PART 17. LAGI, ANCAMAN

899 67 7
                                        

Apapun selain menepati,

Apapun selain menepati,

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tok-tok-tok

Imelda mengetuk pintu kelas dengan pelan, nafasnya tersengal-sengal, karena berlari dari bangunan itu dengan jarak lumayan jauh. Setelah dirasa cukup tenang, Imelda membuka pintu dan masuk ke dalam kelas.

Imelda mendapati pak Qoharguru matematikanya tengah menjelaskan materi di depan kelas. Semua mata tertuju pada Imelda.

"Maaf pak saya telat," ujar Imelda pasrah jika dihukum.

"Kamu Imelda alaya?"

"Iya pak"

"Tadi kamu udah di izinin tidak ikut pelajaran matematika,  katanya kamu sakit?"

Imelda mengerutkan dahi,
"Aku? Sakit?" batin Imelda. Imelda menatap teman-temannya yang juga bingung. Tetapi dengan cepat Niko, sang ketua kelas menyelamatkan Imelda.

"Imelda! Tadi pagi lo kan ngerasa pusing, makanya lo tadi di izinin ke uks, lo masih sakit ya makanya kamu lupa?!"

Setelah berkata seperti itu, Niko mengedipkan matanya ke Imelda. Imelda menangkap kedipan mata Niko dan sekaligus bersandiwara bahwa ia sebelumnya berada di uks.

"Eh iya pak, saya habis dari uks, kepala saya pusing. Tapi sekarang sudah mendingan, makanya saya ingin ikut pelajaran Bapak."

"Oh, Ya sudah, silahkan duduk."

"Terimakasih pak."

Sebelum berjalan menuju bangkunya, Imelda menatap Niko, berbicara lewat telepati "terimakasih" , Niko paham maksud Imelda dan menganggukkan kepalanya.

Saat sampai di depan meja Shasya, Imelda bingung, apakah Ia akan langsung duduk atau menyapa Shasya terlebih dahulu. Tetapi, Shasya benar-benar tidak melihat ke arah Imelda sama sekali. Shasya sepertinya sengaja memalingkan wajahnya.

Imelda yang tahu kalau Shasya masih benci kepadanya, memilih untuk tidak memperkeruh keadaan. Imelda hanya diam, duduk di sebelah Shasya dan mengeluarkan buku matematika.

Terlepas dari semua itu, Imelda masih memikirkan tentang ucapan David tadi.

"Jangan kabur! Atau Bara mati!"

Deg!

kalimat itu benar-benar memainkan pikirannya sekarang, Imelda tidak konsen sama sekali dalam menerima pelajaran dari pak Qohar.

Argh!

"Apapun selain menepati!" gumam Imelda sambil memegangi kepalanya, yang sekarang menjadi pusing betulan.

Percaya atau tidak, Shasya mendengar gumaman Imelda. Sebenarnya Shasya sangat khawatir pada Imelda, namun ia memilih untuk menahan diri dan menjaga jarak dari Imelda.

•••
Pukul 16.00  WIB

Sudah setengah jam lebih, Imelda berada di depan kelasnya. Menunggu kedatangan David, rasanya hal paling membosankan baginya. Ditambah rasa lelah dan lapar tercampur begitu rata di tubuhnya.

Jika saja David tidak mengancam Imelda, ia pasti sudah pulang sejak tadi. Membayangkan sedang makan, ditemani romantisnya drakor kesukaannya, memeluk bantal minions kesayangannya. Wahh sangat menggiurkan sekali.

Semua khayalan itu sirna, seperti sebuah kaca yang retak kemudian pecah berkeping-keping saat suara berat menginterupsinya dari bawah. Siapa lagi kalau bukan, David.

David sudah berada di parkiran, sedangkan Imelda masih di lantai dua.

"Kesini 10 detik kalo nggak lo tau apa yang bakal gue lakuin!" nada suara David sengaja dikeraskan, supaya Imelda lebih cepat berjalan menuju ke hadapannya.

Dengan bersungut-sungut Imelda lekas berjalan menuruni tangga dan sedikit berlari ke bawah.

Hos-hos

Imelda berlari sampai kehabisan nafas.

"Gitu aja pake ngos-ngosan! Dasar lemah!"  komentar David sukses membuat Imelda mendelik. Tapi, tak bertahan lama saat melihat penampilan David sekarang.

Hiiiii!

David tidak lagi mengenakan seragam sekolah, ia sudah berganti pakaian. David mengenakan setelan serba hitam, dari atas sampai bawah. Mulai dari topi hitam, kaos hitam, jaket hitam, celana jeans hitam, sepatu hitam.

Bahkan kulitnya sangat kontras sekali dengan paduan warna hitam, sangat tampan menurut Imelda. Tapi kali ini, aura gelap semakin bertambah dalam diri David, alias sangar!

"Copot tuh mata lo! Mantengin gue mulu dari tadi!" ujar David pd, Imelda gelagapan karena ketahuan memandangi David secara terang-terangan.

"Ma—af."

"Udah deh maaf buat apa coba! Cepet naik mobil gue sekarang!"

"Hah, mobil? Emangnya mau kemana?"

"Banyak omong lo! Buruan masuk!"

"Terus motor aku gimana?" rengek Imelda.

"Udah gampang motor lo! Nanti gue suruh orang buat nganter ke rumah lo!"

"Cepet masuk!"

Imelda masih berdiri di depan pintu mobil, David yang sudah berada di dalam mobil kemudian turun lagi. Berjalan memutari mobilnya, membukakan pintu mobil dan memaksa Imelda untuk duduk di kursi depan.

"Diem!" satu kata dan pelototan David sukses membuat Imelda diam tak berkutik.

David menstarter mobil ferrari-nya, menginjak pedal gas keluar dari area sekolah yang sudah lengang. Semua anak sudah pulang, maklum jam pelajaran sudah berakhir 30 menit yang lalu.

Imelda memandang keluar kaca jendela. Imelda tidak tahu, apakah David akan berbuat macam-macam atau tidak. David sangat sulit di tebak menurut Imelda.

Situasi saat ini sangat canggung, bahkan kehororan di mobil ini mampu mengalahkan kehororan film jailangkung dua.  Hiiii ngeriiii.

David yang fokus mengendarai mobilnya, tidak memperdulikan Imelda yang sudah bosan karena sedari tadi hanya diam.

Setelah 30 menit berada di jalanan yang penuh kendaraan, David membelokkan mobilnya ke sebuah kompleks apartemen yang begitu megah. Bahkan kepala Imelda terasa sakit saat mendongak melihat ujung apartemen yang tingginya hampir mencapai langit.

Dan pertanyaan yang terus terngiang di kepalanya adalah;

Dimana aku sekarang?! Bersama David?! Bagaimana jika David berbuat macam-macam! Tidakkk!

•••
To be continued
RUN AWAY IMELDA
Januari 2020

Run Away Imelda [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang