"Kamu pergi?" Melihat Gibran yang beranjak dari tempat duduknya, Antonio mau tidak mau bertanya.
Gibran menoleh menatap Antonio yang tidak beranjak, dalam hati Gibran mengutuk Antonio karena tidak memberitahunya hal penting sejak awal, tapi itu adalah Antonio, walau pun saat ini mereka bisa dikatakan rekan tapi bukan berarti mereka tidak akan saling menusuk punggung masing-masing. Jika sesuatu yang salah terjadi Gibran hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu gegabah.
Sejak awal mungkin seharusnya Gibran memang tidak perlu berurusan dengan Aldrean. Anak itu, walau terlihat seperti remaja biasa kenyataannya Aldrean lebih menakutkan dari pada apa pun yang dia ketahui.
"Ey ada apa dengan tatapanmu itu? Apa kamu marah padaku?" Antonio bertanya tanpa rasa bersalah dan memang sudah seharusnya Gibran tidak mempercayai orang seperti Antonio.
"Jangan menghubungiku untuk beberapa hari ini kecuali ada tugas penting dari Tuan Alwi."
Dalam hati Antonio terkejut dengan pernyataan Gibran itu. Seorang Gibran Atmaja akan melarikan diri hanya karena seorang anak remaja, itu sangat menarik.
Walau Antonio mengatakan jika mantan pemimpin Rogenz mungkin saja turun tangan jika terjadi sesuatu pada Aldrean tapi, itu hanya kemungkinan dan tidak ada yang bisa menjaminnya. Tidak mungkin hal seperti itu bisa membuat Gibran ketakutan sampai memilih melarikan diri.
Gibran saat ini mungkin terlihat seperti seorang pecandu yang tidak berguna kenyataannya dia tetap seseorang yang memiliki darah Atmaja di tubuhnya, seseorang yang haus akan kuasa dan memiliki ego sangat tinggi.
Jika menilai sebagai sikap Gibran yang biasanya, ancaman dari seorang mantan pemimpin bukanlah hal yang akan membuatnya ketakutan.
Gibran tahu apa yang mungkin dipikirkan Antonio tentangnya tapi masa bodo, dia tidak peduli. Hal yang sebenarnya Gibran takutkan bukan kemungkinan adanya ancaman datang dari mantan pemimpin Rogenz tapi lebih dari itu.
Kali ini Gibran meminta Diki untuk menyingkirkan Aldrean atas keinginannya sendiri, bahkan jika sebenarnya Tuan Alwi diam-diam memperingatinya untuk tidak menyentuh Aldrean, Gibran hanya ingin menyingkirkannya. Aldrean adalah sumber ancaman dan ketakutan terbesarnya.
Flashback__
Malam itu adalah malam yang terasa mencekam bagi Gibran. Rencana yang telah dia susun matang-matang untuk menyingkirkan sang kakak tercinta gagal total karena keponakan kecilnya tiba-tiba mendapat bantuan kuat dari luar.
Gibran tidak tahu dari mana bantuan itu berasal tapi kekuatannya langsung kalah dalam sekejap, dia bahkan tidak bisa bertahan lagi dalam keluarga saat satu persatu kesalahannya dipublikasikan dihadapan semua orang.
Saat itu nyawanya nyaris melayang karena kemarahan keponakannya tapi dia berhasil melarikan diri dengan selamat berkat bantuan Tuan Alwi.
Tentu saja tidak ada yang gratis. Sebagai bayaran atas nyawanya, Tuan Alwi memintanya untuk bisa membantu dalam menyingkirkan pewaris Liusen. Gibran menyetujui persyaratan itu dan akhirnya dia bertemu dengan Diki, seorang anak malang yang termakan oleh rasa iri hati.
Diki bersedia membantunya menyingkirkan pewaris Liusen dengan iming-iming uang yang besar.
Selama seseorang memiliki banyak uang maka tidak ada yang akan merendahkannya. Diki, anak itu mempercayai hal itu.
Tidak disangka rencana mereka gagal dan Diki malah tertangkap oleh musuh. Beruntung Tuan Alwi bersedia untuk menyelamatkannya dan akhirnya membawa Diki ke Negara C.
Di malam pertama saat dia melarikan diri dari pengejaran keponakannya, Gibran pernah bermimpi.
Di mimpi itu Gibran ditekan hingga tidak bisa berkutik oleh seorang anak remaja dengan sepasang mata merah.

KAMU SEDANG MEMBACA
ZERO
Teen FictionDia Zero. Sosok spesial yang akan hadir setelah kematian seseorang. [Selesai]