CERITA LENGKAP
FOLOW SEBELUM BACA YA
TERIMA KASIH
____________________________
Kilas balik mengenai gadis berhijab yang terseret ke dalam jeratan takdir rumit, bersama dengan pria yang tengah berevolusi menjadi seorang mafia.
Terombang-ambing di ten...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jika kau selalu menghindari masalah Kapan masalah itu akan selesai? —Melianawldr—
Imelda keluar dari kosan Bara dalam keadaan menangis, tangan kanannya memegangi sudut bibir yang masih berkedut sakit.
Baru saja kaki kanannya melangkah keluar dari pintu kosan Bara, Ia dikejutkan dengan keberadaan Veno di depannya. Imelda terbelalak, keadaan Veno sungguh mengenaskan.
Bagaimana tidak, lihatlah keadaannya. Rambut acak-acakan, hidung dan sudut bibir mengeluarkan darah segar. Nampaknya Veno, baru saja berkelahi.
"Apa lo liat-liat!" bentak Veno saat Imelda menatapnya intens.
"Nggak usah sok khawatir deh lo! Ini semua gara-gara lo tau nggak! Inget ini baik-baik. Jangan pernah libatin Bara lagi dalam masalah yang nggak pernah ada sangkut pautnya sama dia!"
Ucapan Veno jelas membuat hati Imelda mencelos, ia baru menyadarinya sekarang.
'Benar ucapan veno, ini semua salah aku,' batin Imelda.
"Heh gue serius kali ini! Lo jangan pernah lagi injakkan kaki di kosan ini! Apalagi sampe buat Bara dipukuli lagi!"
"Minggir! Gue mau masuk!"
BRAK!
Tanpa babibu Veno masuk ke dalam kamar kosnya, lalu menutup pintunya dengan keras hingga menimbulkan bunyi berdebum. Meninggalkan Imelda sendirian dengan segala macam pikiran yang berkecamuk di kepalanya.
Imelda menatap pintu kamar kos Bara yang sudah tertutup rapat, tangannya terkepal, air mata yang sedari tadi ia tahan seketika luruh. Imelda menangis sesenggukan.
•••
Keadaan saat itu sepi, tak ada yang berani keluar dari kamar kos masing-masing. Semua sudah diatur oleh David, pria dingin yang benar-benar tak tersentuh. Sekalinya David memerintah maka perintahnya harus dituruti, jika tidak? Ia tak segan-segan menghajar orang yang membantahnya.
Siapa yang tidak takut, baru melihat perawakannya saja sudah membuat tubuh meremang sampai ke sum-sum tulang.
Saat David keluar dari kamar kos Bara, David tidak benar-benar pergi. Melainkan mencari keberadaan Veno. Setelah bertanya (lebih menjurus ke pengintimidasian dengan menarik kerah baju) kepada anak kos yang sedang berjalan sambil mendengarkan earphone dengan santai, padahal anak-anak lain berusaha untuk memperingatinya.
"Dimana Veno!" bentak David pada anak itu, yang ditatap langsung menciut.
"Gue tanya dimana veno!" bentak David lebih keras.
"I-it-itu... Ta-di... Di-Hala-man... Belakang...," jawab anak itu dengan gagap.
Dengan kasar David menghempaskan cengkramannya hingga anak itu terhuyung ke belakang.
"Ngomong gitu doang lama banget si lo! Bilang ke temen-temen lo, jangan ada yang berani ikut campur urusan gue!"
"I-iya."
David segera menuju ke halaman belakang. Semua anak kos tidak ada yang berani mencegah David, mereka tahu David akan berbuat macam-macam pada Veno. Apalah daya mereka tak punya nyali untuk membantah, mereka dibuat trauma tatkala David memukuli Bara habis-habisan kemarin.
Veno yang tengah menjemur bajunya seketika terkesiap, matanya melebar ketika melihat David berdiri nyalang di depannya. Veno sudah siap jika hal ini akan terjadi, ia hanya bisa pasrah menerima apa yang akan dilakukan David.
Sorot mata David menajam, alis tebalnya menyatu, smirk-nya mematikan. Aura kegelapan menguar dengan pekatnya, tangannya terkepal sempurna siap untuk melayangkan tinjuan maut.
Veno memberi kode kepada tiga temannya untuk pergi dari tempat ini, mereka mengangguk paham lalu segera pergi dengan tergesa. Sebenarnya tanpa disuruhpun mereka akan pergi, hanya dengan melihat David datang menghampiri.
Perhatian Veno kembali kepada David, kali ini suasananya begitu menegangkan. Tersisa mereka berdua disini, ekspresi David sudah berubah lebih menakutkan lagi. Matanya melotot, giginya bergemeletuk, rahangnya mengeras.
BUGH!
Dengan sekali pukulan penuh energi dan emosi, Veno terpelanting ke belakang. Hingga posisinya terlentang diatas tanah, hidung dan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
David berjalan mendekat, masih dengan emosi yang menyelimuti dirinya.
"Veno! Lo tau kan Imelda target gue!" ucap David , lalu mencengkram kerah baju Veno.
"Sorry Vid gue terpaksa ngelakuin ini," jawab Veno lemah.
"Ck! Terpaksa lo bilang! Gara-gara lo rencana gue gagal total buat ngedapetin Imelda!" cecar David.
"Rencana lo salah David, 'kan udah gue bilang dia bukan gadis seperti yang lo kira"
"Cih! Nggak usah nasehatin gue anjing!"
Setelah itu David menarik paksa Veno untuk berdiri, memukul Veno bertubi-tubi tanpa ampun. David benar-benar bengis, ia meluapkan emosinya kepada Veno. Hingga tubuh Veno ambruk ke tanah, barulah David berhenti memukulinya. David tak peduli jika korbannya mati sekalipun, kecuali Veno.
Melihat wajah kesakitannya, David iba. Veno merupakan tangan kanannya, ia tidak mau orang kepercayaannya itu mati hanya karena emosi sesaat. David masih bisa berpikir jernih, siapa yang akan menggantikan Veno nantinya.
David memutuskan untuk pulang ke mansion-nya saja. Meninggalkan Veno yang terkapar dengan bekas luka yang memenuhi hampir seluruh wajahnya.
•••
Veno tersadar, hal yang ia rasakan ketika hendak berdiri adalah rasa nyeri di perutnya. Wajahnya pun sama, darah yang sudah mengering serta luka lebam yang ketika tak sengaja tersentuh, rasa ngilu spontan menyergapnya.
Veno mengerang kesakitan, namun ia mencoba untuk menahannya, dengan tertatih Veno berjalan ke kamar kos-nya. Dia khawatir dengan keadaan Bara dan Imelda.