PART 70. MENGEJUTKAN

215 14 0
                                        


KELABU. Sepertinya satu kata itu sangat pas untuk menggambarkan warna kehidupan David. Keputusan yang ia ambil selama ini, tak berarti sedikit pun.

Mengira dirinya sudah di ambang batas kesuksesan, ternyata hanya sebuah kedustaan. Perihal janji dan kepercayaan, sekarang terbukti hanya omong kosong belaka.

Di tengah kekalutannya, ia tersenyum masam.

Rasa sesak, rasa kecewa, rasa gelisah kini menghantuinya. Pijar api yang terus membakar hatinya terkobar sempurna. Meratap takdir yang begitu kejam, mengejutkannya dengan kabar pengkhianatan oleh orang kepercayaannya sendiri.

"David stop!"

David kaget dengan ucapan yang memperingatinya, ia tersentak dari lamunannya. Begitu tersadar, David menghempas pecahan kaca yang tengah dirematnya hingga darah segar mengalir sampai mengenai kaosnya.

"Sini!" Imelda duduk di samping David lalu mengambil telapak tangannya dengan cekatan. Kotak P3K ia buka dengan kasar, lalu mengambil botol berisi alkohol.

David menatap kosong tangannya yang tengah diobati, ia tak meringis sedikit pun. Rasa sesak dihatinya lebih menyakitkan ketimbang luka berdarah ini.

"Kamu kenapa sih? Untung aja aku turun ke bawah, kalo nggak..."

"Jangan pergi, Imelda." David memotong ucapan gadisnya.

"Kenapa?"

"Jangan pergi... Gue mohon...," pinta David pada Imelda sekali lagi, tanpa aba-aba ia memeluk tubuh Imelda. Kapas yang tengah ia pegang terhempas entah kemana karena ulah David.

Imelda kebingungan atas sikap David kali ini, ia paham kalau David sedang frustasi. Tapi karena apa, Imelda belum mengetahuinya.

"Jangan pergi...," David semakin mengeratkan pelukannya.

"Iya aku nggak akan pergi, tapi kamu kenapa? David?"

"..."

David tak mengatakan apapun, yang ia butuhkan adalah pelukan dari gadisnya. Seolah dekapannya adalah obat mujarab untuknya, kesembuhan atas kesakitannya.

Imelda membalas pelukan David, laki-laki dihadapannya ini terus mengatakan 'Jangan pergi...'

•••

Imelda masih berada di depan pintu kamar David. Berdiri tepekur, sambil sesekali menatap layar ponselnya. Semalam adalah kedua kalinya, Imelda melihat sosok lain dalam diri David.

Sosok yang begitu putus asa, seolah tak ada lagi harapan yang ia punya. Hingga David mengerang kesakitan dipelukan Imelda.

"Ngapain di depan kamar gue sambil ngelamun? Oh, gue tau lo pasti ngelamunin gue, 'kan? Lupain yang semalem! Gue nggak selemah yang lo pikirin." David murka, mengira Imelda mengasihaninya.

"Ah enggak kok, tangan kamu mana? Udah nggak sakit, apa mau ke dokter?" elak Imelda, ia meraih tangan David yang sudah dibalut kain perban.

"Apaan sih, lepas! Nggak sakit sama sekali bagi gue."

David berjalan mendahului Imelda, tanpa menoleh sedikitpun ia melenggang menuju pintu apartemen. Imelda mengerutkan alisnya, perubahan sikap David sangat drastis.

"David tunggu!" teriak Imelda. David mengurungkan niatnya saat hendak membuka pintu.

Terlihat jelas air muka David yang menunjukkan kegusaran, hal itu juga didukung dengan adanya helaan nafas berat darinya.

"Apa lagi?" tanya David, begitu Imelda berada di depannya.

"Kamu nggak sarapan dulu? Aku udah masak loh...," ucap Imelda ragu.

Run Away Imelda [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang