Angin begitu kencang berhembus menggetarkan pepohonan, menandai datangnya awal bulan terakhir dalam tahun ini. Setiap pergantian musim, setelah daun terakhir musim gugur mencapai tanah, suhu menurun dengan cepat. Sesekali suhu menjadi terlalu dingin sampai-sampai semua orang berpikir akan turun salju di awal Desember. Namun sedingin apapun, salju tak kunjung turun.
Yume merapatkan jaketnya, memasukan kedua tangan dalam saku jaket sambil melangkahi satu persatu besi tangga yang berderit setiap diinjak. Diujung pandangan matanya, langit berwarna jingga, cahayanya memantul hangat. Angin berhembus lagi, seakan memaksa Yume untuk segera masuk berlindung dari amukannya.
"Pergi kau!"
Yume terkejut. Diujung tangga dia melihat pintu flatnya terbuka. Sebuah tas besar berwarna merah gelap dan sebuah kardus berada didepan pintu. Suara benda-benda berjatuhan terdengar dari dalam. Para tetangga mengintip dari cela pintu mereka yang dibuka sekecil mungkin.
"Pergi sana!" Suara Azusa terdengar begitu marah.
Yume melangkah mendekati rumahnya, namun saat dia hampir tiba, langkahnya berhenti. Buku-buku berterbangan dari dalam keluar. Buku-buku ayah. Pikir Yume. Disaat yang sama seorang pria kurus melangkah keluar, mundur perlahan-lahan sambil kedua tangannya berusaha melindungi wajah dan kepala dari benda-benda yang terbang kearahnya.
"Azusa.. Dengarkan aku-"
"Dasar laki-laki tidak tahu diri!" Teriakan Azusa menyertai buku-buku, sepatu dan segala benda yang dikenali Yume sebagai milik ayahnya.
"Ayah?"
Pria kurus itu menoleh. Dia terkejut saat melihat Yume, begitupun gadis itu. Sudah berapa tahun ayahnya menghilang? Tidak lama. Tapi bagi Yume dia seperti telah pergi untuk selamanya. Lalu tiba-tiba dia muncul di hadapan Yume. Angin kencang menggetarkan janggut yang tumbuh liar didagu ayahnya. Matanya cekung dan kehitaman. Yume hampir tidak mengenalinya.
"Yume..." Ayahnya mendekat. Yume melangkah mundur. "Yume? Ini aku. Ini ayah..."
Barang-barang ayahnya masih melayang-layang memukul badannya. Suara Azusa yang mengamuk dan mencaci masih terdengar. Perut Yume menegang, rasanya sulit bernafas saat melihat ayahnya berusaha tersenyum. Senyuman yang sangat asing untuk Yume.
"Berani-beraninya kau kembali!!" Seru Azusa. "Kenapa kau tidak terus menghilang saja sana?! Pergi kau! Pergi!!"
"Yume... Kau masih mengenal ayah, kan?"
Azusa terdiam saat melihat Yume ternyata sudah pulang. Dia tersenyum keji. "Kau lihat dia? Dia sudah kembali! Si keparat ini sudah kembali! Kau pasti senang, ya? Ya! Bagus! Sekarang dia bisa mengambilmu dan pergi dari sini!"
"Azusa, aku hanya datang untuk-"
"Untuk apa?? Kenapa kau tidak menghilang dan mati saja sana?!"
"Aku harus mengambil sertifikat.. Aku butuh uang."
"Apa maksudmu? Kau tidak datang untuk mengambil anakmu pergi?! Aku sudah muak dengannya dan denganmu juga!"
Ayah Yume menatapnya seakan meminta maaf. "Ayah belum bisa membawamu. Tunggulah beberapa saat lagi, Yume."
"Kau laki-laki brengsek! Ayah tidak bertanggung jawab! Suami tidak tahu diri! Mati sana kau!" Azusa kembali melemparinya.
"Azusa tenanglah!" Hardik ayah Yume. "Aku butuh uang! Aku dalam masalah sekarang! Berikan aku sertifikat tanahku! Cepat."
Azusa tertawa, saking histerisnya dia sampai menahan pintu agar tidak jatuh. "Butuh uang?? Sertifikat?? Kau gila?! Kau sudah tidak punya apa-apa lagi disini!!"

KAMU SEDANG MEMBACA
Notice me, Sensei !
RomanceYume Tachibana, gadis polkadot yang jatuh cinta pada guru matematika. Yume gadis yang tertutup, selalu terlihat lelah dan tampak tidak menarik. Menjalani masa sekolah tanpa gairah anak muda, dia melanjutkan hidup seperti sebuah kewajiban hingga suat...