LA PLATINUM GROUP
Pukul 20.00
Berbagai macam buket bunga menghiasi setiap sudut ruangan tanpa cela, ratusan meja dan kursi sudah tertata senada, serta lampu gantung teronggok di langit-langit gedung dengan sinar bak mutiara.
Salah satu icon yang paling mencolok adalah lembaran karpet merah yang membentang dari atas tangga menuju panggung utama.
Persiapan pesta pertunangan David dan Siska sudah mencapai 75%. Tinggal beberapa dekorasi lagi yang harus dipasang dan sisanya adalah urusan di hari H.
"Pokoknya saya mau pesta ini di desain semewah mungkin, dan saya minta jangan sampai ada satupun kesalahan di pesta ini!" perintah Aditama pada seorang manager pengelola gedung LA Platinum ini.
"Tenang saja Pak, kami sudah memiliki standar ketentuan khusus tentang segala bentuk dekorasi maupun hidangan yang akan kami sajikan dua hari ke depan," jawab sang manager dengan tenang dan elegan.
"Baiklah, saya percaya pada anda. Saya tidak ingin pertunangan putri saya dibanding-bandingkan dengan anak orang kaya lain di kota ini, bisa rusak martabat saya nanti kalo ada kesalahan sekecil apapun."
Aditama berbicara congkak, namun sang manager sepertinya sudah terbiasa menghadapi tipe orang seperti ini.
"Baik pak, serahkan saja semua pada kami."
Suasana di gedung ini sangat ramai oleh karyawan yang bertugas, hilir mudik orang yang sedang membawa alat dan bahan dekorasi tak ada habisnya. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.
••••
Di sisi lain, David sedang duduk memangku kaki. Ia sedang bersama Siska di salah satu butik ternama di kota ini. Sudah satu jam lebih David menunggu Siska, yang tengah sibuk memilih-milih gaun mana yang paling bagus untuk dipakai nanti.
David sendiri sudah menentukan pakaiannya sejak pertama masuk butik ini.
"David, menurut lo bagusan yang mana? Sebelah kanan atau kiri?" tanya Siska sambil menunjukkan dua gaun berwarna merah marun dan navy.
"Terserah lo, dua-duanya bagus...," jawab David datar. Ia ingin segera pergi dari sini.
'Ck! Kalo bukan mama yang suruh, gue nggak bakal mau kesini.'
"Gue pergi dulu, ada urusan," ucap David langsung pergi dari hadapan Siska.
"Ta- Pi- Ah! David!" teriak Siska kesal.
Para pegawai butik yang menyaksikan kejadian tadi, hanya tersenyum kasihan melihat Siska yang ditinggal sendirian oleh David.
••••
David memacu motornya ke sebuah taman kota yang biasa dikunjungi oleh Imelda. Lampu jalan yang nampak temaram membuat beberapa tempat terlihat gelap, rembulan juga nampak tertutup oleh awan.
David memandang kursi kosong itu dengan hati yang teriris, ia menjatuhkan bokongnya kasar.
Biasanya David berada di semak-semak hanya untuk memperhatikan gadisnya dari kejauhan.
'Imelda, dimana lo sekarang? Gue kangen lo', gumam David di tengah dinginnya angin malam.
Lambat laun matanya menutup karna kantuk, alam mimpi segera menyambut kedatangannya.
"Gelap! Seseorang nyalakan lampu!" teriak David dengan teriakan terkencangnya.
Tak berapa lama setelah ia berteriak minta dinyalakan lampu, tiba-tiba ada sepasang suami istri yang nampak begitu pucat tersorot oleh lampu dari atas sana. Pakaian mereka lusuh dan tak terawat, bahkan dapat David lihat dengan jelas baju mereka robek.
David tak mengenal keduanya, mereka adalah sosok yang tak pernah ia kenali sebelumnya. David ingin berada lebih dekat dengan mereka, namun sepertinya ada sebuah pagar yang membatasi pergerakannya.
'Kami minta tolong! Selamatkan anak kami!'
Demi apapun, suara itu terdengar mengerikan di telinga. Bulu kuduk David berdiri kompak, seolah ada yang meniup tengkuknya dengan sengaja.
