CERITA LENGKAP
FOLOW SEBELUM BACA YA
TERIMA KASIH
____________________________
Kilas balik mengenai gadis berhijab yang terseret ke dalam jeratan takdir rumit, bersama dengan pria yang tengah berevolusi menjadi seorang mafia.
Terombang-ambing di ten...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
David terus memandang ke depan, tanpa berkedip ia fokus pada satu titik. Makanan yang sedari tadi ia pesan, tak kunjung dihabiskan. Rasa laparnya menguap, seperti air dalam bejana yang diserap sinar sang raja siang.
Empat orang yang tengah duduk di sampingnya saling bersikutan, mereka semakin penasaran. Ada hubungan apa David dengan gadis yang ia bawa tadi siang?
Imelda sesekali celingukan, ia merasa ada seseorang yang sedang memperhatikan.
"Terus-terus, gimana kamu tadi bisa ada disana Sya?" Tanya Imelda penasaran.
"Ah, itu... Tadi pagi Veno ke kelas, masa aku diseret gitu aja, ya aku takut lah, eh pas aku disuruh nunggu di ruangan gelap itu, tiba-tiba kamu muncul, gila... Kaya dejavu aja!" terang Shasya panjang lebar.
"Wah... Berarti, tadi pagi rame dong Sya?!"
"Iyaa... Rame banget pokoknya, kita jadi pusat perhatian..."
Imelda menanggapi cerita Shasya sambil sesekali tertawa, raut muka yang nampak kurang tidur tertutupi dengan semburat kebahagiaan.
Saat Imelda dan Shasya tengah asik berbincang di basecamp milik The Five Kill tadi, David masuk dan mengajak mereka makan siang di kantin sekolah.
Entah kenapa, Imelda meminta David untuk duduk berjauhan saja. Ia lebih leluasa, jika hanya berdua dengan sahabatnya Shasya. Lagi pula, ia sangat merindukannya. Anehnya, David mengiyakan permintaan Imelda.
"Ehemm..." Veno berdehem, David tersadar.
"Kenapa lo? Keselek?" tanya David.
"Ohok-ohok..." Veno langsung tersedak, tangannya mencari-cari minuman di meja. Ia tak mengira, David akan merasa tersindir secepat itu.
"Mi-num..." Veno merengek, sambil memegangi tenggorokannya yang sakit.
"Nih minum," Bani menyodorkan air mineral yang warnanya sedikit memutih.
Glek... Glek...
"Hoekk... Asin... Njirr lo pada!" Veno menyemburkan air yang ia minum.
"HAHAHAHAHAHAHAH..."
Bani, Iyan, Aldi, minus David tertawa terbahak-bahak, mereka berhasil mengerjai Veno.
David acuh, matanya masih terkunci pada satu objek. Hatinya menghangat tatkala melihat gadisnya tersenyum lepas, gadisnya?
'Gue nggak salah ajak lo kesini.'
Batin David membanggakan dirinya sendiri, karena ia telah berhasil membuat senyum hati itu kembali terukir.
Tiba-tiba David meraba bibirnya sendiri, ia mengingat kejadian semalam. Walaupun tak sengaja, namun cukup untuk membuat jantung David bergejolak liar.
Imelda melihat David yang tengah memandang ke arahnya, ia tersenyum riang. Tatapan tajam David seolah tak mempan lagi, ia malah candu akan keteduhan yang ia rasakan saat melihat lebih dalam netra David.