Di luar upacara masih berlangsung. Di dalam kelas Aldrean memilih untuk melanjutkan tidurnya.
Sentuhan pada punggungnya membuat tidur Aldrean terganggu. Pemuda itu membuka matanya dan menatap pemuda lain dengan lambang OSIS pada seragamnya.
"Kenapa tidur di kelas?" Tidak ada teguran sama sekali dalam suaranya. Pemuda yang bertanya itu hanya menatap Aldrean dengan tatapan tenang.
___
Upacara berakhir dalam beberapa menit. Cuaca yang panas membuat siapa pun tidak tahan dan berkeringat.
Setelah membubarkan diri dari barisan Bisma mau tidak mau mengeluarkan keluhan dari bibirnya. "Gila panas banget! Haus gue!"
"Kita ke kelas dulu. Baru ke kantin." Ujar Edwin.
Edwin dalam keadaan berkeringat tapi penampilan berkeringatnya saat ini membuat hormon remajanya bergejolak. Bukan satu atau dua orang siswi yang menjerit tertahan karena kagum dengan visualnya saat mereka melewati koridor.
Meski pun jarak lapangan outdoor dan kantin lebih dekat tapi tetap saja mereka memutuskan untuk kembali ke kelas lebih dulu karena Aldrean kemungkinan masih menunggu mereka di kelas.
Deon yang pertama masuk ke dalam kelas. Wajah dingin pemuda itu tidak berkurang meski pun keringat terlihat mengalir jelas diwajahnya.
Deon menghentikan langkahnya hanya beberapa langkah dari pintu masuk kelas setelah melihat bangku Aldrean kosong. Bisma dan Edwin yang melihat Deon menghentikan langkahnya ikut menghentikan langkah mereka. Tatapan mereka sama-sama tertuju ke arah bangku Aldrean yang kosong.
"Ga ada di kelas." Ucap Bisma. "UKS?" tanyanya lebih seperti pada diri sendiri.
"Ayo!" Ajak Edwin.
"Tunggu." Ujar Deon. Pemuda itu melanjutkan langkahnya yang tertunda dan berjalan menuju bangku Aldrean sementara Bisma dan Edwin diam melihatnya.
Deon mengambil tas Aldrean dan membukanya, tidak perlu lama Deon sudah menemukan benda yang dicarinya.
Ponsel Aldrean.
Itu adalah kebiasaan Aldrean akhir-akhir ini. Pemuda itu sering sekali meninggalkan ponselnya yang merupakan benda penting untuk bisa menghubungi pemuda itu.
Setelah melihat Deon mengeluarkan ponsel Aldrean dari tasnya, Bisma dan Edwin pun saling tatap dan membuang napas.
"Ayo pergi." Kali ini Deon yang juga mendahului untuk melangkah meninggalkan kelas.
Langkah pemuda itu terlihat santai tapi sebenarnya dia benar-benar bergegas. Kedua kakinya yang panjang membuatnya dengan mudah mengambil langkah lebar.
Bisma dan Edwin mengikuti dari belakang.
Saat datang ke UKS, tempat itu saat ini sedang ramai karena ada beberapa murid yang tidak sadarkan diri atau pun memiliki keluhan sakit saat upacara sedang berlangsung. Sementara yang dicari tidak terlihat keberadaannya.
"Dok, apa Al tadi ke sini?" Tanya Edwin pada dokter yang bertugas di UKS.
Dokter wanita itu sudah akrab dengan Aldrean tapi sejak pagi dia memang belum melihat pemuda itu. "Nak Al tidak ada ke sini."
___
Ruangan itu tidak besar tapi bersih dan nyaman. Ada sebuah meja panjang di sisi kiri dengan kursi-kursi kayu dan meja kerja tunggal di tengah-tengah, jendela di sisi kiri juga besar dan menampakkan pemandangan dari lantai empat. Beberapa pot tanaman kecil di dalam ruangan terawat dengan baik dan beberapa tamannya telah menciptakan kuncup yang berbunga.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZERO
Teen FictionDia Zero. Sosok spesial yang akan hadir setelah kematian seseorang. [Selesai]
