PART 14. IMELDA & THE FIVE KILL

876 71 3
                                        

Hadapi saja,
Kamu pantas untuk menggenggam.
—Melianawldr—

Imelda sudah benar-benar menutup hatinya sekarang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Imelda sudah benar-benar menutup hatinya sekarang. Ia sungguh tidak ingin hal itu terulang kembali, membiarkan dirinya diperlakukan buruk oleh seseorang yang bahkan tak berarti sekalipun di hidupnya.

Selain itu, ia tak tega melihat orang yang tidak bersalah menjadi korban keganasan iblis yang sangat kejam. Bara!

Imelda sekarang menjadi pendiam.

Shasya, sahabatnya juga terkena imbasnya. Shasya tidak tahu apa kesalahannya, hingga Imelda menjadi seperti itu. Shasya sudah berulang kali membujuk Imelda untuk menceritakan masalah yang tengah ia hadapi.

Tapi, yang Shasya dapat pasti jawaban; "Aku baik-baik saja sya, jangan khawatir."

Dan selalu diakhiri dengan senyum yang dipaksakan. Sifat keras kepala Imelda membuat Shasya muak, Shasya jengah menghadapi kelakuan sahabatnya ini. Shasya juga sekarang lebih memilih menjauhi Imelda dan bergabung dengan temannya yang lain.

Imelda sebenarnya sedih, tatkala Shasya benar-benar sudah tidak lagi memperdulikannya. Imelda juga tahu bahwa semua ini adalah akibat dari sifatnya yang tidak terbuka dengan Shasya.

Tapi yang sekarang Imelda butuhkan hanyalah; Ketenangan, kesendirian, kesunyian dan juga kegelapan dalam gelapnya takdir yang kini ia jalani.

•••
P

ukul 07.30 WIB
[CAKRA VOCATIONAL HIGH SCHOOL]

Imelda tengah berdiri di depan kelasnya, melihat anak-anak yang baru berangkat sekolah padahal sebentar lagi pintu gerbang akan ditutup.

Gerbang sekolah resmi ditutup, satpam sekolah sudah mengunci gerbang dari dalam.

BRMM... BRMM... TIN! TIN!

Geberan knalpot dan juga klakson dari sekelompok siswa yang tidak tahu diri sangat membuat telinga nyeri, mereka tak mau berhenti sampai pintu gerbang kembali dibuka.

Satpam sekolah yang selama ini dibuat ketar-ketir oleh mereka memilih membuka pintu gerbang. Bukan tanpa alasan, mereka sudah tau siapa kelima murid yang tengah menunggangi motor sportbike itu.

Segera setelah gerbang dibuka, ke-lima siswa itu langsung memasuki halaman sekolah, tanpa merasa bersalah sedikitpun karena telah terlambat.

Mereka disambut dengan suara-suara histeris dari penghuni CAKRA VHS yang memuja ketampanan mereka, bahkan saat mereka memakai helm fullface sekalipun.

Segala macam kehebohan tadi seketika lenyap, begitu David melepas helm fullface-nya.


David memberikan tatapan membunuh ke setiap anak yang berani berbicara dengan nada tinggi, walaupun mereka memuji ketampanannya. Semua pasang mata menunduk, tak ada yang berani memandang David apalagi berbicara sepatah kata pun.

"Heh lo semua yang tadi teriak-teriak! Pasti lo pada ngga tau siapa kita 'kan!" bentak Veno, diikuti seringaian dari Iyan, Aldi, dan Bani yang berturut-turut melepas helm fullface masing-masing.

"Kenapa diem? Takut?!" bentak Iyan melanjutkan.

"Ini peringatan pertama dan terakhir buat kalian! Jangan coba-coba memandangi kami diam-diam kalo sampe kalian ketahuan! Kalian bakal tahu sendiri akibatnya!" giliran Aldi yang mengancam.

"Dan buat lo, lo semua! Yang belum tau kita siapa! Gue kasih tau! Kita ini The Five Kill! Kalian udah tau artinya kan?! Kalo kalian berani menentang peraturan kami, nyawa kalian taruhannya!" Bani menegaskan.

Di balik keadaan yang menegangkan ini, Imelda tengah memperhatikan sekaligus bergidik ngeri mendengar ancaman mereka dari atas. Karena posisi parkiran ada di bawah, sedangkan kelas Imelda berada di lantai dua. Imelda berpikir,

'Pasti tadi yang teriak-teriak anak kelas sepuluh, belum tau aja kalo mereka itu kejam, hiiii.'

Imelda kepergok tengah memperhatikan David. Walaupun jauh, mata David masih berfungsi dengan jelas, bahwa yang dilihatnya adalah Imelda.

Sesaat pandangan mereka bertemu dan David mengeluarkan Smirk-nya. Seolah bisa membaca tatapan David, Imelda langsung menunduk dan memilih masuk ke dalam kelasnya saja.

Imelda duduk dengan gemetar, ujung jilbabnya ia remas dengan kuat, Imelda sangat takut pada David sekarang. Bagaimana tidak, David telah menculik Imelda, menamparnya, menuduh yang tidak-tidak, bahkan hampir saja melecehkannya. Imelda sungguh takut, takut kalau David akan berbuat lebih dari itu.

Jika saja Shasya yang duduk disampingnya ini masih seperti dulu, Imelda pasti akan meluapkan segala keluh kesahnya. Tapi sekarang, Shasya sudah menjauh dari Imelda. Menjaga jarak dan membangun tembok di antara dirinya dengan Imelda. Hal ini semakin membuat Imelda gelisah, ternyata Imelda takut sendirian.

Firasat buruk yang tadi melanda Imelda, sekarang terjawab.

BRAK!

Seseorang membanting pintu dengan kasar, kemudian masuk kedalam kelas XII Akuntansi A. Membuat seisi kelas terlonjak kaget, suasana yang tadinya seperti pasar sekarang hening. Mereka semua menunduk saat mengetahui, bahwa yang sedang berada di kelas ini adalah Bani, anggota The Five Kill. Tidak ada yang berani melihat ke arah-nya, bahkan sang ketua kelas tak berani mencegahnya.

Tap... Tap... Tap...

Langkah kaki yang begitu santai dan berat mengisi kesunyian kelas. Langkah itu semakin mendekat ke arah Imelda, Imelda memilih memejamkan matanya dan berdoa semoga bukan Imeda yang dia cari.

Tapi, kali ini— semesta sedang tidak bersahabat dengannya.

Grep!

Imelda membuka matanya.

Deg!

Yang ia lihat, tangan kekar Bani mencengkram kuat pergelangan tangan Imelda. Gadis itu semakin menunduk, tak berani menatap Bani. Takut yang ia rasakan semakin menggerogotinya kali ini, "Tuhan tolong..."  batin imelda menjerit.

"Ikut gue!"

Dua kata itu mampu membuat Imelda terhenyak, Bani menyeret paksa Imelda keluar. Semua penghuni kelas mematung ditempat, apalagi Shasya.


To be continued
RUN AWAY IMELDA
Januari 2020

Astaghfirullah, petirnya gede banget padahal ngga ujan:' Niat mau revisi cepet jadi lambat, aih.

Run Away Imelda [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang