168

6 1 0
                                        

Hari ini adalah hari keempat ujian anak SMP yang artinya hari terakhir juga bagi mereka mengalami masa penderitaan. Ya, khusus untuk anak-anak seperti Sunwoo dan Junkyu dalam hal yang berbeda.

"Akhirnya," ucap Yoshi dengan lenguhan yang cukup panjang, "tiga hari penuh tekanan berakhir."

Giwook melirik temannya sekilas lalu kembali fokus pada ponselnya. "Sok jadi beban."

Yoshi tertawa lalu bersandar ke bahu Junkyu. "Sebenernya gue bukan tertekan gara-gara ujiannya. Tapi si Sunwoo yang neror gue tiap malem cuma nanyain pelajaran."

"Oh, kayaknya dia beneran termotivasi deh." Junkyu membalas tapi justru terdengar tidak peduli.

"Pantes Jihoon matiin diri." Giwook menyimpan ponsel lalu menatap sekitarnya.

"Serius, gara-gara saudara dia nih," tunjuk Yoshi pada Junkyu, "gue gak perlu belajar lagi. Niat gak buka buku pas ujian malah sirna gara-gara Sunwoo."

"Tapi kok dia gak nanya Seungmin, ya? Tumben?" tanya Junkyu lalu disambung dengan menguap.

"Seungmin udah capek banget sama dia." Giwook menjawab lalu kembali mengeluarkan ponselnya. "Lo juga tahu diri, karena sampe ngeblok nomor dia."

"Oh iya, lupa."

"Terus," ucap Yoshi yang ikut menatap sekitarnya, "Seungmin sama Soobin mana? Hari ini jadi kan buat ke rumah sakit lagi?"

"Katanya ngurus nilai Sunwoo yang kurang." Junkyu menjawab dan kembali menguap. "Ngomong-ngomong Lo berdua udah daftar SMA?"

"Udah." Yoshi menjawab sambil menunjuk ke arah sekolah mereka. "Kakak sepupu gue suruh lanjut di Creighton lagi. Dia males ngurus surat-suratnya. Kalo disana, kan, paling tinggal nambah beberapa aja."

"Oh, gue juga." Giwook menjawab tapi sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel. "Kak Sangyeon bilang jangan jauh-jauh dari si kembar."

"Duh, berarti nasib kita sama. Gue bukan Kak Younghoon sih tapi kakaknya Seungmin tuh! Masih gak rela kalo kita pisah." Junkyu teringat bagaimana kakak tiri mereka yang paling tua membujuknya dan Sunwoo agar tetap satu sekolah dengan Seungmin.

Giwook mendongakkan kepalanya, melihat atap halte bus yang menjadi tempat mereka berada saat ini. Kemudian beralih ke jalanan yang tidak terlalu dipenuhi kendaraan. Lebih menjerumus ke sepi sebenarnya karena letak halte yang agak jauh dari keramaian. Dari sekolah saja butuh jalan kaki sejauh lima menit.

"Mereka masih lama gak, ya? Pengen nitip minum." Junkyu ikut mengeluarkan ponsel, berniat mengirim pesan pada temannya. "Eh, Jihoon sama yang lain udah di rumah sakit nih!"

"Cepet banget? Perasaan sekolah mereka lebih jauh deh dari kita?!" balas Yoshi yang terkejut saat tangannya ditarik Giwook. "Mau ngapain?"

"Minjem smartwatch Lo!"

Yoshi hanya melirik aneh temannya yang sudah sibuk melakukan sesuatu pada jam tangannya. Tidak tahu apa yang dilakukan Giwook, dia memilih fokus menatap jalanan.

"Seungmin gimana?"

"Otw." Junkyu meletakkan ponselnya ke atas kursi lalu menguap. "Ngantuk!"

"CK, molor mulu Lo!" balas Yoshi dengan gemas namun perhatiannya tertuju pada sebuah mobil Van hitam yang berhenti di depan mereka. "Lo berdua kenal gak?"

Giwook yang selesai melakukan sesuatu pada jam Yoshi langsung beranjak dan menarik kedua temannya. "Ayo!"

Junkyu yang merasakan sinyal bahaya langsung ikut beranjak. "Oh, itu mereka!"

"Dimana..."

