CERITA LENGKAP
FOLOW SEBELUM BACA YA
TERIMA KASIH
____________________________
Kilas balik mengenai gadis berhijab yang terseret ke dalam jeratan takdir rumit, bersama dengan pria yang tengah berevolusi menjadi seorang mafia.
Terombang-ambing di ten...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Imelda membaca Isi perjanjian itu sekali lagi, menatap David sekilas lalu kembali fokus pada tulisan yang ada pada kertas.
Isi perjanjian :
1). Pihak kedua harus menuruti pihak pertama. 2). Di pagi hari, pihak kedua harus menyiapkan sarapan untuk pihak pertama. 3). Keduanya berangkat bersama ke sekolah. 4). Di sekolah, pihak kedua dilarang berdekatan dengan anak cowok kecuali pihak pertama boleh mendekati cewek. 5). Kedua pihak harus saling menunggu saat bel pulang berbunyi, jika salah satu pihak mengalami kendala saat pulang sekolah kedua pihak harus saling mengabari. 6). Setiap akan pergi keluar apartemen, pihak kedua harus meminta izin kepada pihak pertama. 7). Tidak diperbolehkan bagi pihak kedua untuk membawa teman ke apartemen 8). Kedua pihak harus merahasiakan tempat tinggal, demi keamanan bersama. 9). Perintah pihak pertama adalah mutlak 10). Tidak ada penolakan!
Kurang lebih seperti itu isi perjanjian yang diajukan oleh David.
David menunggu Imelda selesai membaca perjanjian tersebut, ia nampak penasaran ekspresi apa yang akan Imelda tampilkan.
Imelda mengangguk-anggukan kepala setelah membaca poin-poin yang David tulis, ia meraih bolpoin yang tengah David genggam.
Tanpa ragu, Imelda membubuhkan tanda tangannya di atas materai. David melongo, kenapa Imelda tidak protes sedikitpun?
"Nih giliran kamu yang tanda tangan." Imelda mengulurkan bolpoin dan kertas perjanjian itu ke David, sedangkan David masih cengo atas sikapnya.
"Kenapa?" tanya Imelda polos.
David menggelengkan kepalanya, lalu kembali memasang wajah datar.
"Gue kira, lo bakalan protes sama perjanjian ini," celetuk David seraya mencoretkan tanda tangannya di surat perjanjian itu.
"Aku? Protes? Untuk apa?"
"Lo beneran nggak keberatan gitu?"
"Enggak kok, kan di poin ke 10 bunyinya 'Tidak ada penolakan' kan..."
David mengambil surat tersebut, mencerna kembali apa yang barusan Imelda katakan. Dahinya mengkerut, benar saja tertulis di sana tidak ada penolakan.
"Tau ah," David mengusap wajahnya kasar, Imelda bingung menyikapinya.
Sebenarnya, Imelda juga ingin sekali memprotes isi perjanjian itu. Karena sebagian besar perjanjian itu sangat merugikannya.
Namun, setelah di pikir-pikir, akan sangat tidak berterima-kasih jika ia memprotesnya. Diberi tempat tinggal seperti sekarang saja ia sudah sangat bersyukur, ia sudah tidak punya orang yang bisa dipercayai lagi.
Imelda tersenyum tulus, ia kagum pada orang yang duduk di depannya ini. David yang melihat senyuman gadis itu sebenarnya terpesona. Tapi, Bukan David namanya kalau tidak bisa memakai topeng wajah Datarnya.