Aldrean terbangun dengan kepala pusing yang luar biasa setelah melakukan sesuatu dalam tidurnya.
Sebelum pemuda itu mendudukkan diri, sesuatu terasa mengalir dari hidungnya membuat repleks Aldrean bangkit dan mengusap sesuatu yang mengalir dari hidungnya itu.
Darah merah kemudian menodai tangan Aldrean.
"Shit!"
Aldrean mengumpat dan dengan sempoyongan membawa tubuhnya ke dalam kamar mandi yang berada di dalam ruangan.
Aldrean langsung menghampiri wastafel dan mencoba menghentikan mimisannya di sana. Selain mimisan, Aldrean juga merasakan rasa tidak nyaman di mulutnya, saat Aldrean meludah, ludahnya telah bercampur merah dengan darah.
"Padahal gue pikir kondisi gue udah lebih baik. Ternyata gue masih maksain diri ya?" Menatap penampilan pucatnya di dalam cermin dengan darah yang terus mengalir keluar dari hidung, penampilan Aldrean tampak cukup mengerikan.
Belum lagi kepalanya yang pusing membuat Aldrean hanya bisa menumpukkan seluruh tubuhnya pada pinggir wastafel.
Lagi, Aldrean berusaha mencuci hidungnya dan berkumur-kumur berharap darah yang keluar itu segera berhenti.
Setelah lebih dari lima menit, pendarahannya itu akhirnya berhenti dan Aldrean hanya bisa mencengkeram kepalanya yang mulai berdenyut sakit.
Beruntung waktu saat ini masih menunjukkan pukul tiga pagi. Orang-orang masih terlelap di kamar masing-masing dan tidak ada yang menyadari keadaan Aldrean yang sedang kesakitan.
Jika Kei melihat penampilannya saat ini, Kei pasti akan bertanya macam-macam kepadanya dan Aldrean tidak ingin menjelaskan alasan kenapa dia bisa seperti saat ini.
Tapi, dugaan Aldrean tentang tidak ada satu pun orang yang terbangun itu salah.
Sion yang memang memiliki hobi begadang belum memejamkan matanya sedikit pun. Sion iseng mengecek keamanan rumah tempat mereka tinggal saat ini dan bermain dengan meretas beberapa CCTV.
Saat meretas CCTV di kamar tempat di mana Aldrean berada saat itulah Sion merasa ada yang salah saat tidak melihat keberadaan Aldrean di kasur.
Bermodal keingintahuannya, Sion mendatangi kamar Aldrean dan memasukinya karena pintu kamar itu tidak terkunci.
Aldrean tidak ada di kasur tapi Sion bisa mendengar suara gemericik air dari arah kamar mandi. Berpikir jika Aldrean berada di dalam kamar mandi, Sion akan berbalik pergi tapi niatnya urung karena dia mendengar suara rintihan tertahan di dalam kamar mandi.
Dengan penasaran Sion membuka pintu kamar mandi yang beruntung tidak terkunci, masa bodoh dengan prilakunya yang dianggap tidak sopan, Sion terkadang tidak terlalu mementingkan kesopanan.
Saat pintu kamar mandi terbuka, Sion terkejut melihat tubuh Aldrean yang hampir meluruh ke lantai.
Lagi-lagi, Sion melihat wajah pucat itu.
"Kamu..." Sion tidak tahu harus berkata apa saat melihat Aldrean yang masih merintih kesakitan dalam pelukannya.
Merasa tidak baik untuk terus berada di dalam kamar mandi yang dingin, Sion pun membopong tubuh Aldrean yang lemas dan meletakkannya kembali ke tempat tidur.
Baru Sion meletakkan Aldrean ke kasur pada saat itulah pintu kamar kembali terbuka dan tampak Kei muncul dari sana.
"Tuan muda." Sapa Sion pada Kei.
Sion padahal belum memberitahu siapa pun tentang keadaan Aldrean tapi Kei sudah datang seolah pemuda itu sudah memiliki firasat.
Ekspresi Kei terlihat tidak baik dan saat melihat keadaan Aldrean yang tampak kesakitan walau pun matanya terpejam, Kei hanya bisa mengusap wajahnya kasar.

KAMU SEDANG MEMBACA
ZERO
Teen FictionDia Zero. Sosok spesial yang akan hadir setelah kematian seseorang. [Selesai]