Belum sempat Yoshi menyelesaikan kalimatnya, tangannya sudah disentak Giwook lebih dulu. Tapi sayangnya dua pria sudah mencegat mereka.

"Siapa kalian?" sergah Giwook yang bermaksud melindungi kedua temannya.

"Kita diminta untuk menjaga kalian. Tuan muda meminta kita untuk mengantar kalian ke rumah sakit."

Junkyu memincingkan matanya pada pria lain yang menuju ke arah mereka. Dia sama sekali tidak percaya pada ucapan pria itu. Jika mereka adalah bodyguard yang sama, pasti dia akan langsung mengenalinya. Juga, setahu mereka para bodyguard hanya mengawasi mereka bukannya berurusan untuk mengantar-jemput seperti ini.

"Jangan percaya!" ucap Giwook dengan tegas tapi sebenarnya dalam hati sudah tidak tenang. "Mereka pasti bukan orang baik-baik."

"Oh, analisa yang bagus." Pria di depannya tersenyum miring.

Yoshi panik saat salah satu dari pria itu menarik tangan Junkyu dan menyeretnya ke dalam mobil. "Jun..."

"Bawa mereka juga!"

"Gak..."

Tapi mulut Yoshi sudah ditutup lebih dulu.

Begitu juga Giwook yang sudah mencoba melawan tapi justru membuatnya terpukul sampai tidak sadarkan diri.

Terakhir, ketiganya dibawa mobil Van tersebut dengan sisa kekacauan yang ada di halte.

*Triumvirate*

"Kak Jisung gak ikut?"

Yang ditanya hanya menoleh bingung. "Kemana?"

"Ke rumah Kak Jinjin?" balas Junghwan yang malah terlihat lebih bingung. "Yang itu, sama Kak Hyunjun."

"Oh." Jisung kembali melanjutkan kegiatannya merapikan lemarinya. "Bunda gak bolehin keluar."

"Ih, kok bunda gitu sih?" protes Junghwan pada wanita yang baru saja masuk membawa dua kantong.

"Bunda baru masuk loh!" balas Minji yang tidak tahu maksud keluhan anak kecil itu.

"Kenapa," tunjuk Junghwan pada Jisung, "Kak Jisung gak dibolehin keluar?"

Minji meletakkan dua kantong yang dibawanya di depan anak kecil itu lalu menghela nafas. "Kakinya belum sembuh, Junghwan."

"Tapi pas Kak Hyunjun gitu juga kok bisa kemana-mana?!"

"Itu gara-gara dia gak mempan dibilangin bunda." Jisung menyahut dengan nada jengkel karena tidak bisa bergerak sebebas Hyunjun saat saudaranya itu mengalami patah kaki.

"Itu yang pertama." Minji berjongkok dibilang anak kecil itu. "Kedua, bunda gak mau ada komplikasi atau yang lainnya. Kemarin kakakmu lama sembuh gara-gara gak bisa diem."

"Iya, itu juga." Jisung membenarkan dengan nada miris.

"Udah, daripada kamu ngomel-ngomel, mending bawa ini ke rumah Kak Jinjin. Mereka pasti belum makan siang."

"Oke." Junghwan langsung menenteng dua kantong tersebut tanpa banyak bertanya lagi. "Tapi Junghwan boleh minta, kan?"

Jisung tersedak. "Perutmu itu udah buncit, Hwan!"

"Tapi Junghwan masih mau!"

"Udah-udah, punyamu udah bunda siapin. Anter sana!"

"Siap!"

Minji dan Jisung hanya memandangi calon anak SD itu berlari keluar kamar sambil membawa dua kantong.

"Tapi, Bun," sela Jisung saat merasa tidak mendengar suara Junghwan lagi, "kok Junghwan lari ke arah depan?"

"Lewat depan kayaknya." Minji mendekati remaja yang sedari tadi duduk di depan lemari.

"Gak lewat belakang?"

"Loh, sama aja, kan? Dia kan suka lewat mana yang dia mau?!"

"Iya sih." Jisung bergumam pelan tapi masih bimbang tentang Junghwan. Ah, paling cuma perasaan. Junghwan kan emang nakal.

*Triumvirate*

TRIUMVIRATE SQUAD : 2ND BOOK [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang