##Bab 2 Toilet Kamar Anda Tersumbat

911 42 1
                                    

"Kamu bukan suamiku?" Febi menatap pelayan di depannya dengan bingung. Suara mabuknya itu terdengar sangat lembut di malam hari, "Kenapa ... kamu mencariku?"


Pelayan itu memperlihatkan senyum profesional dan menjelaskan dengan rasa bersalah, "Maaf Nona, mengganggu Anda selarut ini. Toilet di kamar ini tersumbat dan belum selesai diperbaiki. Resepsionis kami membuat kesalahan dan memberimu kamar ini!"

Febi hanya melambaikan tangannya dan berencana untuk mengatakan tidak apa-apa, tetapi pelayan itu kembali berbicara dengan lembut, "Untuk menebus kesalahan kami, manajer kami telah meningkatkan kamar Anda menjadi kamar suite dengan pemandangan laut. kalau Anda tidak keberatan, silakan kemasi barang-barang Anda. Saya akan mengantarmu ke sana."

"Oh, baik .... Tidak masalah ...." Sebenarnya Febi tidak mendengar jelas apa yang dikatakan pelayan itu, dia hanya mengangguk dengan bingung.

Karena dia sedang mabuk, dia tidak punya pilihan selain melakukan apa yang diperintahkan pelayan itu.

Pelayan memberinya kunci kamar baru dan membawanya ke sana. Masih di lantai 24, tapi kamarnya berubah menjadi 2415.

Dalam perjalanan, walkie-talkie pelayan berdering, ada keadaan darurat yang harus dia tangani.

"Maaf, saya benar-benar minta maaf, untuk saat ini saya tidak bisa membawa Anda ke sana." Pelayan itu meminta maaf dengan tulus.

Febi adalah orang yang sangat baik. Jelas-jelas dia mabuk hingga sulit berjalan, tapi dia masih berdiri tegak, lalu tersenyum dan melambai padanya, "Jangan khawatir, aku bisa berjalan sendiri. Nomor kamar 2415, ya? Aku tidak akan tersesat."

...

Pelayan tidak ada pilihan lain selain pergi sambil meminta maaf. Febi terhuyung-huyung sambil bersandar ke dinding. Dia berusaha keras untuk mencari kamar nomor 2415.

"Kamarnya yang ini!" Dia menunjuk ke empat angka yang berlapis emas di pintu, lalu menyipitkan matanya untuk membaca lagi, tapi saat membaca tulisan di baris satu, dua, tiga ... dia merasa sedikit pusing.

Dia mengambil kartu kamar dan bersiap untuk menggeseknya, tapi sebelum dia menggesek kartu itu, pintu itu terbuka karena didorong oleh tubuhnya yang tidak dapat berdiri tegak. Ternyata pintu itu tidak dikunci, hanya ditutup saja.

Febi tidak tahu apa yang sedang terjadi. Kemudian, dia menutup pintu, bahkan tidak menyalakan lampu, lalu dia melemparkan tubuhnya ke ranjang tanpa memedulikan apa pun.

"Wah ... nyaman sekali ...." ucapnya sambil melebarkan kakinya di ranjang, lalu memejamkan mata dan kembali tertidur.

Apa itu kamar dengan pemandangan laut? Baginya saat ini, tidak ada pesona sama sekali. Dia hanya ingin tidur nyenyak sampai pagi.

...

Di luar kamar, koridor hotel yang disinari cahaya keemasan itu terlihat sangat mewah. Suara langkah kaki yang kuat terdengar dari koridor. Pada saat ini sekelompok orang keluar dari lift.

Lelaki yang paling mencolok pastinya adalah lelaki yang dikelilingi oleh kerumunan. Dia mengenakan setelan buatan tangan berwarna gelap yang terlihat sederhana tapi elegan dengan sosok tingginya yang sangat memikat hati. Di bawah bayangan lampu, fitur wajah tampannya itu bagaikan sebuah ukiran yang sangat sempurna.

Direktur, Ayo CeraiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang