Seokjin tahu, harusnya yang menjadi perhatian malam ini adalah dirinya dan sang istri. Tapi jika harus jujur, anak-anak Triumvirate cukup mencolok di penglihatannya. Tidak sedikit juga yang mencuri pandang sampai membicarakan delapan mahasiswa itu. Awalnya dia sempat ragu jika delapan orang itu akan berpenampilan sewajarnya tapi ternyata, mereka justru terlihat sangat melampaui ekspektasi.
Beda lagi delapan mahasiswa yang sudah mengeluh selepas 30 menit mereka bergabung. Younghoon juga baru sepuluh menit berpisah untuk bergabung dengan keluarganya dan menit berikutnya sudah kembali ke barisan Triumvirate. Mungkin magnet teman-temannya lebih besar daripada saudaranya.
Sebenarnya bukan hanya mereka berdelapan yang menarik perhatian tapi juga kedatangan ketujuh Triumvirate yang lain. Alhasil kerumunan 15 orang itu terlihat sangat mencolok di tengah keramaian para tamu undangan. Terlalu ramai untuk ukuran kelompok tamu undangan.
"Wah, gue salah outfit nih." Hokuto berucap seraya mengamati blazer putih yang dikenakannya. Kemudian dia menendang kaki Hyunbin. "Kenapa gak bilang sih kalo kakaknya Younghoon nikah?"
Tidak terima disalahkan, pemuda tertinggi disana langsung memiting leher Bambam. "Nih! Gue baru dikabarin sejam sebelum sampe disini!"
"Salah sendiri gak buka grup!" balas Bambam yang juga tidak terima dirinya disalahkan.
"Tapi," ucap Minghao seraya menatap delapan Triumvirate lulusan Creighton, "siapa yang dandanin lo berdelapan? Sorry-sorry nih, fashion sense lo semua kan pada anjlok."
"Wah, sangat menusuk!" timpal Mingyu seraya menepuk dadanya dengan dramatis.
"Parah lo!" sahut Jungkook yang langsung merangkul Jihan. "Bisa-bisanya lo meremehkan stylist kita?!"
"Gini-gini semuanya copyright dari Park Jihan ya!" tambah Younghoon dengan bangga.
Tidak terlalu hirau karena jadi bahan pembicaraan, Jihan justru fokus berbicara dengan Hokuto dan Jaehyun. Entah bisnis apa tapi mereka terlihat sibuk sendiri.
Acara pernikahan dimulai, serangkaian acara sudah dilakukan. Bahkan ketika sampai acara puncak, tamu undangan kian ramai dan sukses mempersibuk pemilik acara.
Banyak juga wajah familiar yang datang. Jihan sampai menyebut jika pernikahan Seokjin menjadi kesempatan reuni untuk orang-orang yang terlibat dalam kasus dua tahun yang lalu. Buktinya selain kumpulan ke-15 Triumvirate, rombongan Jimin juga terlihat menonjol. Belum lagi kelompok Jihoon yang tidak terlalu jauh dari mereka.
"Wih, gila!" seru Mingyu tiba-tiba saat tidak sengaja menatap si bungsu Park. "Jihoon ganteng banget. Siapa yang milihin dia baju?"
Jihan melihat adiknya yang terlihat menatap malas ke arah Sunwoo. "Milih sendiri."
"Oke, gue bakal ngakuin fashion sense Jihan bersaudara." Dokyeom mengacungi jempol tepat di depan wajah Jihan setelah kepalanya tadi sibuk mencari keberadaan Jimin. "Gak ada lawan."
"Ya, ini kesempatan langka buat lo semua ngeliat Jihan yang peduli fashion." Hyunjae menepuk kepala teman gadis mereka dengan bangga. "Syukur-syukur dia gak ke kampus pake piyama."
Hyunbin menatap jam tangannya. "Abis ini lo semua pada kemana?"
"Nugas?" balas Jungkook sekenanya.
"Oh!" sahut Yugyeom yang membuat gestur minum. "Mumpung ada Hoku."
"Call!" jawab hampir semua dari mereka.
Tapi Jacob justru menarik Minghao dan Eunwoo untuk mundur lalu memasang ekspresi tidak nyaman.
"Kok perasaan gue gak enak, ya?"
Eunwoo menepuk bahu temannya seraya mengangguk. "Kapan sih feeling lo bakal enak kalo urusan sama mereka?"
*Triumvirate*
Mereka ber-15 benar-benar meninggalkan acara lebih cepat dan mengunjungi kafe dimana Solbin bekerja. Ketujuh Triumvirate tidak mengenal gadis itu tapi memang dasarnya alumni Creighton hobi melibatkan orang lain, akhirnya mereka jadi akrab dalam kurun waktu sepuluh menit. Akrab bukan dalam konteks berteman tapi keributannya.
"Hidden gem, ya?" komentar Hokuto, selaku orang yang baru pertama kali ke tempat ini. "Kirain cuma kafe doang?!"
"Tergolong baru kok jadi bar." Jacob menunjuk Jihan yang duduk di seberangnya. "Gara-gara Jihan."
Mingyu dan Hyunbin langsung menatap gadis itu dengan ekspresi men-judge.
"Coba deh kasih tahu gue, apa yang gak melibatkan Jihan?" seru Mingyu setengah frustasi.
Yugyeom mengangkat kedua tangannya. "Hongjoong, Seonghwa sama Yunho jadi grup idol gara-gara Jihan. Dua anak panti yang masuk Creighton juga gara-gara Jihan. Hyunjae masuk arsi gara-gara Jihan. Bandnya Jihoon terkenal juga gara-gara Jihan. Apa lagi?"
"Hyunjin," sahut Jungkook dengan ekspresi bangga, "tiba-tiba jadi model gara-gara Jihan juga."
"Lo punya kontrol hidup orang apa gimana sih?" sahut Dokyeom dengan ekspresi kesal campur bingung. "Heran gue, kayak semua tuh berpusat ke lo gitu."
Jihan melirik malas ke arah teman-temannya sebelum menarik segelas bir yang dipesannya. "Ya, salah orang yang mau-maunya berurusan sama gue!"
"Iya-iya." Bangchan menepuk kepala gadis itu lalu mengamati keadaan kafe. "Ini perasaan gue atau emang kafe lagi sepi?"
"Perasaan lo aja kali." Hyunbin menarik gelas birnya lalu tersenyum lebar. "Gue bakal nangkring disini tiap hari deh kayaknya. Lumayan, anteng."
"Pertanda tenang sebelum badai sih." Minghao menyahut dan tanpa sengaja bersitatap dengan Solbin, pekerja kafe yang sesekali mencuri pandang ke arah mereka.
Eunwoo sendiri tiba-tiba merapikan barangnya yang berupa kunci mobil dan ponsel. "Gue inget terakhir kali kita ngumpul gini."
Belajar dari pengalaman, Bambam juga melakukan hal yang sama. Dia bahkan memeriksa maps sekitar kafe.
"Tinggal nunggu kabar aja dari cenayang."
"Siapa?" tanya Younghoon yang jelas sekali belum berhasil mencerna situasi.
Tiba-tiba saja Solbin menghampiri mereka, sedikit menggebrak meja dengan tatapan tertuju pada Jihan dan Hyunjae. Ekspresinya jelas sekali sedang kesal karena sesuatu.
"Lo berdua ngapain sih?"
"Apaan sih, njir?" balas Hyunjae tidak terima.
"Itu, kenapa preman dari distrik sebelah sampe nyariin lo semua?" sambung Solbin yang tidak takut menuding ke-15 orang disana. "Mending lo semua buru-buru cabut sebelum dikepung disini!"
Jaehyun yang pertama bereaksi seraya menarik baju Jihan. "Ck, feel buat ngumpul bareng gini emang gak bener."
"Solbin, masukkin ke tagihan gue ya!" teriak Jihan yang sudah ditarik Jaehyun.
Saat teman-temannya rusuh meninggalkan kafe, Jacob menyempatkan dirinya untuk berhenti di depan Solbin dan tanpa aba-aba mencium kening gadis itu sebelum menyusul yang lain.
"Pergi dulu, ya?!"
Solbin? Jangan ditanya, wajahnya sudah memerah karena perbuatan dadakan kekasihnya itu. Iya, mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih selama beberapa bulan terakhir. Yang lain? Tentu saja sudah tahu.
*Triumvirate*
KAMU SEDANG MEMBACA
TRIUMVIRATE SQUAD : 2ND BOOK [COMPLETED]
FanfictionKelanjutan cerita anak-anak Triumvirate dan konflik yang bermunculan di sekitar mereka. Setelah semua yang terjadi, apakah pertemanan mereka akan terus bertahan atau akan berhenti di tengah jalan?
![TRIUMVIRATE SQUAD : 2ND BOOK [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/356377368-64-k198963.jpg)