CERITA LENGKAP
FOLOW SEBELUM BACA YA
TERIMA KASIH
____________________________
Kilas balik mengenai gadis berhijab yang terseret ke dalam jeratan takdir rumit, bersama dengan pria yang tengah berevolusi menjadi seorang mafia.
Terombang-ambing di ten...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sesuatu yang membuatmu lengah...
Sudah dua hari ini Imelda mengurung diri di kamar, bergelung dengan selimut tebal seharian. ia tampak berantakan. Wajah yang tak henti-hentinya terlihat sendu, raut putus asa senantiasa melingkupinya.
Makanan yang sudah disediakan di atas nakas tak ia sentuh sedikitpun. Ia tak punya selera makan untuk saat ini, bahkan Imelda tidak punya niatan untuk bangun dari tempatnya berbaring.
Ceklek...
Samar, Imelda mendengar pintu kamar dibuka. Suara derap langkah kaki kian mendekat ke arahnya. Imelda memilih untuk memejamkan mata, ketimbang harus melihat siapa yang datang.
"Nggak dimakan lagi?"
Suara berat menginterupsi Imelda, membuatnya terpaksa membuka mata. Pandangannya yang sayu, bertubrukan dengan iris mata tajam yang juga sedang memandangnya.
"Gue suapin ya, nanti lo sakit kalau nggak makan."
Pria yang duduk di bibir ranjang itu, berusaha membujuk Imelda. Tangannya meraih mangkuk berisi makanan di atas nakas, dengan hati-hati ia menyendok bubur yang uapnya masih mengepul.
Baru akan mengangkat sendok, Imelda malah memalingkan wajah dan membalikkan tubuhnya memunggungi si pria. Imelda semakin mengeratkan cengkramannya pada selimut, dan menenggelamkan separuh wajahnya disana.
Pria itu kembali meletakkan sendok dan mangkuk yang ia pegang ke atas nakas. Seperti sudah menebak, jika Imelda akan menolak untuk disuapi. Jari jemarinya terangkat, mengelus pucuk kepala Imelda yang masih terbungkus hijab dari belakang.
"Gue emang udah gila, gue udah gila bawa lo kesini. Iya gue gila karena lo, Imelda."
"Lepas!" bentak Imelda lemah, tangannya menepis tangan Bara yang telah lancang mengelus kepalanya.
Imelda berguling menuju ke sudut kasur, menjauh dari Bara. Dengan sisa energi yang ia punya, Imelda mencoba untuk duduk.
Walaupun rasa pusing dan lemas masih membelenggunya, Imelda berusaha bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Mengabaikan Bara yang masih duduk dengan tenangnya.
Tinggal selangkah lagi ia akan berhasil masuk ke kamar mandi, tangan Bara lebih dulu meraih pergelangan tangannya. Imelda yang tak siap ditarik dengan kencang hilang keseimbangan, dan tubuhnya terantuk tubuh Bara dengan keras.
Imelda takut, takut jika Bara akan berbuat yang tidak-tidak kepadanya. Selama dua hari ini, Imelda selalu menghindari Bara dengan berdiam diri di kamar mandi sampai berjam-jam. Ia baru akan keluar saat terdengar pintu kamar yang ditutup, itu pertanda bahwa Bara sudah pergi, dan Imelda kembali ke kasur, kemudian membungkus dirinya dengan selimut.
"Jangan hindari gue lagi!" ucap Bara tepat ditelinga Imelda.
"Lepasin aku Bara! Aku mau pulang!" Imelda memalingkan wajah dan memberontak supaya Bara lekas melepaskan cekalannya.