CERITA LENGKAP
FOLOW SEBELUM BACA YA
TERIMA KASIH
____________________________
Kilas balik mengenai gadis berhijab yang terseret ke dalam jeratan takdir rumit, bersama dengan pria yang tengah berevolusi menjadi seorang mafia.
Terombang-ambing di ten...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Shuttt... Ini gue Bara, Imelda."
Imelda yang tadi menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan perlahan mendongak.
"Bara?"
Imelda sangat tidak percaya, ia beruntung bisa bertemu Bara saat ini. Bak bertemu dengan sang penyelamat, Imelda tak henti-hentinya bersyukur.
Bara khawatir melihat wajah Imelda yang terdapat lebam, warnanya pun masih memerah dan sedikit membiru.
"Apa ini sakit?" tanya Bara seraya mengusap pipi Imelda yang mulai berubah warna menjadi keunguan.
"Seharusnya aku yang bertanya, lihat luka di wajahmu, sudah mengering kenapa tidak kamu obati?"
Imelda menatap Bara sendu, sarat makna bahwa Imelda sangat khawatir pada keadaan Bara, Bara justru memalingkan wajah. Ia lupa, menanyakan kondisi orang lain padahal dirinya sendiri juga sedang terluka.
"Pakai ini," ucap Bara seraya menyodorkan jaket levis miliknya, mengabaikan pertanyaan Imelda.
Bara tidak ingin gadis di depannya ini kedinginan, lagi pula Bara tidak ingin mata laki-laki memelototi tubuh Imelda. Jangan ditanya lagi, Imelda hanya menggunakan Piyama tipis dan kebesaran.
Keadaan Imelda sungguh miris, matanya sembab dan rambut yang acak-acakan. Beruntungnya Bara bisa mengenali bahwa gadis di depannya ini adalah Imelda.
"Sekarang lebih baik gue nganter lo, ke rumah lo Imelda," celetuk Bara memecah keheningan.
"Iya Bara aku juga udah nggak kuat lagi, badan aku rasanya remuk." Imelda mengadu pada Bara.
"Sekalian ngobatin luka kamu, Bara... Terimakasih kamu lagi-lagi kamu menolongku." sambung Imelda.
"Hmm."
Bara hanya berdehem lalu memberikan helm, Imelda langsung memakainya dan menaiki motor sambil berpegangan pada bahu kiri Bara.
Motor Bara membelah jalan yang dipenuhi oleh pengendara lain dengan kecepatan sedang. Tubuh Bara sebenarnya masih sangat sakit, lebih dari yang dirasakan Imelda. Tapi sifat keras Bara menutupi kesakitannya, sungguh sempurna.
Bara melirik Imelda lewat kaca spion, sedikit raut syok masih tampak di wajah Imelda. Bara mencoba menguatkan Imelda, menarik tangan Imelda untuk melingkari perut Bara. Imelda tidak menolak bahkan mengencangkan pegangannya, Bara tersenyum dibalik helm full face nya.
•••
Setelah mengikuti petunjuk Imelda, akhirnya motor Bara sampai di pekarangan sebuah rumah minimalis sekaligus sederhana. Imelda turun terlebih dahulu, sepertimya ia melupakan sesuatu. Dimana kunci rumahnya? Imelda lupa bahwa semalam ia tidur di mansion David.