PART 57. DAVID ANEH

257 15 2
                                        

Tok

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tok... Tok... Tok...

Imelda mengetuk pintu kamar David pelan. Hening, tidak ada jawaban.

Tok... Tok...  Tok...

"Masuk aja nggak dikunci," teriak David dari dalam kamar.

Tanpa pikir panjang Imelda membuka pintu dan masuk ke dalam kamar David. Baru saja selangkah, Imelda di kejutkan oleh David yang bertelanjang dada hendak memakai seragamnya. Imelda membalikkan badan.

"Lo nggak mau liat tubuh gue yang sempurna ini?" goda David santai, seketika wajah Imelda merah padam.

"Eng-gak... Aku cuma mau ambil tasku...," tukas Imelda gelagapan. Semalam saat Imelda bangun dari tidurnya, ia lupa membawa tasnya dari kamar David.

"Oh ambil aja, tuh di atas nakas." David memberitahukan dimana letak tasnya.

Imelda kembali membalikkan badan, ia mencari keberadaan nakas yang dimaksud oleh David. Sialnya nakas itu berada persis di samping David. Imelda menelan salivanya kasar. Saat melihat ke arah David, David tengah tersenyum jahil sambil mengerlingkan matanya nakal.

Untungnya David sudah memakai seragamnya, jadilah Imelda tak perlu memalingkan wajah lagi.

Imelda berjalan mendekati nakas, yang artinya ia juga mendekati David.

Saat tangan Imelda akan meraih tasnya yang tergeletak di atas nakas, tangan David menahannya. Imelda mendongak menatap David penuh tanda tanya, ia menoleh ke kanan dan ke kiri.

'Tidak! Kenapa aku berani masuk ke kamar laki-laki ini?'

"Kenapa hmm?"

"Err... Itu... Tasku—" jawab Imelda gugup.

"Pasangin dasi gue dulu," perintah David tegas, ia memberikan dasi yang entah sejak kapan ada di genggamannya kepada Imelda.

Imelda tak yakin apakah ia sanggup melakukannya, berada sedekat ini membuat degup jantung Imelda berdetak lebih kencang. Debaran-debaran aneh kini mulai terasa, Imelda pun bingung sendiri dengan perasaannya.

"Iya aku pasangin..."

Imelda gagap saat mengalungkan dasi ke kerah baju David. Karena perbedaan tinggi yang cukup signifikan, Imelda harus berjinjit.

Sementara itu, David hanya bisa menahan hasratnya, hasrat untuk tidak mencium bibir pink milik Imelda yang terlihat ranum dan sangat menggoda.

Pipi Imelda memanas saat mendapati David memandangnya penuh makna. Tangannya segera menyelesaikan simpulan dasi dengan gemetar.

Satu tarikan dan hup selesai.

Imelda menunduk, ia risih dipandang seperti itu oleh David.

"Mulai sekarang, lo yang bakal pasangin dasi gue setiap hari," tutur David, Imelda memekik tertahan.

Run Away Imelda [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang