RUN AWAY IMELDA
Sejak masuk ke dalam kamar, Imelda terus merenung memikirkan nasibnya yang kini penuh dengan ancaman. Jika ia diberi kesempatan untuk memutar waktu, Imelda ingin sekali hidup seperti dulu. Walaupun sudah tak ada lagi yang memberinya kasih sayang, setidaknya hari-hari yang dijalaninya akan terasa tentram.
"Ibu, Ayah, Imelda kali ini benar-benar menyerah. Di dunia ini banyak sekali orang jahat, diantara mereka yang punya dendam padaku ada seseorang yang menginginkan nyawaku Ibu. Daripada aku mati di tangan mereka, lebih baik aku yang mengakhiri semuanya sendiri..."
Mata gadis itu terpejam, menikmati udara terakhir yang akan masuk ke dalam rongga paru-parunya. Perlahan Imelda memanjat teralis balkon dengan berpegangan pada besi-besi panjang di sampingnya. Tubuh gadis itu tak bergetar sedikitpun, tekadnya sudah bulat.
Semakin lama memejam, hawa dingin kian terasa sampai ke tulang-tulang. Gadis itu mengerutkan keningnya. "Bahkan malam ini tak terasa hangat secuilpun, menyedihkan sekali," racaunya.
Dalam benaknya gadis itu mulai berhitung mundur dari angka 10, setiap hitungan Imelda akan menaiki celah teralis balkon satu demi satu.
Semakin berkurang angka hitungan, kepalanya mulai mencium adanya kebebasan setelah ini. Kelopak matanya masih terpejam, ia ingin meresapi malam ini dengan sempurna.
Telinganya benar-benar dibutakan oleh hasrat bunuh diri, hingga tanpa sadar seseorang sedang berlari ke arahnya.
"IMELDA!"
Kedua tangan David langsung menggamit perut Imelda, membawa paksa tubuh gadis itu untuk turun dari atas teralis balkon. David semakin mengencangkan pelukannya saat Imelda berontak, hingga gadis itu berhenti melawan.
David menyeret Imelda masuk ke dalam kamar, ia menghempaskan tubuh ringkih gadis itu ke kasur dengan kalap.
Ia mengintimidasi Imelda lewat tatapan tajamnya, tak peduli lagi jika gadis itu didera ketakutan luar biasa.
"Tadi itu bahaya banget Imelda! Jangan bilang lo mau bunuh diri lagi! Untung gue dateng tepat waktu! Lo lupa perjuangan gue bertaruh nyawa dan kehilangan nyawa-nyawa tak bersalah demi lo? Gue udah susah payah nyelametin lo waktu itu Imelda! Lalu apa tadi hah?!" ujar David frustasi, ia mengacak rambutnya kasar.
Imelda diam membisu, tak ada sisa-sia keberanian dalam dirinya untuk menjawab lontaran kata yang keluar dari mulut David.
"Gue udah ninggalin segalanya demi lo Imelda, gue milih lo karena cuma lo yang bisa ngajarin gue artinya perjuangan. Gue sayang sama lo Imelda, apa lo nggak sayang sama gue?" tukas David dengan penuh kekecewaan.
"Kalo lo mau mengakhiri hidup lo kayak tadi, itu berarti lo tega ninggalin gue sendirian hah? Hidup menderita karna orang yang gue sayang lebih milih mati ketimbang njalanin hidup bareng gue?"
"Seakan nggak cukup, semua orang pergi dari gue. Bahkan orang yang gue anggep kakak gue pun pada akhirnya berkhianat, terus lo yang udah gue selametin mati-matian mau pergi juga?!"
"Argh!"
PRANG!
Satu vas bunga menghantam lantai dengan kencang, pecahan belingnya menyebar hingga ke kolong meja.
"Kalau lo mau bunuh diri, kenapa gue nggak ikut lo aja?" ucap David lalu mengambil seonggok beling yang ada di antara kedua kaki, lalu di arahkan ke tangan kirinya.
Imelda terlonjak saat David mengatakan hal itu, kalimat terakhir membuatnya meringis. Ia tidak ingin melihat orang yang ia cintai mati di depan mata telanjangnya.
Mungkin ini yang selama ini David rasakan. Daripada rasa takut yang menjeratnya setiap malam, ia lebih takut kehilangan orang yang dicintainya.
"David, maaf...," lirih Imelda.
Gadis itu beranjak dari kasur, lalu menautkan tangannya pada jemari David yang tengah meremat pecahan beling sampai berdarah.
Imelda menatap David dengan lembut, pria itu menjatuhkan pecahan beling di tangannya.
Tangan gadis itu terulur menyentuh rahang kokoh pria di depannya. Imelda melihat ekspresi yang selama ini tak pernah ia lihat, amarah bercampur keputusasaan.
"Maafin aku selama ini hanya nyusahin kamu, maafin aku yang egois ingin mengakhiri hidup. Aku pikir hanya aku yang merasa tersiksa, ternyata aku lupa. Aku lupa bahwa di depanku ada pria yang selalu menjagaku kapanpun itu...," ucap Imelda dengan senyum jenaka yang sangat David rindukan.
"Kamu nggak salah Imelda, itu semua karna banyak orang yang naruh dendam ke aku," jawab David lalu membawa telapak tangan Imelda untuk diciumnya lembut.
Sikap David melunak, ia mendapatkan apa yang selama ini ia inginkan.
Gadisnya akan kembali menjadi Imelda yang dulu. Sesosok gadis yang senyumnya menjadi candu, kasih sayangnya membuat gejolak hati semakin menggebu.
"Kali ini aku janji, tak ada seorangpun yang bisa menyentuhmu tanpa izin dariku. Bahkan semut pun akan ku injak sampai mati, jika dia berani mengusikmu," tenang David dengan pemanis tambahan di akhir kalimatnya.
"Sejak kapan kamu pandai menggoda? David?" ucap Imelda polos, sambil menaik turunkan alisnya.
David mengerjapkan matanya, ia juga tak tahu kenapa kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
"Persetan dengan itu, aku mau memelukmu sampai pagi." David menubruk tubuh Imelda hingga terasa pas di pelukannya.
"Hei, bagaimana kalau aku mengobati luka di tanganmu dulu?" celetuk Imelda yang sudah berada didekapan David.
"Jangan pedulikan itu, aku menunggu lama untuk ini." David mengeratkan pelukannya, seolah-olah gadisnya akan pergi jika ia lengah satu detik saja.
••••
Ending bukan sih?
Btw malem ini suasana hati mimin lagi kacau banget, ngga tau di part ini feelnya dapet apa engga. Oh iya mimin update di jam 00.00 yah, pas tanggal 22 Mei.
KAMU SEDANG MEMBACA
Run Away Imelda [END]
Novela JuvenilCERITA LENGKAP FOLOW SEBELUM BACA YA TERIMA KASIH ____________________________ Kilas balik mengenai gadis berhijab yang terseret ke dalam jeratan takdir rumit, bersama dengan pria yang tengah berevolusi menjadi seorang mafia. Terombang-ambing di ten...
![Run Away Imelda [END]](https://img.wattpad.com/cover/207488742-64-k784218.jpg)