PART 40. PERJANJIAN

388 24 0
                                        

Sejak Imelda menaiki mobil dari Bandung tadi, ia tak merasakan apa-apa. Rasa lelah kala itu membuatnya terlelap sepanjang perjalanan.

Ia bahkan baru menyadari saat ia menengok ke sekeliling ruangan, tampak seperti kamar.

"Kamar cewek?"

Segala macam pernak-pernik yang didesain khusus untuk anak perempuan seusianya. Imelda tercengang, dimana ia sekarang?

'Rasanya, nggak mungkin di rumahnya David, apalagi Apartemennya.
Huh, aku harus lihat keluar jendela.'

Imelda bangkit, lalu berjalan pelan menuju jendela yang tertutupi tirai besar. Rasa penasarannya semakin menjadi,

'Ini udah siang apa masih pagi si?'

Imelda menyibak tirai jendela itu perlahan, matanya berbinar.

"Wahhhh ternyata sudah malam, dan lihatlah betapa indahnya pemandangan kota dari sini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Wahhhh ternyata sudah malam, dan lihatlah betapa indahnya pemandangan kota dari sini..."

Imelda memandang takjub dengan apa yang sedang ia lihat, dari atas gedung ini, semua sudut kota nampak tak lengang. Cahaya yang bersinar dari jalanan sana nampak teratur, seperti bongkahan berlian yang tersorot sinar.

"Indah sekali..."

"Baru nyadar ya?"

Ia tak salah dengar kan?
Barusan ada yang mengajaknya bicara?

Imelda menoleh ke belakang, ia menemukan sosok tinggi tegap tengah memandangnya intens sembari meletakkan tangannya di depan dada.

"David?" Imelda memekik.

"Udah bangun lo?! Dasar kebo!" David mengatai Imelda, hahaha.

Bukan tanpa alasan, sejak mereka sampai di Jakarta sekitar pukul 5 pagi, Imelda tertidur pulas. Bahkan saat David menurunkannya dari helikopter, Imelda tetap tak bergeming.

David menyentuh kening Imelda sejenak, ia melengkungkan bibirnya ke atas. Suhu tubuh Imelda dalam keadaan normal, tapi kenapa Imelda tak terganggu sedikitpun?

Tebakan David benar, Imelda kelelahan. Setelah David menelepon dokter pribadinya, ia berkonsultasi tentang keadaan Imelda.

Kata dokter itu, Imelda cukup dibiarkan untuk beristirahat saja.

David menurut, ia menunggu di luar kamar  Imelda. Ia berjalan mondar-mandir sejak sore tadi, mengingat tidak ada tanda-tanda Imelda akan keluar dari kamarnya.

Rasa khawatir David mengalahkan egonya, ia takut terjadi sesuatu di dalam sana, akhirnya David memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.

Dilihatnya Imelda tengah memandang keluar jendela, ia sedikit tersenyum.
David sengaja berjalan dengan pelan, supaya Imelda tak mengetahui keberadaannya.

Saat Imelda membalikkan badan, David mengambil sikap datar andalannya. Sejenak, David dapat merasakan raut keterpanaan Imelda padanya.

Benar saja Imelda terkejut, David mengenakan piyama yang mengetat karena otot bisep dan trisepnya meluber kemana-mana.

Run Away Imelda [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang