Sorak sorai penonton yang menyaksikan pertandingan di lapangan basket indoor terdengar riuh.
Karena proses belajar mengajar belum dilakukan, anak-anak eskul basket melakukan pertandingan dengan sengaja untuk mengisi waktu luang.
Nevan yang saat ini sudah menjadi senior di klub basket berada di tengah-tengah lapangan dan siap untuk memulai pertandingan.
Di tribun penonton Aluna dan beberapa temannya terlihat menyemangati Nevan dengan sesekali meneriakkan nama pemuda itu.
Saat namanya bergema di penjuru lapangan, Nevan akan melirik ke arah Aluna dan berkedip dengan senyum menawan pada gadis itu.
Hal itu semakin membuat teriakkan terdengar semakin kencang.
"Aaaa Nevan... ganteng banget pacar orang!"
"NEVAN SEMANGAAAT!!"
Sementara itu, Aluna yang duduk ditribun penonton hanya bisa tersenyum dengan pipi yang memerah karena menerima perlakukan dari Nevan.
Teman-teman di sisinya mau tidak mau berbicara untuk menggodanya.
"Lun, lo beruntung banget sih punya pacar kayak Nevan."
Aluna menoleh ke arah temannya yang baru berbicara. Wajahnya terlihat malu tapi ada kebanggaan yang bersinar di matanya. "Aku..."
"Coba aja gue juga bisa dapet cowok kayak gitu."
"Siapa coba yang ga suka sama Nevan kan?"
"Iyalah, udah ganteng, tajir, jago basket lagi!"
"Paling penting, setia sama romantis!"
"Bener banget haha."
"Gue iri sama lo, Lun."
Aluna yang hanya mendengarkan pembicaraan teman-temannya hanya tersenyum. Mungkin, dia memang beruntung.
Di sisi lain, Bisma dan Deon terlihat berjalan menuju jajaran lain di tribun penonton.
Dua orang dengan visual yang membuat siapa pun menoleh untuk melihat mereka itu berjalan dengan langkah santai dan mendudukan diri mereka di antara penonton dibarisan belakang.
"Wah rame juga ya!" Seru Bisma dengan wajahnya yang terlihat senang, tatapannya penuh minat melihat pertandingan yang telah berlangsung di tengah lapangan.
"Yon, taruhan siapa yang menang."
Tatapan Deon yang selalu datar itu saat ini terlihat tenang. Wajah tanpa ekspresinya tidak berpaling dari lapangan dan dia menjawab Bisma dengan suara tanpa nadanya. "Oke."
Ada dua tim yang saat ini bertanding di lapangan. Satu tim merah dan satu tim putih. Tim merah adalah tim milik Nevan dan walau pun Bisma tidak menyukai pemuda itu karena sikapnya tapi di lapangan, Bisma akui Nevan terlihat jago dan lihai.
Hanya saja Bisma tetap tidak ingin tim Nevan menang karena itu Bisma lebih memperhatikan tim putih yang menjadi lawan Nevan kali ini.
"Gue pilih tim putih."
Tidak ada sosok mencolok dalam tim putih tapi kerja sama antar tim mereka sangat bagus.
"Tim putih bakal kalah." Sahut Deon masih dengan nada datar andalannya.
Bisma tidak peduli dengan perkataan Deon yang terdengar seperti sebuah provokasi itu. Bibir pemuda itu tersenyum lebar dan dia benar-benar menantikan nilai akhir pertandingan.
Di lapangan sendiri kedua tim saat ini sedang bertanding dengan sengit padahal itu hanya bertandingan untuk bersenang-senang tapi tampaknya tidak ada yang mau mengalah satu sama lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZERO
Teen FictionDia Zero. Sosok spesial yang akan hadir setelah kematian seseorang. [Selesai]
