"Eungh..." Aldrean melenguh pelan saat merasakan rasa kebas di sekitar tangan kanannya.
Saat membuka mata, Aldrean bisa melihat Frans yang tersenyum sembari merapihkan alat-alat medisnya.
"Infusnya saya pasang lagi ya tuan muda."
Aldrean lalu melirik tangan kanannya dan menghela napas saat mendapati jarum infus sudah terpasang di sana, padahal baru semalam infus dilengan kirinya di lepaskan.
"Jangan protes. Ini karena ulahmu sendiri."
Itu suara Kei.
Aldrean melirik Kei yang berdiri di sisi lain ranjang dan kembali menghela napas. Dia juga tidak akan protes karena dia sadar tubuhnya saat ini memang sedang membutuhkan asupan vitamin melalui infusan, tubuhnya lemas sekali dan walau pun kepalanya sudah tidak sakit seperti sebelumnya tetap saja kepalanya masih terasa pusing.
"Frans ikut denganku!" Perintah Louis sebelum pria tua itu membawa kakinya keluar dari ruangan.
Frans yang sudah menerima perintah dari tuannya tidak berani untuk membantah. Frans langsung mengikuti jejak Louis untuk meninggalkan ruangan.
Di dalam ruangan tersisa Kei, Mary, Aldrean yang berbaring di ranjang dan Sion yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Di sisi Sion ada juga Ron yang diam-diam memperhatikan kondisi adik sesumpahnya itu.
"Kamu tidak tidur semalaman?" Tanya Ron dengan suara pelan. Dia tidak ingin mengganggu suasana tenang di dalam kamar.
"Aku baik-baik saja." Jawab Sion dengan nada datar andalannya.
"Ikut denganku!"
Selain tuan mereka-- Louis, satu-satunya orang yang tidak pernah dibantah oleh Sion adalah Ron.
Saat ini pun pemuda itu mengekori Ron dengan tenang, tanpa protes sedikit pun.
Setelah kepergian Ron dan Sion, kamar yang ditempati Aldrean menjadi semakin sunyi.
Tidak ada yang membuka suara.
Menyadari suasana canggung mulai naik ke permukaan, Mary pun berinisiatif untuk mencairkan suasana.
"Kamu butuh sesuatu Al?" Tanya Mary. Dia yang semula duduk di sofa kamar beranjak untuk mendekati Aldrean.
Mary kemudian mengusap peluh yang muncul dikening Aldrean dengan lembut menggunakan sapu tangan miliknya. Tersenyum tipis saat melihat tatapan Aldrean beralih untuk menatapnya. "Kamu mau minum?" Tanyanya lagi.
Aldrean mengangguk pelan pada Mary.
Sementara Mary mengambilkan air dalam gelas yang tersedia di atas meja, Kei membantu Aldrean untuk membenarkan posisi duduknya.
"Hahh... lihat dirimu Ze." Ujar Kei diawali helaan napas panjang.
Aldrean hanya melihat Kei sebentar tanpa berkomentar sebelum menggunakan tangan kirinya untuk meraih gelas yang disodorkan Mary.
Melihat tangan Aldrean yang sedikit gemetar, Kei pun kembali turun tangan untuk membantu Aldrean memegangi gelas minumnya.
Setelah merasa cukup, Aldrean berhenti minum. Dia menatap Mary dan Kei bergantian. "Makasih kak." Ucapnya.
Sementara Mary tersenyum tipis, Kei lagi-lagi hanya menghela napas.
Kei melihat Mary setelah mengembalikan kembali gelas bekas minum Aldrean pada gadis itu. "Mary, kakak ingin berbicara berdua dengan anak nakal ini sebentar. Tolong tinggalkan kami." Pintanya pada Mary.
"Baiklah." Sebelum pergi Mary menyempatkan diri untuk mengelus sayang kepala Aldrean. "Kakak tinggal dulu ya, Al. Kalau Kak Kei macam-macam, kamu bilang saja pada kakak."

KAMU SEDANG MEMBACA
ZERO
Teen FictionDia Zero. Sosok spesial yang akan hadir setelah kematian seseorang. [Selesai]