"Oke, gue kasih kesempatan ke lo buat mikir. Tapi, menunggu pun ada batasnya!"
—IMELDA ALAYA
______________________________
"Lo milik gue!"
"Hah?" kaget Imelda mati kutu.
"Ya, pokoknya gitu...," ucap David menatap lurus manik mata Imelda.
"Jadi selama ini bener kata Siska, Gue cuma peliharaan lo doang ya, haha. Gue nggak nyangka lo bakal setega itu."
Mendengar kalimat itu, David memijat alisnya menggunakan telunjuk dan ibu jarinya.
"Dari pertama gue kesini, sepertinya gue hanya beban buat lo ya?" telak Imelda, sementara David mulai memicingkan matanya.
"Oh iya, apa lo kasihan sama gue karna ortu gue udah meninggal? Wah kenapa aku nggak mikir kesana ya." David masih diam sembari menatap lekat dan mendengarkan racauan Imelda yang tak seperti biasanya ini.
"Maaf," ucap David.
Imelda berkacak pinggang, lalu menatap David dengan senyum tipis.
"Maaf? Untuk apa?" pancing Imelda.
"..."
"Nggak tau kan minta maaf untuk apa?" David nampak berfikir sejenak.
"Kayaknya emang dari awal tempat gue bukan disini deh, apa gue pergi aja ya...," ucap Imelda mengundang tatapan bengis David.
"Heh!"
David mulai terpancing, ia mulai gelisah. Raut mukanya menandakan tak nyaman dan lelah. Ia takut gadisnya pergi.
"Gue salah ngomong kah?" ucap Imelda.
Cukup. Telinga David sudah memerah.
"Kata-kata lo bikin telinga gue sakit tau nggak," kata David beringas.
"Ya wajarlah, gue butuh alasan. Satu kali lagi, gue tanya kenapa gue harus tinggal disini?"
"Karna...," 'gue butuh lo!'
"Tuh kan! Gue nggak dibutuhin kan disini?" sela Imelda, menatap objek lain selain David.
"Satu kali lagi boleh?" pinta David, kali ini David memandang Imelda penuh harap.
"Mau nggak lo bertahan sebentar lagi di sisi gue? Imelda?" tatapannya berubah nanar dan pandangannya sedikit kosong.
Imelda beranjak dari duduknya, lalu maju satu langkah demi memastikan debaran jantungnya saat berada di depan pria bertubuh tegap ini. Dan sialnya, debaran itu masih terasa sampai sekarang.
"Setiap manusia pasti meminta doa kepada tuhannya untuk diberikan kesempatan kedua. Tapi lo liat sendiri 'kan? Gue bukan tuhan! Oh iya, yang ada di dalam sini juga udah nggak berfungsi. Semenjak lo bilang mau tunangan sama Siska tadi siang," kelakar Imelda runtut dan jelas sambil memegang dadanya yang berdetak kencang.
"Lo nggak tau apa yang gue alamin dan seharusnya lo tau dari awal, kalo Siska bukan orang yang gue suka," jawab David gusar.
"Tapi hanya lo kan yang tau masalah yang lo alamin? Sementara gue? Gue nggak tau sama sekali karna lo nggak ngasih tau itu semua ke gue."
"KARNA GUE NGGAK MAU LO KEPIKIRAN IMELDA!"
David memegang kedua bahu Imelda, raut wajahnya berubah cemas. Ada apa?
Keduanya saling bertatapan cukup lama, hingga salah satunya sadar. Bahwa dia hanya sebuah benalu dalam hubungan percintaan David dan Siska. Ingatannya kembali memutarkan penghinaan dari temannya 'DASAR PELAKOR! LUARNYA AJA YANG BERHIJAB!'
Imelda menggelengkan kepalanya saat mengingat kejadian ketika dirinya hampir tenggelam.
"Selama lo nggak ada di sekolah, gue selalu berharap lo cepet kembali.
"Selama lo nggak di sekolah, gue bertahan dari cacian orang yang nuduh gue sebagai pelakor."
"Selama lo nggak di sekolah, gue sering di bully sampe gue hampir mati gara-gara tenggelem."
"Tapi kenapa pas lo dateng ke sekolah, lo bilang ke semua anak kalo lo mau TUNANGAN SAMA SISKA?! Sama aja mereka buktiin bahwa gue ini memang pelakor David!"
"TUNGGU!" David menjeda ucapan Imelda.
"Tadi lo bilang tenggelem?"
Imelda yang tadi bersungut-sungut langsung diam.
"Nggak usah ngalihin pembicaraan David! GUE MAU PERGI SEKARANG!"
"Hah! Apa?!" bentak David.
David menghalangi Imelda yang hendak keluar dari kamar, rahangnya mengetat kencang.
"Siapa yang udah bikin lo tenggelem." Kali ini David sudah berubah menjadi altar yang mengerikan. Aura hitamnya menguar pekat, itu tandanya ia sedang di ambang batas kesabaran.
"Nggak perlu dibahas, lagian gue juga udah diselamatin sama Veno karna lo nggak ada!"
"Veno?!" Kembali, David menggertakkan giginya.
"Bisa tolong lepas?" ucap Imelda menatap lengannya yang dicekal David.
"Jangan percaya Veno!"
"Kenapa lo selalu ngelarang ini itu?"
"..." 'Karna gue sayang sama lo.'
"Tuh kan, lo mah gitu mulu. Diem nggak mau ngasih tau gue. Sekarang gue mau pergi, jangan halangi gue!"
"Gue takut lo kenapa-kenapa Imelda!"
Hening.
Imelda menatap David ragu, ia sudah tak sanggup lagi menghadapi sikap David yang selalu berubah-ubah.
Ia menarik nafas panjang, kemudian berkata.
"Jadi, lo pilih gue apa Siska?"
Deg!
David terpaku dengan pertanyaan yang dilontarkan Imelda. Separuh hatinya memang sudah berhasil dikuasai Imelda, namun... Ada satu hal yang selalu membuatnya menunda menyatakan cinta pada Imelda.
Yaitu, apakah yang selama ini David rasakan merupakan murni rasa CINTA atau hanya sebatas rasa BERSALAH! karena David adalah penyebab orangtua Imelda meninggal.
Deg! Deg! Deg! Deg!
David memegang dadanya, ia sekarang bingung ketika di hadapkan dengan pertanyaan yang akan menjadi boomerang baginya.
Melihat David yang sedang menunduk, Imelda melunak. Ia tak boleh meledak lagi, sepertinya ia sudah merasa keterlaluan.
'Apa ini? Kenapa aku jadi berani seperti ini? Kenapa aku jadi terobsesi supaya David mengakuiku? Apa aku terlalu arogan? Nggak! Nggak! Gue butuh kepastian! Iya! GUE BUTUH KEPASTIAN!'
"Sepertinya lo bingung banget ya? Apa sesulit itu jawab pertanya dari gue?"
David menatap lekat manik mata Imelda.
"Oke, gue kasih kesempatan ke lo buat mikir. Tapi menunggu pun, ada batasnya!" ucap Imelda tajam dan menusuk.
Ia berjalan meninggalkan David yang diam tak berkedip, kata-kata Imelda barusan berhasil membuatnya berpikir.
TBC
RUN AWAY IMELDA
Selasa, 24 November 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Run Away Imelda [END]
Teen FictionCERITA LENGKAP FOLOW SEBELUM BACA YA TERIMA KASIH ____________________________ Kilas balik mengenai gadis berhijab yang terseret ke dalam jeratan takdir rumit, bersama dengan pria yang tengah berevolusi menjadi seorang mafia. Terombang-ambing di ten...
![Run Away Imelda [END]](https://img.wattpad.com/cover/207488742-64-k784218.jpg)