Bagian 14

13.1K 1.1K 9
                                        

"Maafin gue, Al... tolong, gue mohon jangan tinggalin gue hiks..."

Mendengar isakan yang tidak terduga keluar dari mulut Deon, Aldrean yang semula mengabaikan pemuda itu tanpa sadar bergerak turun dari posisinya.

Melihat Deon di depannya terisak sambil tertunduk ada perasaan sesak yang tidak bisa dijabarkan dalam hatinya.

"G-gue ga bisa sendirian... gue takut, Al..."

Langkah kaki Aldrean ringan dan tidak bersuara, melihat Deon yang terus menunduk dan terlihat sangat rapuh itu tangan Aldrean terulur untuk merengkuhnya.

Aldrean menarik Deon ke dalam pelukannya. Dia berbisik dengan suaranya yang tenang. "Gue di sini."

Merasakan sebuah pelukan hangat menimpa dirinya isakan Deon keluar semakin tidak terkendali.

Ini bukan dirinya sama sekali. Biasanya Deon bisa mengontrol perasaannya dan mengendalikan diri. Tapi, saat ini dia kesulitan menahan air matanya.

Dia tidak yakin kenapa, tapi mungkin karena mimpi yang datang ke dalam tidurnya semalam.

Deon bermimpi Aldrean mengucapkan selamat tinggal dan sosok pemuda itu kemudian melebur bagai debu.

Selama ini selain teman-temannya, Deon tidak memiliki tempat bersandar lain.

Keluarga? Deon tidak bisa mengharapkan mereka.

Orang-orang yang selalu menuntutnya sempurna itu tidak bisa memberikan kehangatan dan kasih sayang yang selalu Deon sebagai seorang anak inginkan.

Dia mungkin selalu acuh pada yang lain tapi jauh di dalam hatinya, Deon sangat menyayangi mereka semua.

Aldrean, Bisma, Edwin, ketiga orang itu sangat berarti baginya.

"Hiks... hiks..." Deon terus terisak. Air matanya tidak mau berhenti keluar. Dia menyembunyikan wajahnya di atas bahu Aldrean dan terus menumpahkan tangisannya di sana.

Aldrean hanya diam membiarkan Deon melepaskan semuanya. Dia hanya memeluk Deon dan menepuk-nepuk pelan punggung pemuda itu.

Gue baru inget. Dibalik wajah dinginnya, Deon adalah yang paling rapuh di antara semuanya.

Setelah beberapa saat akhirnya Deon menjadi lebih tenang. Dia melepaskan pelukannya dari Aldrean dan wajahnya yang biasanya datar itu bersemu dengan malu.

Terlebih air mata yang masih membasahi pipinya dan matanya yang memerah karena menangis, pemandangan itu anehnya terasa lucu di mata Aldrean.

Tapi, Aldrean tidak berani tertawa, dia tidak ingin membuat anak orang menangis lagi karena dia menertawakannya.

"Udah lebih baik?" Tanya Aldrean melepaskan suasana canggung di antara mereka.

Deon mengangguk. "M-maaf." Dia menyesal karena telah membuat bahu Aldrean basah karena air matanya. Dia juga menangis seperti anak kecil, tingkahnya sangat memalukan. Padahal Aldrean jauh lebih muda darinya.

Kenyataannya mereka hanya berbeda empat bulan.

Tanpa berbicara Aldrean menarik Deon untuk menghampiri kasur dan mendudukkannya di sana. "Abis nangis pasti laper. Lo tunggu di sini, gue ambilin makanan dulu."

Aldrean tidak menunggu Deon untuk membalas saat dia membawa langkahnya keluar dari kamar.

Kamar miliknya di Villa Louis berada di lantai 2, tempatnya hanya dua meter dari anak tangga menuju lantai bawah.

Saat menuruni tangga, Aldrean berpapasan dengan Ron yang juga akan naik ke atas untuk melihat kondisinya.

"Anda mau ke mana Tuan muda? Apa anda sudah baik-baik saja?" Tanya Ron sambil menelisik penampilan Aldrean dari atas sampai bawah.

ZEROTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang