Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

PART 69. AWAL DARI KEHANCURAN

303 18 3
                                        

RUN AWAY IMELDA

David memasukkan kode password apartemennya dengan tergesa, ia tak sabar untuk melihat gadisnya. Tanpa disuruh, kepalanya terus memikirkan Imelda.

Entah perasaan seperti apa, yang jelas ia belum tenang jika tidak menyaksikan secara langsung bagaimana keadaan Imelda sekarang.

"Syukurlah, lo nggak apa-apa," gumam David ketika sudah berada di samping Imelda yang tengah terbaring lemah di kamarnya.

Ingin rasanya David mencubit pipinya supaya Imelda bangun lalu memeluknya dengan leluasa. Namun, ia tak ingin mengganggunya.

David duduk di tepi ranjang, menggulung lengan kemejanya sebatas siku lalu tercenung.

'Veno, gue tau lo bohong. Mungkin udah saatnya gue ngelepas lo.'

David beranjak ke kamarnya, setelah sebelumnya mengusap pucuk kepala Imelda dengan lembut. Pikirannya terus berkecamuk, antara pekerjaan yang diberikan ayahnya ditambah Veno.

Mungkin sudah waktunya David untuk meluruskan semuanya, mendongkrak penyebab masalah yang tak kunjung usai. Sudah lama David mengetahui bahwa Veno adalah sebuah ancaman, ibarat bom waktu yang dapat meledak kapan saja.

Selama David berada dibawah pengawasan Wijaya, tentu ia tak menyia-nyiakan kesempatan. Disela-sela mengerjakan berkas yang bertumpuk di atas meja kerjanya, David malah membalik keadaan. Mengawasi setiap gerak-gerik Wijaya dengan mata elangnya, seolah sedetik saja ia meleng maka ia akan kehilangan bukti berharga.

Kemarin malam, ia mendengar Wijaya tengah berbincang dengan seseorang diponselnya. Mungkin karena waktu itu sudah larut malam, suara Wijaya terdengar begitu jelas. Walaupun David hanya berdiri di balik celah pintu yang tak tertutup dengan rapat.

"Saya kasih kesempatan sampai besok, kalau kamu masih ingin hidup di dunia ini dengan tenang pergilah secepatnya!"

"Ck? Bawa sekalian gadis itu! Dia nggak pantes buat David. Lagipula, bukannya kamu dulu pernah menculiknya?"

Deg!

David mengepalkan tangannya kuat-kuat, sampai-sampai guratan otot tercetak menonjol dari kulitnya. Panas, itu yang David rasakan.

Ingin rasanya ia menggebrak pintu dan menanyai ayahnya secara langsung. Bukankah ayahnya sudah berjanji untuk tidak ikut campur dalam hidupnya lagi?

Namun logikanya masih berjalan dengan normal, hingga tangan yang sudah terangkat di udara ia turunkan kembali. David menghembuskan nafasnya dengan panjang, ia tidak boleh gegabah dalam menghadapi persoalan ini.

Setegar-tegarnya David, ia juga merasakan sesak. Apa maksud pembicaraan mereka di telepon?

David berlari ke arah pintu ruang kerjanya dengan muka merah menahan amarah, serta air muka yang jelas-jelas sudah sangat masam.

Ia meraih ponselnya lalu menelepon gadisnya, David sangat khawatir. Ia takut jika suatu saat seseorang dari masa lalu itu kembali, menuntut balas atas perlakuan keji David pada saat itu. Ia takut gadisnya yang akan menjadi objek balas dendam.

David kembali dirundung kecemasan saat Imelda tak mengangkat telepon darinya, entah sudah kali ke berapa David mencoba menghubungi Imelda. Hasilnya tetap nihil, ia tak mendapatkan jawaban.

David tak kehilangan cara, ia menghubungi bodyguard yang ia perintahkan untuk mengamankan Apartemennya dari orang asing. Ia terkejut saat mengetahui bahwa bodyguard yang ia perintahkan untuk berjaga, ternyata sudah tidak bekerja untuknya.

David semakin yakin bahwa ada seseorang yang sedang bermain api di belakangnya. Memantik kilatan emosi yang seharusnya padam sejak lama.

Di tengah kekalutan David yang membuat kepalanya berdenyut pusing, Wijaya datang dengan dua cangkir kopi di tangannya.

David menatap ayahnya dengan sengit. Kenapa dalam keadaan seperti ini, Wijaya sempat-sempatnya mengajak anaknya minum kopi.

Wijaya sadar atas perubahan ekspresi David saat melihat dirinya, tapi ia acuhkan saja.

