Bagian 82 (Season 3)

2.9K 417 38
                                        

"Gue menang."

Suara datar Deon yang tidak memiliki sedikit pun kebanggaan dalam nadanya membuat Bisma yang mendengarnya mendengus tidak senang.

Papan skor di sisi lapangan saat ini menunjukkan nilai kedua tim yang hanya berselisih dua poin. Selisih dua poin itu yang membuat tim merah meraih kemenangan di menit-menit terakhir.

Wajah Bisma penuh dengan ketidakpuasan. Bisa-bisanya manusia mirip anjing seperti Nevan bisa mencetak poin lebih di saat-saat terakhir. Semakin dipikirkan semakin banyak kekesalan yang dia rasakan.

Menelan kekesalannya, Bisma hanya bisa menepati janjinya.

Bisma mengeluarkan ponselnya dari saku celana, dia akan mengirimkan uang taruhan kepada Deon. Sebelumnya mereka memang bertaruh uang untuk siapa pun yang menang. Nilainya juga tidak banyak karena mereka hanya melakukan itu untuk bersenang-senang.

"Ck. Lain kali gue jamin gue yang menang."

Deon diam saja tidak menyahut karena meski pun Bisma sering mengatakan itu kenyataannya pemuda itu tidak pernah sekali pun menang dalam setiap pertaruhan yang mereka lakukan.

Bisa disimpulkan Bisma cenderung buruk dalam menilai sesuatu apalagi untuk bertaruh pada hal itu.

Berbeda dengan suasana di antara dua orang itu yang terlihat lebih tenang, suasana di lapangan basket indoor masih begitu ramai setelah satu babak pertandingan berakhir. Jam sekolah masih panjang jadi semua orang tampak bersemangat untuk meneruskan pertandingan ke babak selanjutnya.

"Wih gila Van, lo hebat banget asli!"

"Nevan lo hebat!"

"Yoi. Lo keren, Van!"

Suara tawa dan nada memuji yang terus menerus terdengar itu membuat Nevan semakin mengangkat wajahnya dengan bangga.

Nevan sudah selayaknya MVP di tengah lapangan saat ini.

Merasakan kebanggaannya tersendiri, Nevan memiliki senyuman yang cemerlang diwajahnya. Terutama saat tatapannya menangkap sosok Aluna yang berjalan mendekat bersama teman-temannya, senyuman diwajah Nevan mengembang semakin lebar.

Berbeda dengan keramaian di lapangan basket, situasi di sisi Edwin terlibat begitu buruk dan muram.

Pemuda itu terlihat bersandar di sisi mobilnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada, ekspresinya dingin dan tatapannya kejam.

Di depannya, seorang bawahan yang datang terlambat karena masalah jarak sudah menerima luka lebam akibat beberapa tendangan yang Edwin layangkan.

"Lain kali jika aku meminta kalian untuk datang, datanglah lebih cepat. Apa kalian mengerti?"

"Ya, kami mengerti tuan muda."

Orang yang menjawab itu adalah orang yang menerima perintah langsung dari Edwin, bisa dikatakan dia adalah ketua yang sudah seharusnya bertanggung jawab untuk masalah apa pun.

Kali ini mereka datang terlambat dan sebagai ketua yang bertanggung jawab, dia juga menerima hukuman dari Edwin untuk kelalaiannya.

Amarah Edwin tidak berkurang meski pun dia sudah melampiaskannya ke bawahannya, mendengar bawahannya masih memiliki tenaga untuk menjawabnya, Edwin merasakan hatinya gatal ingin kembali memberi pelajaran pada pria itu.

"Pergi! Sebelum aku membuat wajahmu tidak bisa dikenali lagi."

Pria di depan Edwin itu buru-buru membungkuk hormat dan segera menghilang dari hadapan Edwin setelah mengkode bawahannya yang lain untuk cepat-cepat pergi dari tempat itu.

ZEROTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang