Neraka tengah menjelma kenyataan di Kalimantan. Gempa memporak-porandakan rumah-rumah di Nusa Tenggara Timur. Banjir menghancurkan kehidupan orang-orang di Aceh dan Sumatera Barat. Tambang dan emas merusak tanah Papua dari tahun ke tahun beserta orang-orang yang ada di dalamnya. Kebakaran hebat terjadi di Bali. Dan bahkan di sebagian Sumatera, kebakaran membesar dan semakin parah. Maluku juga mengalaminya.
Hanya di Jawa lah, kebakaran hanya terjadi di puncak gunung dan sekitarnya. Terasa aneh dan tak asing bukan? Terlalu banyak orang korup dan berkuasa yang tinggal di Jawa, terutama di Jakarta, itu bukanlah sesuatu yang mengherankan. Kebakaran ada di Jakarta dan itu hanyalah kecil, mudah dipadamkan, terisolir, yang seringkali berupa kasus yang coba dihilangkan dan kejadian yang tak disengaja.
Kadang aku berpikir, orang-orang yang tinggal dan hidup di Jakarta adalah orang-orang yang sangat jahat dan bengis. Saat ibu kota diperindah, dibuat nyaman, semakin terintegrasi dan semua hampir ada, demi kepuasan hidup orang-orang yang ada di dalamnya dengan mengorbankan kehidupan orang-orang di wilayah lainnya. Banyak dari mereka tetap diam. Tak bersuara. Tak bertindak. Banyak dari mereka mendukung penindasan dengan cara menikmati kota itu dalam diam.
Jakarta adalah kanker. Penyakit. Sedangkan orang-orang yang hidup di dalamnya adalah monster. Melihat orang Jakarta sama halnya kamu melihat iblis. Seburuk dan sebusuk itulah orang-orang Jakarta hari ini. Dari pejabat publiknya. Juga para warganya.
Warga Jakarta adalah perwujudan dari egoisme dan kekejian massal. Di abad kita, melihat Jakarta sama halnya kita melihat rumah para iblis. Rumah tempat para setan dan orang-orang buruk berkumpul jadi satu dan menikmati pesta pora kehidupan yang bersumber dari berbagai wilayah di seluruh negara ini.
Tapi anehnya itu tidak hanya terjadi di Jakarta saja. Keburukan itu kian meluas di seluruh Jawa dan bahkan di berbagai wilayah di mana api tengah membara, lava gunung berhamburan dan sisa banjir masih utuh.
Kebakaran, gempa bumi, banjir, gunung meletus, luapan lumpur, bencana tambang, hutan sawit dan terkadang tsunami tak membuat orang-orang memberontak dan mulai menyuarakan ketidakpuasannya dengan cara yang lebih berani, brutal dan lebih jelas.
Sebuah negara yang sangat sempurna bagi kelahiran para diktator di masa depan.
Mereka lebih banyak diam. Sibuk dengan diri sendiri. Ada yang mencoba menyelamatkan hidupnya dari bencana yang terjadi. Ada yang tak terpengaruh sama sekali dan dunia berjalan seperti biasanya.
Seburuk apa pun pemerintah, pejabat negara, preman yang dipelihara, pengusaha dan tokoh agama yang terlibat dengan segala macam kebijakan ngawur pemerintah dan wakil rakyat. Orang-orang tak merasa berkepentingan untuk melawan. Mereka tak memiliki kemauan untuk terlibat dalam perubahan. Apalagi pemberontakan dan revolusi. Hanya segelintir yang mencoba dan itu pun gagal berkali-kali. Nyaris sekadar hal-hal yang lewat bagi mereka yang berkuasa.
Yang bisa mereka lakukan hanya mengeluh. Berharap orang lain yang menyelesaikan masalah itu secepatnya tapi merasa terganggu dengan orang-orang yang mencoba menyelesaikannya. Benar-benar sangat tak tahu malu dan begitu culas.
Beberapa generasi yang sangat buruk. Dari atas sampai bawah. Dari yang tua hingga yang muda. Pemberontakan skala luas dan lebih radikal tak akan terjadi di generasi kita. Semua orang nyaris seperti pecundang. Begitu penakut. Bahkan malah banyak membela penguasa demi uang receh, sedikit kekuasaan dan kebodohan yang sangat emosional.
Kelesuan, kebodohan, kemunafikan dan oportunisme di kalangan masyarakat akan bertahan sangat lama. Sampai tiba waktunya, generasi baru yang lebih sakit, hancur oleh keadaan, yang lebih kritis, lebih susah dibungkam, sangat sulit diatur dan sudah muak dengan para orang dewasa dan tua yang sangat kompromis. Mereka mulai mengangkat senjata, berkumpul dalam lingkaran kecil atau besar. Mencoba melakukan teror, menggulingkan negara atau menuntut kemerdekaan.
Mereka begitu sangat bencinya dengan orang-orang korup yang menguasai hampir semua hal penting yang ada di negara. Pada akhirnya mereka pun memberontak.
Salah satu dari mereka akan menjadi orang pertama yang mencoba membunuh presiden. Meledakan rumah para menteri yang korup. Menghabisi nyawa para pengusaha. Atau menyandera hakim agung yang dinilai buruk dan tak adil.
Mereka akan berseberangan dengan para polisi dan tentara. Sebagian darinya bahkan menjadi buronan negara yang memiliki jaringan multinasional.
Mereka mengkritisi generasi terdahulu sebagai tua bangka yang payah, pengecut, munafik, penuh omong kosong, bodoh dan sangat korup. Bahkan mereka mengkritik orangtua mereka sendiri dengan cara yang kejam, lebih brutal dan sangat terus terang.
Moralitas hidup mereka adalah kebenaran yang keras dan logika yang mempertanyakan semua hal yang bahkan para orangtua mereka sendiri kewalahan untuk mengatasinya; para orangtua yang hidup dalam status quo dan kebohongan nyaris setiap harinya hanya untuk sekadar bertahan hidup.
Mereka akan datang tak lama lagi. Para anak muda yang muak dengan semua kehidupan yang mungkin. Tapi, sekarang ini belum saatnya. Masyarakat masih dipenuhi oleh orang bodoh yang hanya sekadar ingin hidup. Para aktivis yang masih mencoba memercayai demonstrasi. Para tokoh publik yang sibuk melakukan penggalangan dana untuk mengatasi bencana tapi tak berani berkonfrontasi dengan pemerintah dan aparat secara langsung. Para akademi dan ahli yang hanya sibuk berdebat. Para ahli hukum yang kapitalis. Dan begitu banyaknya orang yang tak tertarik dan merasa berkepentingan.
Beberapa sibuk berpindah dan membawa luka dan kekecewaan mereka ke negara lain tapi tak menyelesaikan masalah di negara yang ditinggalkannya. Mereka kabur sebelum masalah menjadi kian buruk. Mayoritas hanya bisa berisik di media sosial tapi tak melakukan apa pun yang nyata.
Presiden dari pemilu ke pemilu berikutnya menjadi kian bodoh dan korup. Tak ada yang bisa diharapkan dari lingkaran kekuasaan yang sangat tuli, masa bodoh, anti kritik dan menganggap remeh orang-orang pintar. Hingga suatu saat nanti, yang korup berubah menjadi diktator. Seorang diktator yang akan menginspirasi tiran terbesar yang lahir demi mengatasi berbagai pemberontakan dan perpecahan yang terjadi di banyak wilayah secara bersamaan.
Para aktivis dan mahasiswa yang masih takut cibiran tetangga. Masih tak mau melibatkan orangtuanya. Yang langsung ciut jika keluarganya diteror. Begitu ketakutan jika kehilangan pekerjaan. Mereka kelak akan dikenal sebagai generasi yang menjadi bukti dari kegagalan ekstrem beberapa generasi sekaligus. Beberapa dekade kegagalan dan kepengecutan yang akan dikenal sebagai masa-masa terburuk dan memalukan. Lalu para warga negara yang hidup layaknya parasit dan masa bodoh dengan semua hal kecuali dirinya sendiri dan keluarganya saja.
Beberapa generasi yang secara tak langsung membiarkan semuanya rusak dan secara gamblang mempersilahkan para diktator di masa depan berkuasa.
Sebelum kegilaan meledak di masa depan yang dekat. Rakyat di negara ini bahkan tak tertarik berbuat sesuatu di saat hutan terbakar hebat dan banjir meluluhlantahkan banyak hal yang dilewatinya. Banyak orang memilih diam. Menghindar. Tak mau turun dan terlibat. Mencari aman dan sangat keterlaluan pengecut dan abai. Beberapa generasi yang paling memalukan dalam sejarah berdirinya negara ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Non-Fictionapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
