CERITA LENGKAP
FOLOW SEBELUM BACA YA
TERIMA KASIH
____________________________
Kilas balik mengenai gadis berhijab yang terseret ke dalam jeratan takdir rumit, bersama dengan pria yang tengah berevolusi menjadi seorang mafia.
Terombang-ambing di ten...
Berhati-hatilah saat membuat kesepakatan Apalagi menyangkut hati! @Melianawldr
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Mau membuat kesepakatan?"
Suasana mencekam, langsung menghantam atmosfer di ruangan yang mereka tempati.
"Kenapa jadi tegang hah?" Wijaya menatap Siska dan Bara secara bergantian.
"Enggak Om, itu... kesepakatan apa om?" tanya Siska ragu, seraya mengetukkan ujung jarinya ke pegangan kursi.
"Nggak usah takut, kalian udah jadi partner saya mulai sekarang, tapi..."
"Tapi apa Pak Tua?" Bara melipat kedua tangan di depan dada, ia merasakan sesuatu yang janggal.
"Ekhemm..." Wijaya berdehem, baru kali ini ada anak yang berani memanggilnya pak tua.
Siska menyenggol lengan Bara dengan sikunya. "Apa!" tanya Bara, dengan tampang polos tak berdosa.
Wijaya menghembuskan nafas jengah. Baginya, menghadapi dua orang di depannya ini memerlukan kesabaran yang ekstra. Ia menganggap, Bara dan Siska adalah dua anak kecil yang harus di iming-imingi janji manis, jika ia ingin rencananya berjalan dengan lancar.
"Siska kamu suka sama David?" tanya Wijaya terus terang.
Degg Siska terkejut, ia tak mengira bahwa Wijaya akan bertanya langsung seperti ini. Apalagi masih ada Bara di sampingnya.
Aduh gawatt! Gue harus jawab apa nih! Gue tadinya bakal minta papi buat batalin perjodohan ini! Sumpah gue nggak bisa ngebayangin, gimana kehidupan gue sama David setelah pernikahan nanti, gue pasti bakal ngerasain KDRT setiap hari kalo nikah sama David, belum lagi camernya aja nggak punya perasaan! Gimana nasib anak-anak gue nanti, arggggghhhh tidakk!
Siska menggeleng-gelengkan kepalanya, menghapus semua kemungkinan yang akan terjadi kelak.
"Kamu nggak suka sama David?! Siska!" Wijaya marah, matanya melotot, mengira Siska menggeleng karena tidak suka dengan David.
"Ehh... Nggak om! Bukan itu maksud Siska," sergah Siska, sebelum Wijaya berubah menjadi monster.
"Sekali lagi, apa kamu menyukai David?" Wijaya mengulangi pertanyaannya dengan nada sangat serius.
Siska bingung, dia harus menjawab apa.
"Siska... su-suka.. Suka David Om," jawab Siska dengan nada terpaksa, ia tak ingin mengambil resiko buruk yang menimpanya jika ia menjawab tidak menyukai David. Semua kemungkinan-kemungkinan yang menyerbu kepalanya, ia singkirkan jauh-jauh.
"Bagus, saya sudah merestui hubungan kalian, kalian harus terus bersama tanpa adanya batu sandungan," Wijaya menatap nanar vas bunga yang ada di atas meja.
Bara mengerutkan keningnya, ia paham, yang dibilang batu sandungan adalah Imelda.
Wijaya menatap tajam manik mata Bara. "Kamu suka anak pembawa sial itu!?"
Bara mengepalkan tangannya, ia tak terima Imelda dikatakan anak pembawa sial.
"Heh Pak Tua! Dia punya nama!" Bara membela nama Imelda di depan Siska.
"Pak tua! Pak tua! Panggil saya terus pak tua! Maka saya akan memanggil anak itu dengan sebutan pembawa sial!" jawab Wijaya tak terduga.
"Ohh... Jadi Anda nggak suka dipanggil pak tua?" ledek Bara tersenyum miring.
"Ck! Kamu ingin saya hajar juga hah!" Wijaya mengancam dan berdiri dari duduknya.
"Om! Sudah Om jangan dengerin omongannya Om!" Siska menengahi keduanya, dengan rasa cemas yang menjadi-jadi.
Wijaya kembali duduk, dan mengatur pernapasannya yang sempat memburu.
"Jadi kesepakatan apa yang Om tawarkan pada kami Om?" tanya Siska dengan diksi yang tidak menyinggung Wijaya.
Wijaya menatap iris mata Siska yang tengah menunggu jawaban darinya.
"Kamu deketin David, hibur dia selama Gadis itu tidak ada di sampingnya."
"Kalau harus ngehibur David, Om nggak usah khawatir, Siska akan berusaha sebisa Siska Om, tapi..."
"Tapi apa, Siska?" tanya Wijaya gamang.
"Tapi... kayaknya bakal sulit kalo Imelda masih disini Om..."
"Maksud lo!" sergah Bara memotong omongan Siska.
Brakkk
Wijaya menggebrak meja dengan keras.
"Diam kamu!" Wijaya membentak Bara dengan ekspresi menahan amarah yang sudah berada di ujung tanduk.
Bara terkesiap, meski ia ingin melawan, itu hal yang mustahil.
"Dengerin saya ngomong!"
Bara menyimak apa yang dikatakan Wijaya, meski ia memalingkan wajah ke arah lain.
"Saya akan beri kamu fasilitas, asal kamu menuruti rencana saya!"
Bara menoleh, "Maksudnya?"
"Kamu saya beri sebuah villa yang jauh dari kota ini, terserah kamu mau apa disana, yang jelas bawa gadis itu kesana!"
Bara memejamkan matanya dalam, menimang-nimang penawaran yang diajukan oleh Wijaya.
"Apa jaminan saya kalau David tidak akan menemukan kami nantinya?" Bara bertanya balik, tentang kemungkinan yang nantinya akan terjadi.
"Tenang saja, kamu akan saya didik menjadi seorang mafia sejati, kalau David nanti bisa menemukan kalian."
Siska yang menyimak perseteruan ini terbelalak, mafia? maksudnya?
Wijaya keceplosan, membicarakan mafia di depan Siska, yang tidak mengetahui apa-apa.
"Maksud saya, kamu akan saya jadikan anak didik saya mulai saat itu? Bagaimana?" Wijaya segera meralat ucapannya, dan berusaha meyakinkan Bara untuk mengikuti rencananya.
Bara kembali berpikir, lalu ia mengangguk dan mengulurkan tangan kanannya.
"Setuju!" keduanya bersalaman tanda kesepakatan.
Siska yang hanya sebagai penonton, dibuat kebingungan dengan apa yang mereka bicarakan.
Wijaya dan Bara menampilkan smirknya.
"Bawa gadis itu sekarang juga, kami akan bersembunyi selagi kamu membawanya," Wijaya memerintah Bara supaya cepat membawa Imelda keluar dari mansion David.
Pandangan Bara tertuju pada David yang tengah terkapar di lantai, bagaimana kalau nanti Imelda melihat David? Wijaya mengetahui hal itu.
"Disana tidak akan terlihat, cepat pergi ke atas! Gadis itu di kamar David!"
Bara mengangguk, ia mulai berjalan menuju lantai 2 dimana Imelda berada.
"Tunggu!" langkah Bara terhenti.
"Di depan kamar masih ada penjaga, lantai 2 belum diamankan, kamu bisa menghabisi mereka 'kan ?" tanya Wijaya mengejek.
"Cihh! Saya bisa sendiri!" jawab Bara mendecih.
'Dasar pak Tua sok hebat! Awas aja kalo nggak nepatin janji!'
Setelah itu Bara lekas ke kamar atas, dan mendapati Imelda.
'Sesuai rencana,' batin Bara.
>>>FLASHBACK OFF<<<
"Sial!" Bara mengumpati dirinya sendiri, Ia menyesal telah menyetujui kesepakatan yang ia buat dengan Wijaya.