CERITA LENGKAP
FOLOW SEBELUM BACA YA
TERIMA KASIH
____________________________
Kilas balik mengenai gadis berhijab yang terseret ke dalam jeratan takdir rumit, bersama dengan pria yang tengah berevolusi menjadi seorang mafia.
Terombang-ambing di ten...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Pah... David bersedia dijodohin sama Siska—"
Wijaya terbelalak, ia tidak salah dengar kan? David? Bersedia?
David bersedia dijodohkan dengan siska? Setelah apa yang Wijaya lakukan pada David, ia bersedia dijodohkan?
"Tapi..." David nampak berfikir.
"Tapi apa nak?" Airy ikut duduk di samping Wijaya.
"Tapi, David cuma minta satu permohonan aja pah, mah," David menatap ayah dan ibunya bergantian.
"Katakan, apa itu?" Wijaya penasaran.
"David minta, papah nggak boleh ikut campur urusan David, dan Satu hal lagi..."
David nampak tegang. "Tolong pah, jangan lukai Imelda, dia nggak salah apa-apa pah..."
Wijaya nampak memberengut tak suka, ia menoleh pada Airy, seolah berkata,
'Gimana ma?'
Airy menganggukan kepalanya. Airy nampak senang dengan permintaan David, tidak apa-apa calon menantunya bukan orang yang berpangkat, asalkan David hidup bahagia dengan pendamping hidupnya kelak.
"Hmm ... baiklah, Papa izinkan kamu sama gadis itu, tapi ingat! Jangan sampai Siska kau sakiti!" seru Wijaya memperingati.
"Iya pah, David janji, sekarang... Imelda dimana pah?" David tak sabar menanyakan keberadaan gadisnya.
Semenjak 2 hari lalu, David uring-uringan memikirkan bagaimana keadaan Imelda. Ia khawatir terjadi sesuatu padanya, dan firasat yang ia rasa sampai ini selalu buruk.
Veno selalu ia bentak, karena tak kunjung mendapatkan informasi dimana keberadaan Imelda. Hal ini juga lah yang membawa David berada di kediaman Wijaya, menggali informasi lebih dalam tentang Imelda.
"Kamu ingat Villa di Bandung?"
"Ingat pah! Dulu waktu kecil kita sering pergi kesana!"
"Gadis itu papah titipkan sama tunangannya," tutur Wijaya.
"Apa!" "Apa!"
David dan Airy sama-sama terlonjak kaget, Airy tak mengira jikalau Imelda telah memiliki tunangan.
"David! Gadis itu sudah bertunangan?" Airy nampak kecewa.
"Enggak mah, dia dipaksa sama bibinya! Semua itu karena papa!" David menuding Wijaya dengan jari telunjuknya.
Airy menatap Wijaya marah, kenapa suaminya selicik itu pada anaknya sendiri?!
"Bener pah? Yang diomongin David?"
Bagaimanapun juga, Wijaya tak bisa berbohong di hadapan istrinya. Wijaya mengangguk.
Airy menghela nafas panjang, bulir yang tadi sudah mengering kini kembali menetes, membasahi gaun biru dongker yang ia kenakan.