CERITA LENGKAP
FOLOW SEBELUM BACA YA
TERIMA KASIH
____________________________
Kilas balik mengenai gadis berhijab yang terseret ke dalam jeratan takdir rumit, bersama dengan pria yang tengah berevolusi menjadi seorang mafia.
Terombang-ambing di ten...
WARNING!! Nb : part ini mengandung unsur kekerasan Harap bijak menyikapinya!
HANYA SEBATAS IMAGINASI BELAKA!!! TIDAK UNTUK DITIRU APALAGI DIPLAGIAT!!!
Hari ini akhirnya tiba, Gue udah ngira bakalan terjadi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BYURR...
Bara diguyur air dingin, agar segera bangun dari pingsannya. Darah yang tadi mengalir dengan derasnya, kini sudah mengering.
Bara mengerjapkan mata, tubuhnya terasa remuk. Belum lagi luka yang tersiram air, mengilukan sekali rasanya.
Namun, bukan David rasanya, kalau apa yang ia inginkan tak segera terpenuhi. Semua harus tunduk pada rencananya. David menekan luka Bara yang masih menganga.
"Ahhh sakit!!"
"Makanya! Ngga usah nyari gara-gara Bangsat!"
Bara akhirnya dapat melihat dengan jelas siapa yang tengah menekan luka di pelipisnya, rasa sakitnya semakin menjadi-jadi.
'Apa ini? Gue nggak bisa gerak anjing!'
David mengikat Bara pada sebuah kursi lipat, dapat di pastikan Bara tidak bisa berkutik.
"Dimana Imelda hah! Lo sembunyiin dimana dia?!" David mencengkeram erat wajah Bara.
Cuhhh!
Bara meludahi David.
"Njing!! Bangsat lo!"
BUK!!
David memukul Bara penuh emosi, lalu mengelap wajahnya dengan lengan bajunya.
"Gue tanya sekali lagi! Dimana lo sembunyiin Imelda!"
Bara tetap tak bergeming, ia malah memalingkan wajah.
"Oke kalau lo nggak mau beritahu dimana dia sekarang—"
Ctik ctik
David menjentikkan jarinya sebanyak dua kali. Datanglah dua orang dengan membawa ember berisi air es.
"Kalo lo masih diem setelah ini, bakal ada punishment yang lebih berat!"
David duduk di kursi yang ada di depan Bara, agak sedikit jauh. Lalu ia menyalakan sebatang rokok yang ia simpan di sakunya.
"Siram." Perintah David datar.
Dua orang yang membawa ember itu, menyiram Bara dengan air es.
Bara nampak masih tenang, tapi saat guyuran dari ember kedua, suara menggigilnya memenuhi ruangan nan luas dan sunyi ini.