'Tolong! Tolong! Tolong!'
Berulang kali kalimat 'Tolong' terlontar secara bergantian, suara mereka semakin lama semakin memekakan telinga. Sekuat tenaga David menutupi telinganya dengan kedua telapak tangan, namun hasilnya tetap sia-sia.
'TOLONG ANAK KAMI!'
Itulah kalimat terakhir yang ia dengar, sebelum dua orang asing itu meledak menjadi debu halus yang terbang menuju rongga pernapasan David.
"Hah! Hah! Mimpi apa tadi! Sialan!"
David terbangun dari tidurnya, ternyata ia masih berada di taman kota. Hawa dingin langsung menyergahnya begitu ia melihat keadaan sekitar dan melihat pukul berapa ini sekarang.
"Anjir gue ketiduran!"
David menghampiri motornya, ketika sedang memakai helm tiba-tiba ia teringat mimpinya barusan.
"Ck! Anak siapa coba yang harus gue tolong? Bodo ah, bikin pusing!"
Motor yang ia tunggangi melesat, membelah jalan raya yang sudah lengang. Untuk sekarang ia butuh ketenangan, maka ia harus ke apartemen yang dulu pernah ditinggali bersama gadisnya.
••••
Semenjak hari dimana Imelda pamit untuk pergi, ia tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di Jayatama Highschool. David masih dilanda oleh perasaan bersalah, mungkin saja ketidakhadiran Imelda adalah karena dirinya.
Perhatian David teralihkan ketika dua orang dari kelas sebelas memasuki ruangan bak pasar karna jam kosong ini.
"Permisi kak Siska, kami perwakilan dari organisasi mading JHS mau meminta waktunya sebentar. Apa boleh kak?"
Siska yang semula sedang bergosip dengan dua anteknya menoleh ke sumber suara. Jelas saja ia mau, sebab ia tau tujuan mereka datang ke kelas XII IPS 1 ini.
"Boleh banget dong...," jawab Siska dengan mengibaskan surainya.
"Langsung aja ya kak, Sabtu besok kan Kakak akan dilamar secara resmi oleh Kak David. Bagaimana perasaan kakak sekarang?" tanya Junior itu dengan hati-hati.
"Yang pertama tentu saja bahagia, kalian nanti bakal ngerasain jadi gue kok. Tapi bedanya, gue bakal dilamar sama orang nomor satu di sekolah ini. Pokoknya nggak bisa di ungkapin sama kata-kata deh, haha...," jawab Siska malu-malu. Sebab David sedari tadi ada di sampingnya.
"CIE!"
Satu kelas bersorak ria, mereka cemburu melihat dua sejoli itu sedang diwawancara mesra. Sekilas ada yang aneh, ekspresi David hanya biasa-biasa saja.
••••
Duk duk duk
"Tolong! Bukain pintunya! Tolong!"
Imelda berteriak nyaring, sampai suaranya serak dan tenaganya habis hanya untuk memukuli pintu.
Sudah satu jam lebih ia berteriak, namun sekeras apapun ia menggebrak pintu tak ada tanda-tanda seseorang mau membukakan pintu untuknya.
Lemas, Imelda duduk membelakangi pintu. Ruangan ini benar-benar kosong, tak ada jendela atau ventilasi dimanapun. Hanya ada tembok berwarna putih dan satu pintu yang tinggi menjulang.
Bahkan ia tak bisa membedakan apakah ini sudah siang atau malah sudah larut malam.
Imelda memeluk lututnya gemetar.
TO BE CONTINUED
RUN AWAY IMELDA
Jepara, 6 Februari 2021
KAMU SEDANG MEMBACA
Run Away Imelda [END]
Ficção AdolescenteCERITA LENGKAP FOLOW SEBELUM BACA YA TERIMA KASIH ____________________________ Kilas balik mengenai gadis berhijab yang terseret ke dalam jeratan takdir rumit, bersama dengan pria yang tengah berevolusi menjadi seorang mafia. Terombang-ambing di ten...
![Run Away Imelda [END]](https://img.wattpad.com/cover/207488742-64-k784218.jpg)