Bagian 87 (Final Chapter)

5.8K 616 158
                                        

Di keluarga Wijaya, dia adalah anak tengah. Anak tengah yang paling tidak berguna jika harus dibandingkan dengan kedua saudaranya yang lain.

Dia selalu iri pada sang kakak yang begitu dibanggakan oleh papa mereka dan dia juga iri pada adiknya yang begitu disayang oleh papa mereka.

Padahal dia juga anak papanya tapi, papanya selalu melihatnya dengan cara berbeda, seolah-olah yang papanya bisa lihat darinya hanyalah kekurangannya.

Kemudian, dia tidak sengaja mengetahui jika papanya ternyata memiliki anak di luar.

Anak itu tetap hidup dengan baik bahkan setelah ditinggal oleh ibu kandungnya.

Abian marah.

Abian cemburu.

Abian tidak bisa melihat Aldrean yang merupakan anak haram papanya bahagia. Dia saja yang merupakan anak sah papanya merasa menderita lalu kenapa Aldrean harus bahagia?

Dia benci melihat senyuman konyol anak itu.

Dan, dia memutuskan untuk menghilangkan senyuman itu.

Mungkin sejak saat itulah Abian memulai permainannya.

Reno adalah bidak catur pertamanya.

Reno hanyalah anak manja yang bodoh, Abian hanya mengatakan beberapa patah kata dan anak itu langsung menindas Aldrean secara habis-habisan.

Saat untuk pertama kalinya Abian melihat senyum Aldrean menghilang, pemuda itu memiliki senyum paling cerah di wajahnya.

Dia merasa itu sangat menyenangkan dan membuat ketagihan.

Tapi, bidak catur pertamanya tidak bertahan lama.

Dia sedikit merasa kecewa.

Tahun demi tahun, Aldrean terlalu baik dan polos, anak itu sama sekali tidak pernah menyadari bahwa dia selalu berlari di atas genggaman tangan orang lain.

Ke sana kemari anak itu selalu dipermainkan.

Mungkin orang lain tidak ada yang mengetahuinya tapi, Abian tahu.

Aldrean mengalami depresi akibat menerima pembulian dari Reno hingga membuat anak itu mengkonsumsi obat penenang di usianya yang baru menginjak 12 tahun.

Tentu saja Abian yang melakukannya. Abian adalah orang yang memberi Aldrean obat penenang dan membuat anak itu ketergantungan.

Tidak ada orang yang menyadarinya karena anak itu selalu tampil dengan wajah ceria dan tatapan mata yang cerah.

Abian merasa sangat senang karena perlahan-lahan dia bisa menghancurkan Aldrean dari dalam.

Kemudian, hari itu datang.

Hari saat papanya tiba-tiba membawa Aldrean yang terluka ke rumah.

Papanya belum mengenali jika Aldrean adalah putranya tapi papanya sudah memberikan perhatian yang sangat jarang pria itu perlihatkan.

Itu tampaknya adalah sebuah ikatan ayah dan anak yang tidak mereka sadari. Abian membencinya.

Saat itu Abian terkejut karena Aldrean tidak mengenalinya, mungkin, karena telah bertambah dewasa penampilannya memang cukup berubah dari bertahun-tahun yang lalu.

Tapi, karena hal itu juga Abian bisa lebih lancar dalam mengenakan topeng saudara yang baik.

Abian membenci Aldrean dan itu tidak berubah meski bertahun-tahun telah berlalu.

Sekarang anak yang dibencinya sudah mati, masih perlukah Abian mengenakan topeng saudara yang baik lagi?

Berjalan menjauhi taman, Abian tidak peduli dengan apa yang akan Nevan lakukan pada Aluna.

ZEROTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang