(25) Go Public

210 32 1
                                    

Setelah penolakan, Kazuki tidak berhenti muncul di ruang kepala sekolah untuk meyakinkannya selama beberapa kali. Dia sendiri heran kenapa dia melangkahkan kaki dengan tekad ke ruang kepala sekolah setiap dia melihat kesempatan terbuka untuknya.

Sepuluh hari berturut-turut, Kazuki mencoba meyakinkan kepala sekolah bahkan saat rapat guru. Hingga akhirnya kepala sekolah menyetujui usulan itu.

Berita persetujuan itu menjadi kabar gembira untuk seluruh siswa. Bagai mendapat angin sejuk, mereka langsung bergerak melaksanakan penggalangan dana. Setiap kelas memiliki perwakilan dan dibagi berdasarkan jadwal agar tidak bertabrakan dengan kegiatan sekolah maupun diluar sekolah.

Yume dipilih menjadi salah satu perwakilan kelasnya. Bersama Kurumi dan Kento mereka ditempatkan di stasiun kereta setiap hari rabu sore. Penggalangan dana itu membuahkan hasil dalam waktu yang cukup singkat. Dengan bantuan yang tak berhenti dari seluruh siswa, dana yang terkumpul telah lebih banyak dari target yang ditentukan.

"Inilah bukti kerja keras kita. Aku ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada kalian semua. Tanpa bantuan kalian, kita tidak akan bisa mencapai keberhasilan ini."

Ketua OSIS menyampaikan ucapan terima kasih kepada setiap siswa dalam ruang rapat. Murid kelas 3 itu mengutarakan perasaan haru yang dia rasakan dari kerjasama seluruh siswa.

"Tidak mementingkan apakah kita teman atau saingan. Kita menyingkirkan status antara senior dan junior. Inilah kali pertama para siswa sekolah ini bersatu untuk kepentingan bersama. Sekali lagi, aku mengucapkan banyak terima kasih."

Setiap kata yang dia tuturkan seakan menyentuh sanubari mereka semua, tepuk tangan membanjir dari segala arah saat dia mengatakan bahwa kelebihan dana akan disumbangkan pada kegiatan amal di acara pesta natal. Yume menatapnya dengan kagum, dalam hati Yume tahu dia takkan pernah bisa menjadi seperti itu. Tanpa sadar bahwa Kazuki terus menatapnya sampai suara tepuk tangan mereda.

***

19 November. Pengumuman tema pesta natal siswa dikeluarkan. Seluruh siswa bersemangat saat membaca bahwa pesta natal tahun ini bertema 'Spooky Christmas'. Beberapa diantaranya merasa aneh dan tidak begitu setuju dengan tema yang ditentukan OSIS, tapi sebagian besar siswa merasa wajar bila tema itu dipilih, seakan mereka bisa melakukan dua kegiatan dalam satu acara.

Dalam acara itu mereka mengundang sebuah yayasan panti asuhan dan sekolah dasar khusus untuk siswa yang berketerbelakangan fisik sebagai tamu seperti yang juga dilakukan ditahun-tahun sebelumnya. Bedanya, tahun ini dana amal adalah hasil usaha siswa bukannya anggaran dari sekolah.

"Pasti akan jelek sekali kalau menghadiri pesta natal dengan kostum vampir." Kata Nanami.

Kento mengangguk setuju. "Aku akan memakai kostum mumi. Mungkin aku harus segera mempersiapkan banyak tisu dari sekarang."

"Kalau rambutku dikepang seperti boneka Annabelle tepat dimalam natal, ibuku akan langsung membawaku ke kuil untuk didoakan." Ucap Kurumi.

"Harusnya sudah dilakukan sejak lama." Bisik Kento.

Kurumi menampar pundak Kento dengan buku. "Kalau aku hantu, satu-satunya orang yang akan kuganggu adalah kau!"

"Haruto, Yume, kalian pasti datang, kan?" Tanya Miya.

Haruto mengangkat bahu. "Entahlah."

"Eh??? Kenapa? Kau harus datang! Aku tidak tahan terlihat mengenakan kostum halloween di malam natal sendirian!" Kata Miya sambil memeluk dirinya sendiri, tidak tahan membayangkan pandangan orang-orang padanya.

"Kostum kan tidak wajib." Ucap Haruto dengan santai.

"Hei, apa artinya sebuah tema kalau tidak dianggap serius?"

Notice me, Sensei !Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang