RUN AWAY IMELDA
Imelda terus memandang David yang tengah sibuk dengan dokumen di tangannya. Merasa diperhatikan, David pun balas menatap Imelda yang duduk di sofa tak jauh dari meja kerjanya.
"Kenapa?" tanya David, mendengarnya Imelda justru menatap objek lain seolah membuang muka. "Ck!"
David meletakkan dokumen yang sedang ia baca, kemudian berjalan menuju gadisnya.
"Aku nggak mau dicuekin," terangnya, lalu duduk di samping Imelda dengan tangan tersampir di sandaran sofa.
"Enggak kok, aku cuma penasaran sama kondisi Shasya. Sekarang dia dimana ya? Kalo nggak gimana nasib Veno yang katanya ngekhianatin kamu? Apalagi keluarga Siska saat kamu lebih milih aku dari pada lanjutin pertunangan kalian?" ungkap Imelda dengan semangat menggebu.
"Bawel banget sih," jawab David.
"Oh satu lagi! Humm gimana nasib Bara? Apa suatu saat dia bisa menculikku lagi?" ucap Imelda, sambil meremas ujung kemeja yang ia pakai. Nada bicaranya mulai bergetar, pandangannya menunduk.
"Atau mungkin...,"
"Sttt."
David langsung membungkam mulut Imelda dengan jari telunjuknya, seolah ia sudah tau apa yang ada di pikiran gadisnya.
"Mau aku ceritakan bagaimana akhir dari mereka?" tawar David, Imelda pun kini berani bertatap muka dengannya.
"Tapi, ada syaratnya," lanjut David dengan raut wajah tak bersalah. Imelda terkekeh sesaat, karena penasaran ia terpaksa menanyakan apa syaratnya.
"Lalu syaratnya apa?"
"Hmm," David nampak berpikir, sambil sesekali menatap Imelda lalu tersenyum lebar. Hal itu membuat Imelda merinding bukan main, apa yang sedang David rencanakan?
"Syaratnya nanti bakal aku kasih tau, tapi sekarang kamu janji dulu," ujar David dengan senyum nakalnya. Ia mengangkat jari kelingkingnya di depan wajah Imelda.
"Mencurigakan!" gerutu Imelda, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Mana mungkin ia setuju begitu saja, kan David belum memberitahu apa syaratnya.
"Tapi kamu penasaran kan?" goda David dengan ekspresi mengejek.
Imelda berfikir sejenak, memang sih ia belum tau syarat apa yang akan diminta oleh David. Tapi rasa ingin tahunya mengalahkan segalanya.
"Yaudah iya aku setuju, tapi nggak aneh-aneh kan syaratnya?" tanya Imelda memastikan.
David menatap lekat gadis dihadapannya ini, lagi-lagi bibirnya terangkat.
"Kita lihat aja nanti," ucapnya lalu menautkan jari kelingking mereka tanda persetujuan. Mungkin bagi orang yang melihat, pasti akan mengira mereka anak kecil yang sedang bermain janji-janjian.
Tiba-tiba David menarik tangan Imelda, membuat gadis itu bersandar pada dada bidangnya. Sementara tangan kanan David merangkulnya.
"Jangan jauh-jauh, nanti kalo ada salah denger bisa jadi sumber salah paham, aku nggak mau itu terjadi." ucap David dengan senyum penuh kemenangan.
Imelda yang terkesiap hanya bisa diam memaku di tempat, padahal semalaman David sudah memeluknya erat sampai dada rasanya sesak untuk bernafas.
Dengan posisi sedekat ini, Imelda bisa mencium bau parfum yang di pakai oleh David. Bahkan debaran jantung lelaki itu dapat didengarnya dengan ritme yang semakin cepat, Imelda mau menoleh ke wajah David namun ia tak berani.
"Kita mulai dari siapa dulu?" tanya David, suara beratnya begitu menggelitik telinga Imelda.
"Shasya!" jawab Imelda antusias.
"Baiklah..."
••••
[FLASHBACK ON]
Saat suasana hati David memburuk, ia memutuskan untuk mendatangi apartemen yang biasa ia tinggali dengan Imelda. Tak disangka saat berjalan di lobby, ia berpapasan dengan Shasya yang hendak membuang sampah.
