[KEDIAMAN WIJAYA]
Pukul 20.05
Suasana di kediaman Wijaya kali ini mendadak ramai. Karena di meja makan yang panjang itu, ada dua keluarga yang sedang melakukan acara makan malam.
"Wijaya, sepertinya anak kamu mengambil keputusan yang tepat ya," celetuk Aditama yang duduk di kursi paling ujung. Wijaya menghentikan tangannya saat akan mengiris daging di piringnya.
David diam tak bergeming, ia menatap seonggok makanan di piringnya dengan lesu. Apa pilihannya untuk bertunangan dengan Siska adalah pilihan yang salah?
Hatinya terasa kosong dan hampa, ia seakan hilang raga.
"David, kamu serius kan nak, mau tunangan sama Siska?" tanya Airy, ibu David.
Semua orang di meja itu menatap David, menunggunya angkat bicara. Lagi-lagi yang ada hanya keheningan, tak ada jawaban kecuali kecanggungan.
BRAK!
"Mah, Pah, aku pergi dulu." David dengan tak berdosanya pergi begitu saja meninggalkan rumah.
Tak ada yang melarangnya, bagi mereka perginya David adalah jawaban setuju untuk bertunangan dengan Siska.
"Sabar ya sayang. David emang gitu anaknya, suka seenaknya sendiri," ucap Airy menenangkan Siska.
"Nggak apa-apa Tan, udah biasa kok...," jawab Siska sambil memaksakan senyum kepada calon ibu mertuanya.
"Jadi, minggu depan kita gelar pesta pertunangan anak kita dimana?" celetuk Aditama memecah rasa bosan.
"Di gedung LA Platinum saja, keluarga Wijaya sudah biasa mengadakan pesta disana," jawab Wijaya.
Mendengarnya, Aditama tersenyum senang. Gedung LA platinum adalah gedung termewah di kota ini, keluarga yang mampu menyewanya bahkan bisa dihitung dengan jari saking mahalnya biaya sewa.
"Untuk biaya, kalian nggak usah khawatir, kalian tinggal datang saja ke sana," tukas Wijaya dengan bijaksana dan kesombongan tertera di wajah kokohnya.
Aditama tak memperdulikan harga dirinya diinjak, yang penting keluarganya segera terikat dengan keluarga Wijaya. Jadi otomatis, kerjasama bisnisnya akan meluas dengan dahsyatnya.
"Baiklah, kami setuju." jawab Aditama.
•••
[ TAMAN KOTA ]
Pukul 21.05
David merapatkan jaketnya, hawa dingin malam ini terasa sampai menusuk ke tulang-tulang. Bibirnya sedikit pucat, namun tatapan matanya masih setajam elang.
Sudah dua hari ini, David hanya bisa melihat gadisnya dari kejauhan. Setelah keluar dari apartemen kemarin, Imelda bekerja part time di sebuah kedai makanan.
Kebiasaan baru Imelda juga sudah dihafal oleh David. Setelah jam kerja selesai, pasti Imelda akan duduk di kursi taman kota sampai larut malam.
Entah apa yang gadis itu lakukan disana, namun di benak David muncul banyak pertanyaan.
Apa lo masih nunggu jawaban dari gue?
Apa lo kangen sama gue?
Apa malahan lo lagi nunggu orang lain?
David mengepalkan tangannya, lalu menaiki motor hitamnya.
Brum... Brum... Brum...
David menggeber motornya tepat dihadapan Imelda. Mengira David akan menghampiri, Imelda bangun dari duduknya.
"David?" tanya Imelda memastikan dengan wajah lelahnya.
Bruum...
Dalam satu tarikan tangan kanannya, David memacu motornya begitu saja. Meninggalkan Imelda yang terpaku menatap kepergiannya, tanpa sepenggal kata pun.
Bahu Imelda melorot turun, ia terhempas ke kursi dengan kasar. Hatinya kembali terguncang, air matanya luruh sejadi-jadinya.
"Dasar manusia nggak punya hati! Tukang php! Argh gue benci David! Gue nggak mau nunggu lo lagi! Mah, Pah, Imelda mau nyusul kalian aja! Imelda nggak kuat..."
Malam itu Imelda bersumpah untuk tidak menunggu David lagi, hatinya sudah menutup rapat tanpa celah secuilpun untuk David bisa masuk.
Kegetiran Imelda semakin menjadi, saat David datang namun tanpa memberi jawaban.
'Harusnya kalo lo emang nggak suka bilang, biar gue nggak berharap kayak gini... Hiks...'
'Tapi, sikap lo tadi, sangat menunjukan kalo lo emang nggak suka sama gue. Haha, Imelda bodoh! Kenapa dari dulu lo nggak mikir kesana...'
Imelda berbicara pada dirinya sendiri, malam yang terasa dingin seolah lenyap. Terganti dengan aura panas yang bersumber dari dalam hatinya.
Imelda berjalan tak tentu arah, di hatinya terbesit keinginan untuk pulang ke rumah lamanya. Setidaknya, ia bisa menenangkan diri disana.
Raganya lelah ditambah hatinya dua kali lebih lelah, lengkap sudah penderitaannya. Sesekali ia mendongak ke langit malam, kerlipan bintang di atas sana membuatnya iri.
Ia ingin menjadi bintang, yang meskipun gelap akan tetap bersinar dengan pendar pikatnya. Tetapi, ia sadar diri. Kehidupannya tak secantik gugusan bintang di langit.
"Imelda?"
Seseorang mengalihkan perhatian Imelda, sosok laki-laki dengan tubuh tinggi yang nampak tak asing lagi di matanya.
"Fabian?" tanya Imelda tak yakin.
"Iya, ini aku Fabian. Temen se organisasi kamu dulu di CAKRA VHS," jawab Fabian dengan tersenyum.
Imelda tentu mengingatnya, Fabian adalah orang yang memberi perhatian lebih saat DIKLAT SAR dulu.
"Wah, nggak nyangka ya kita bakal ketemu disini," sambung Fabian lagi sebab Imelda hanya diam tak berekspresi.
"Udah selarut ini kenapa masih di luar?" tanya Fabian.
"Eh, itu, aku baru pulang kerja," jawab Imelda gagap.
"Iyakah? Aku sekarang sekolah di JAYATAMA HIGHSCHOOL loh Imelda," celetuk Fabian.
Deg!
Jantung Imelda kembali tak berdetak untuk sesaat, kenapa harus di sekolah itu? Semenjak Imelda keluar dari apartemen David, ia juga memutuskan untuk tidak masuk sekolah lagi.
"Imelda? Kok kamu jadi murung gitu?" ucap Fabian.
"Enggak kok, aku lagi nggak mood aja hari ini," sahut Imelda.
"Sekarang kamu tinggal dimana?" tanya Fabian.
"Deket kok dari sini, aku ngontrak."
"Oh ya? Sama siapa?"
"Sendirian," jawab Imelda terus terang.
"Udah ya Fabian, gue capek mau istirahat...," eluh Imelda.
"Oh iya, maaf ya aku udah ganggu kamu. Kalau gitu aku pergi dulu," ujar Fabian lalu pergi dengan mobilnya.
Di dalam mobil, Fabian tersenyum ganjil. Setitik informasi Imelda tadi adalah salah satu kunci emasnya. Imelda tak sadar jika dia akan berada dalam bahaya.
Tin! Tin!
"Besok-besok boleh kan aku mampir ke kontrakan kamu Imelda?" Dengan kaca mobil separuh terbuka, Fabian berpamitan lagi pada Imelda.
Imelda hanya mengangguk bingung.
Lalu Fabian menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sambil sesekali melirik Imelda lewat kaca spion.
"Kerja bagus Fab!" kata orang yang duduk di kursi penumpang.
TBC
RUN AWAY IMELDA
KAMIS, 26 NOVEMBER 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Run Away Imelda [END]
Novela JuvenilCERITA LENGKAP FOLOW SEBELUM BACA YA TERIMA KASIH ____________________________ Kilas balik mengenai gadis berhijab yang terseret ke dalam jeratan takdir rumit, bersama dengan pria yang tengah berevolusi menjadi seorang mafia. Terombang-ambing di ten...
![Run Away Imelda [END]](https://img.wattpad.com/cover/207488742-64-k784218.jpg)