"Cobalah kopi ini, kamu terlihat frustasi sekali dengan pekerjaan ini, haha...," ujar Wijaya dengan gelak tawa di akhir.

'Iya! Frustasi karena Anda!' Ucap David dalam hati.

"Hey! Malah bengong, ayo diminum kopinya, mumpung masih panas." Kembali, Wijaya membujuk David.

"Hmm perlakuan Anda seperti ada maksud tertentu saja," jawab David akhirnya, lalu ia meminum kopi itu tanpa rasa curiga secuil pun.

Disudut yang tak terlihat oleh David, Wijaya menyeringai. Lalu ia pergi dari ruangan kerja David dengan satu cangkir kopi di tangannya.

Setelah mendengar pintu ditutup, David segera memuntahkan kopi yang masih berada di mulutnya. Ia tak ingin terjadi hal buruk jika ia meminumnya. Ia bangkit dari duduknya lalu keluar dengan langkah sangat pelan.

Beruntungnya saat ia keluar, punggung Wijaya masih terlihat. Dengan berhati-hati, David mengikuti kemana pria tua itu pergi. Hingga David menghentikan langkahnya saat Wijaya mengedarkan pandangannya lalu menghampiri seseorang yang memakai hoodie hitam dan topi snapback berdiri memunggunginya.

David sangat penasaran, dengan siapa ayahnya bertemu. Ia melihat Wijaya memberikan secangkir kopi yang ada di tangannya, dan pria itu tanpa sungkan mengambilnya.

Wijaya menuntun pria itu untuk duduk di sofa, lagi-lagi pria itu menurut. David semakin dibuat penasaran, siapa laki-laki berjaket hitam itu?

Matanya melebar saat orang itu melepas topinya, kecurigaan yang selama ini menjadi-jadi terbukti sudah. Alasan kenapa rencananya selalu gagal, terjawab sudah.

David memukul tembok dengan spontan, ia kelepasan. Suatu kemujuran karena keberuntungan masih berada disekitar David, dua sosok itu tak mendengar suara pukulannya.

Mata David memanas melihat orang itu masih bisa tersenyum dan berbicara santai dengan ayahnya. Aura membunuh David sudah tercipta sejak orang itu mulai berkata perihal sebuah janji yang baru David ketahui.

"Om, bagaimana ini, orang itu datang menuntut janji Om lagi," ucap pria itu serius.

"Sepertinya sudah waktunya ya, anak itu apakah kamu benar-benar membimbingnya?" jawab Wijaya dengan raut wajah tak kalah serius.

"Saya lakukan seperti yang Om perintahkan, dia bukan lagi anak kecil ingusan seperti dulu."

"Bagus, berarti janji saya sudah terpenuhi bukan?"

"Iya Om, tapi dia meminta lebih...," ucapan pria itu terhenti.

"Oh ya? Apalagi yang dia minta? Belum puaskah selama ini?" Wijaya mulai kesal dengan kelakuan orang yang sedang mereka bicarakan.

Sementara itu, di balik tembok yang minim cahaya, David menunggu kelanjutan obrolan mereka dengan uring-uringan.

"Dia ingin gadis itu, Imelda!"

Deg!

Jelas sudah siapa yang dimaksud orang itu, kesabaran David benar-benar diambang batas. Ia tak bisa lagi membendung emosinya yang sudah meledak sedari tadi.

David sudah mengambil ancang-ancang untuk melabrak orang itu, menyeretnya, menyiksanya sampai rasa sakit karena dikhianati tak lagi terasa.

Namun lagi-lagi, ada satu hal yang selalu menahannya. Bersabarlah, sabar sedikit lagi saja, mungkin akan ada banyak hal yang akan kamu ketahui lebih dari ini, jika kamu mampu bertahan sebentar lagi.

Kepalan tangannya berangsur mengendur, hati nuaraninya menasehati agar ia bertahan sebentar lagi.

'Veno! Berani-beraninya lo bermain api! Ck! Dikasih hati mintanya jantung! Lihat saja nanti, kalau masih beruntung dan kesabaran gue belum habis, lo masih bisa hirup udara dengan bebas. Tunggu sampai gue mampu terima pengkhianatan dari lo seluruhnya!'

Iya! Orang yang tadi berbicara dengan Wijaya adalah Veno. Pria yang selama ini sudah andil dalam setiap pergerakan David.

To Be Continued
RUN AWAY IMELDA

Happy ending / Sad ending
Comment gays
29 Juli 2020

Run Away Imelda [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang