahu Haruto sekuat yang dia bisa dan berlari meninggalkan Haruto.

"Akh!" Haruto mengaduh dan menatap heran Kurumi yang semakin jauh darinya.

"Untuk apa itu tadi?" Tanya Haruto saat berhasil mengejar Kurumi.

Kurumi kembali melayangkan tinju mungilnya, namun kali ini berhasil ditepis Haruto. "'Kalau kau, aku yakin pasti bisa'!" Kurumi menirukan kalimat Haruto dengan cara yang dilebih-lebihkan.

Haruto berpura-pura menilai cara bicara Kurumi. "Hmm.. Cara bicaraku tidak se-drama itu."

"Memangnya kau ini bodoh atau apa? Jangan hentikan aku kalau ada yang berani bicara seperti itu padamu!"

"Dia hanya mengatakan hal yang sebenarnya."

"Hah??"

"Oke, oke. Lain kali aku takkan menghentikanmu, tapi kalau sampai terjadi sesuatu padanya, aku takkan memaafkanmu."

"Lho? Kenapa aku yang tidak dapat dimaafkan?!"

"Dia itu anggota penting klub judo."

"Persetan dengan klub bodoh itu."

Haruto berhenti. Kurumi menyadari kesalahannya dan ikut berhenti. Dia menghembuskan nafas dengan kesal dan berbalik menghadap sahabatnya itu.

"Dengarkan aku, Haruto Hijiri!" Seru Kurumi lalu mengarahkan telunjuknya kearah Haruto.

"Aku tidak peduli siapa dia! Tapi siapapun yang mengatai sahabatku seperti itu takkan kumaafkan!"

"Berani-beraninya dia berkata seperti itu didepanku. Dasar bocah tengik, akan kucabut gusi merah muda menyebalkan dari senyumannya itu! Akan kubuat bocah sombong itu menyesal telah berkata kasar padamu!"

"Kau..." Haruto menatap serius Kurumi dengan wajah kaku.

Gadis itu menelan ludah menunggu kata-kata Haruto selanjutnya. Apa aku berlebihan? Sepertinya aku sudah berlebihan.

"Mulutmu itu, tidak bisa dikontrol ya? Muncrat air liurmu."

"Lihat?" Haruto menunjukkan lengan kamejanya didepan wajah Kurumi.

"Jangan bercanda!"

"Aduh," Haruto mencoba melindungi bahu dari tinju-tinju Kurumi.

Sejak awal tahun hubungan persahabatan mereka sempat menjadi canggung, mereka saling memisahkan diri dan tidak banyak bicara satu sama lain. Namun saat kejadian loker berdarah, mereka perlahan-lahan kembali membangun hubungan baik, hanya saja semua tidak sama lagi.

Nanami berhenti sekolah dan melanjutkan pendidikan dengan home-schooling di luar negeri, walau awalnya mereka berpikir bisa bertahan, namun perlahan jarak terlanjur tercipta dan tanpa disadari telah memisahkan mereka.

"Akh... Tulangmu keras juga ya, sakit sekali disini."

"Mana ada tulang lunak?"

"Ada kok."

"Cih, jangan membodohiku."

"Ini buktinya." Haruto mencubit kuping Kurumi kuat-kuat.

"Aaaaaagggk!!"

"Sekarang, kita impas."

"Bisa-bisanya memukul perempuan tidak berdaya, kau sebut dirimu laki-laki??"

"Pertama, kau sama sekali tidak 'tidak berdaya'. Kedua, aku tidak memukulmu."

"Ayo," Kurumi menarik lengan Haruto.

"Apa yang kau lakukan? Rumahku arahnya kesini."

"Kuseret kau ke kantor polisi."

"Hah??"

***

Notice me, Sensei !Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang