CERITA LENGKAP
FOLOW SEBELUM BACA YA
TERIMA KASIH
____________________________
Kilas balik mengenai gadis berhijab yang terseret ke dalam jeratan takdir rumit, bersama dengan pria yang tengah berevolusi menjadi seorang mafia.
Terombang-ambing di ten...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Eh...," pekik Imelda
"Apa?" David menoleh, ia tak menyadari tangannya dengan lancang menggenggam tangan Imelda.
"Oh... Sorry," ucap David lalu melepaskan tautannya.
"Iya."
"Ya udah, cepet udah siang." David melenggang pergi, ia merasa sedikit grogi jika berhadapan dengan Imelda.
"Tunggu!" Imelda berteriak, David berhenti tepat di depan tangga.
Ia melihat gadisnya tengah mematikan televisi yang tadi ia tonton.
"Njir gue jadi pikun sendiri!" David berdecak kesal, ia menjadi teledor.
Setelah Imelda selesai, mereka kemudian keluar dari apartemen. Tak ada yang memulai percakapan, bahkan di dalam lift pun mereka saling diam.
Saat sampai di basement, David tak membukakan pintu mobil untuk Imelda. Ia sedang tidak fokus akhir-akhir ini.
Tujuan mereka adalah CAKRA VOCATIONAL HIGH SCHOOL.
Sudah lama sekali mereka tidak mengunjungi sekolah. Karena kejadian tempo lalu, yang membuat keduanya harus absen masuk sekolah.
Hari ini, David mengajak Imelda bertemu dengan sahabatnya Shasya. Sedangkan ia sendiri akan menyelesaikan urusannya dengan The Five Kill.
Mobil sport hitam milik David akhirnya memasuki halaman sekolah. Tidak ada satpam ataupun guru yang berani melarang, semuanya tunduk pada kekuasaan.
David turun dari mobilnya, jaket yang ia sampirkan kini ia kenakan. Otot bisep dan trisepnya terlalu menonjol jika tak segera ditutupi oleh jaketnya.
Imelda pun melangkah mengikuti kemana David akan pergi. Sepi, tidak ada siswa-siswi yang berkeliaran di depan kelas maupun di halaman. Semuanya sudah direncanakan oleh The Five Kill.
Imelda berjalan dengan resah, perasaannya sedikit aneh. Semenjak keluar apartemen tadi, sikap David terhadap Imelda benar-benar berubah 90°.
Sikap perhatiannya semalam, seolah lenyap. David kembali bersikap dingin kepadanya, apa salah Imelda?
"Hai dude! Jam berapa ini?!" Sapa Iyan yang pertama melihat kedatangan David.
"Jakarta macet," jawab David singkat.
"Ck... Yang lain udah nunggu di dalem, dan?" ucapan Iyan terhenti kala melihat gadis di belakang David.
"Gak usah banyak nanya, cepet masuk!" David memperingati Iyan, supaya tak menggoda gadis yang ia bawa.
David memutar tubuhnya, ia menatap Imelda dengan alis terangkat.
"Lo harus nurut apa kata gue," terang David penuh penekanan, Imelda hanya mengangguk.
"Ikut gue."
David menarik tangan Imelda, membawanya masuk ke dalam bangunan dua lantai yang berada di belakang CAKRA VHS.