Dari kejauhan sebenarnya David sudah mengetahui, bahwa sahabat gadisnya sedang berjalan ke luar gedung. Namun ia memilih acuh.
"David!" teriak Shasya dengan raut wajah pucat sekaligus cemas.
"Aku mau ngomong bentar doang, kenapa Imelda nggak pernah masuk sekolah? Kamu tau dimana dia sekarang?" tanya Shasya ragu-ragu.
David memandangnya datar, ia tahu gadisnya sedang dalam bahaya namun ia memilih untuk pura-pura tak mengetahuinya.
"Imelda udah milih jalannya sendiri, dia udah nggak ada hubungannya lagi sama gue." pungkas David sedatar mungkin, Shasya nampak kecewa.
"David aku mohon selamatkan Imelda, tadi aku denger..." ucapan Shasya terhenti saat Veno tiba-tiba datang.
Wajah Shasya berubah pucat dan panik, seolah Veno adalah monster yang datang ingin mencabiknya.
'Sial! Veno!'
David mencoba untuk menahan emosinya sebisa mungkin, ia tahu selama ini Shasa sudah diperlakukan buruk oleh Veno.
Setelah sampai di kamar apartemennya, David segera menelepon orang kepercayaannya untuk menyelidiki Shasya dan Veno.
"Tuan ini hasil penyelidikan kami, sepertinya gadis itu benar-benar tertekan setiap keluar dari apartemennya."
"Baiklah, sebelum kita menjalankan misi penyelamatan Imelda. Saya minta gadis itu di amankan dulu, jangan sampai ada yang tahu rencana ini!"
"Siap Tuan!"
Benar saja. Shasya telah di temukan di apartemennya dalam keadaan terikat di kursi meja makan, dengan darah bercucuran di tangan dan juga kakinya. Bekas sayatan yang sudah mengering juga banyak, Shasya sudah lemah tak berdaya.
[FLASHBACK OFF]
••••
"Veno, bajingan itu malah dateng ke acara pertunangan waktu itu. Tega banget ninggalin Shasya dalam keadaan nyaris kehilangan darah, untung tim gue gercep dateng ke sana." jelas David dengan amarah yang masih ada di dalam matanya.
"Shasya...," Imelda mulai terisak saat mendengar Shasya diperlakukan buruk oleh Veno.
"Udah nggak apa-apa, yang penting sekarang Shasya udah gue balikin ke keluarganya," ucap David menenangkan Imelda.
"Tapi luka-lukanya gimana? Kamu yakin keluarganya bakal memperlakukannya dengan baik?" tukas Imelda.
"Dia udah di tanganin dokter spesialis kulit, mungkin tinggal bekasnya doang sekarang. Kalau urusan keluarga, uang bisa mengatasi segalanya," congkak David.
"Ini semua gara-gara aku!" teriak Imelda, ia memukuli kepalanya sendiri dengan tangannya.
David mencekalnya, ia sudah menebak trauma Imelda belum sepenuhnya hilang.
"Tenanglah," ucap David. Ia merangkum wajah gadis itu dengan kelembutan, memberinya ketenangan lewat netra yang menatapnya dengan penuh keteduhan.
"Semuanya udah baik-baik aja sekarang, Veno udah mendapatkan balasannya. Dia masih hidup namun di tempat antah-berantah yang sangat mustahil bagi orang bisa menjamah tempat itu."
"Aku pikir itu setimpal atas dosa yang telah dia lakukan ke Shasya, anggap saja aku membantu tuhan mempercepat karmanya."
••••
TO BE CONTINUED
RUN AWAY IMELDA
Berhubung hari ini istimewa, update juga harus banyak dong. Sukur-sukur sampe end, mau nggak?
Jan lupa vote yah:*
KAMU SEDANG MEMBACA
Run Away Imelda [END]
Teen FictionCERITA LENGKAP FOLOW SEBELUM BACA YA TERIMA KASIH ____________________________ Kilas balik mengenai gadis berhijab yang terseret ke dalam jeratan takdir rumit, bersama dengan pria yang tengah berevolusi menjadi seorang mafia. Terombang-ambing di ten...
![Run Away Imelda [END]](https://img.wattpad.com/cover/207488742-64-k784218.jpg)