CERITA LENGKAP
FOLOW SEBELUM BACA YA
TERIMA KASIH
____________________________
Kilas balik mengenai gadis berhijab yang terseret ke dalam jeratan takdir rumit, bersama dengan pria yang tengah berevolusi menjadi seorang mafia.
Terombang-ambing di ten...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah Veno masuk ke kamar kos dan menutup pintu, Imelda berdiri mematung cukup lama disana. Ia tak mampu menahan isak tangisnya, hatinya mencelos. Kata-kata Veno tadi membuatnya sadar, jika dirinya—lah penyebab masalah yang telah terjadi.
Semua pasang mata menatapnya iba, namun tak ada yang berniat untuk menenangkannya. Mereka tidak mau berurusan dengan seorang David!
Imelda mengusap air mata yang mengalir di pipi dengan punggung tangannya. Imelda tersenyum miris, ia segera menuju ke parkiran. Tadi sebelum kejadian Bara dipukuli, Bara sudah memberikan kontak motor Imelda dan memberitahukan bahwa motornya ada parkiran kosan.
Dengan sisa-sisa energi yang dimiliki oleh Imelda, ia menstater motor matic-nya. Imelda harus segera pulang ke rumah mengingat hari sudah mulai petang.
Imelda mengendarai motornya dengan kecepatan diatas rata-rata, meliuk-liukkan motornya dengan gesit. Walaupun dengan kondisinya yang kacau, bukan berarti ia akan ceroboh mengendarai motornya kemudian kecelakaan. Tidak, nyatanya Imelda tetap fokus dan berhati-hati, walaupun pikirannya tidak sepenuhnya berada di jalanan macet ini sekarang.
Sampai dirumah, Imelda segera membersihkan dirinya. Sensasi sejuk sekaligus dingin begitu terasa ketika air dingin menerpa kulitnya, membuat Imelda betah berlama-lama di dalam kamar mandi.
Tapi.
Ada rasa yang mengganjal di hatinya, kata-kata Veno terus terngiang di kepalanya. Bagaikan kaset rusak yang terus berputar tanpa henti.
"Jangan pernah libatkan Bara dalam masalah... Jangan pernah! Jangan pernah...."
Imelda luruh seketika, menangis dalam keheningan. Membiarkan shower menyala, menyamarkan isakan yang keluar dari mulutnya.
•••
Imelda tidak mengetahui, sebenarnya David mengikuti nya semenjak keluar dari kosan Bara. David takut terjadi apa-apa dengan Imelda, meskipun sudah menamparnya. Nyatanya David menyesal, tangannya bergetar sesaat setelah menampar Imelda. Tetapi ego nya terlalu tinggi hanya untuk mengucapkan kata "maaf".
•••
Malam yang dingin ini, seolah melengkapi penderitaan yang dialami Imelda sekarang. Imelda benar-benar menghabiskan waktu berjam-jam di kamar mandi. Seolah tak cukup, Imelda kembali terisak.
Di kamar dengan dominan cat warna kuning gading ini, Imelda tengah memeluk foto yang diambilnya dari atas nakas. Foto itu berisi dirinya yang tengah dipeluk oleh ayah dan ibunya. Difoto itu mereka tersenyum ceria, memancarkan kebahagiaan yang teramat sangat kala itu.
"Mah pah Imelda udah nggak kuat, Imelda mau nyusul kalian aja. Imelda benar-benar takut sendirian mah pah..."
Tangis Imelda pecah, meraung-raung memanggil ibu dan ayahnya untuk kembali.
Tanpa sadar Imelda berjalan ke arah meja, membuka laci dan mengambil sebuah gunting. Rasa putus asanya benar-benar mendorong untuk melakukan bunuh diri. Gunting itu ia arahkan tepat di nadi tangan kirinya. Tinggal beberapa mili lagi, gunting itu sempurna menancap di urat nadinya.
Prangg...
Imelda tak sengaja menyenggol bingkai foto yang tadi diletakkannya asal, Ia mengambil selembar foto yang teronggok di bawah serpihan kaca. Matanya menatap kembali foto ayah dan ibunya, dengan tangan gemetar.
Imelda teringat akan pesan dari ayahnya.
"Kamu harus terus hidup nak, jangan sia-siakan pengorbanan ibu dan ayah ya..."
Tenggorokannya tercekat ketika menyadari gunting yang ia genggam tadi hampir saja membunuhnya, Imelda tersadar dan melempar gunting itu ke meja belajarnya.
Imelda mengucap istighfar berkali-kali kemudian bersyukur karena telah disadarkan untuk tidak melanjutkan tindakan bodohnya tadi.
Setidaknya kata-kata ayah nya itu menjadi motivasi Imelda untuk tetap hidup, walaupun masalah yang ia hadapi semakin sulit.
Iya, betul. Ibu dan ayahnya Imelda sudah meninggal 2,5 tahun lalu. Bertepatan dengan kelulusan Imelda di jenjang SMP.
Imelda masih ingat dengan jelas kronologinya, bagaimana kejadian itu berlangsung begitu cepat.
Imelda ingat betul saat bersama kedua orangtuanya menuju sekolah, menghadiri acara wisudanya. Imelda duduk di kursi penumpang sedangkan ayah dan ibunya di depan.
Ditengah perbincangan yang sangat mengasikkan, tiba-tiba ayah Imelda membanting stir kemudi ke kiri menghindari pejalan kaki yang menyebrang jalan tidak menengok kanan kiri.
Mobil yang ditumpangi mereka pun menerobos pembatas jalan dan menabrak pagar pembatas dengan sangat keras.
Buket bunga yang dibawa Imelda terhempas , Imelda terantuk kursi depan dan akhirnya pingsan. Sementara, darah keluar dari dahi Ibu Imelda dan ayah Imelda pun mengeluarkan darah segar dari pelipisnya.
"Sayang bangun sayang..."
Tangan Ayah Imelda mengelus kepala Imelda dari depan, namun Imelda tak bergeming.
Dengan tertatih, Ayah Imelda berhasil mengeluarkan Imelda dari mobil. Membawa Imelda jauh dari mobil dan membaringkannya.
"Imelda, bangun Imelda..."
Ayah Imelda menangis pilu, putus asa melihat anaknya yang masih tak sadarkan diri.
"Sayang... Kamu harus tetap hidup... Jangan sia-siakan pengorbanan Ibu dan ayah... Kamu harus tetap hidup nak..."
Samar, Imelda mendengar perkataan ayahnya. Imelda membuka matanya.
"Alhamdulillah, nak. Kamu sadar, kamu tunggu disini dulu ya, ayah mau nyelamatin ibu dulu..."
Dalam hati Imelda ingin meminta ayahnya untuk tetap disampingnya, Imelda merasa sangat ketakutan.
Tangan Imelda terangkat, "Ayah jangan pergi..."
Benar saja, apa yang ditakutinya terjadi. Mobil itu meledak saat Ayah Imelda sedang berusaha menyelamatkan ibunya yang masih terjebak di dalam mobil.
Imelda menangis, ingin rasanya Imelda menghampiri mereka. Namun, badannya tak bisa digerakkan.
"Tolong selamatkan ayah dan Ibuku—"
Itulah kata yang diucapkan Imelda sebelum penglihatannya gelap.
Hari yang seharusnya adalah hari yang sangat membahagiakan bagi Imelda, justru berubah menjadi hari paling mengerikan baginya. Orang yang paling dicintainya telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.