"IMELDA KELUAR SEKARANG!"
Pagi-pagi buta, ibu pemilik kontrakan menggedor kamar Imelda. Ia tak segan-segan berteriak nyaring tanpa memperdulikan penyewa lain yang masih tertidur lelap.
"Iya bu, sebentar...," ucap Imelda dari dalam kamar.
Klek.
Pintu terbuka, menampilkan seorang gadis yang masih mengucek matanya sepet. Ia masih berpegangan pada dinding agar tubuhnya tak ambruk.
"Ada apa ya bu?" tanya Imelda masih dengan suara seraknya.
"HARI INI KAMU KELUAR DARI KONTRAKAN SAYA! SAYA NGGAK MAU NAMPUNG PEMBAWA SIAL KAYAK KAMU! KALO TAU DARI AWAL, IBU NGGAK BAKAL NERIMA KAMU DISINI! SAYA KASIH WAKTU SAMPE JAM 6, KALO KAMU MASIH ADA DI KONTRAKAN SAYA, KAMU BAKAL SAYA SERET PAKSA KELUAR! NGERTI?!"
Ibu pemilik kontrakan itu berbicara tanpa memberikan kesempatan Imelda untuk bertanya, gadis itu tak tahu kesalahan apa yang telah diperbuat hingga ia diusir dengan cara seperti ini.
Bahkan para penghuni kos lain, tampak keluar dari sarangnya mencari sumber keributan. Imelda hanya bisa menahan malu, ketika para tetangga kamar sebelah mulai bergunjing tentang dirinya.
"Saya ngerti bu, baiklah sebelum jam 6 saya akan keluar," jawab Imelda lemas.
"AWAS KAMU!" teriak wanita paruh baya berperawakan bongsor itu, dengan menunjuk-nunjuk Imelda yang sedang menunduk menahan tangis.
Setelahnya ibu itu pergi, Imelda masuk kembali ke kamarnya. Tubuhnya luruh ke lantai, ia bersandar pada daun pintu dengan lunglai.
"Ya Allah... Apalagi ini? Apa kesalahan yang telah aku lakukan hingga Kau menghukumku seberat ini?"
Imelda membungkam mulutnya, ia menangis dalam kebisuan. Takdir kejam yang terus mengejarnya tiada ampun, bagaikan mimpi buruk yang hadir di dunia nyata tanpa bisa terbangun.
"Mah... Pah... Kali ini Imelda pasrah... Apapun yang akan terjadi, Imelda yakin itulah yang terbaik... Huhu..."
Jerit tangisnya tak tertahankan, kepalanya terasa berdenyut ngilu. Seperti ada jarum yang menusuk-nusuk tiada henti, bahkan tenaganya hampir habis hanya untuk meratapi kesedihannya seorang diri.
••••
Matahari sudah mulai beranjak naik, sekitar pukul 10.00. Imelda duduk di kursi taman, pandangannya kosong. Semangat hidupnya sudah dibabat habis oleh kegetiran takdir.
Ia tengah menunggu seseorang untuk menjemputnya. Keadaan disekitar taman tak ramai seperti biasanya, bahkan tak nampak satu pun pejalan kaki yang melewati taman itu.
TIN! TIN!
seseorang membunyikan klakson mobilnya dua kali, namun Imelda tetap tak bergeming. Sang pengemudi turun dari mobilnya, ia sudah mengira bahwa gadis yang duduk sendirian itu sedang diterpa syok berat.
"Imelda, kamu baik-baik aja?" tanya Fabian cemas. Dilihatnya gadis itu sangat pucat, dengan mata bengkak.
"Ayo masuk ke mobil dulu," ajak Fabian ketika Imelda hanya menatapnya tanpa berniat untuk bangkit dari duduknya.
Fabian membantu Imelda bangun, namun sorot mata Imelda menyuruh agar Fabian melepas tangannya yang merangkul bahu Imelda.
"Ups, sorry...," ucap Fabian, lalu segera melepaskan tangannya yang telah lancang.
••••
Saat sudah di dalam mobil, tak ada percakapan. Imelda hanya menatap keluar kaca, pikirannya entah kemana. Sementara Fabian fokus menyetir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Run Away Imelda [END]
Teen FictionCERITA LENGKAP FOLOW SEBELUM BACA YA TERIMA KASIH ____________________________ Kilas balik mengenai gadis berhijab yang terseret ke dalam jeratan takdir rumit, bersama dengan pria yang tengah berevolusi menjadi seorang mafia. Terombang-ambing di ten...
![Run Away Imelda [END]](https://img.wattpad.com/cover/207488742-64-k784218.jpg)