Louis terluka saat terlibat pertikaian dengan kelompok Black Rose, kaki kanan pria itu tertembus peluru dan mungkin akan sulit bagi pria tua itu untuk berjalan dengan normal lagi di masa depan.
Saat mendengar kabar itu Ron sangat mencemaskan tuannya dan dia pun mengabaikan tugasnya untuk menjaga Aldrean dan datang ke Negara T bahkan tanpa diminta.
Kemudian, tiba-tiba saja kabar kematian Aldrean tersiar di dalam berita.
___
Di sebuah atap gedung tinggi, Ron berusaha mencari titik paling terang yang berada di langit.
Ron tahu jika Aldrean bukanlah anak biasa.
Lebih tepatnya, jiwa di dalam tubuh anak itu sangat istimewa.
Aldrean selalu bisa membuat orang lain tertarik dan bahkan berpaling kepadanya tanpa harus banyak bergerak. Bahkan, dalam diamnya Aldrean tidak bisa menyingkirkan hawa keberadaan yang membuat semua orang ingin mengaguminya.
Sama seperti bagaimana Aldrean bisa membuat Ron mengakuinya sebagai tuan mudanya hanya setelah satu kali pertemuan mereka.
Tapi, seluar biasa apa pun Aldrean, terkadang dimata Ron, Aldrean tidak lebih seperti anak kecil biasa.
Aldrean bisa mengeluh. Anak itu juga bisa bertingkah manja dan bergantung pada punggungnya.
Itu adalah kesalahannya karena telah pergi begitu saja dan sekarang anak yang pernah memeluk erat lehernya dari belakang itu sudah tiada.
"Maafkan saya tuan muda."
Untuk pertama kalinya, selain saat melihat Sion kecil yang dipukuli sampai babak belur, hati Ron saat ini kembali terasa pilu.
Seolah menyadari kepiluan hatinya langit di atas tubuhnya pun terlalu gelap dan tidak memiliki cahaya.
Tampaknya cahaya disekitarnya ikut menghilang setelah kepergian seseorang.
Punggung yang biasa terlihat tegap itu saat ini memiliki bahu turun yang terlihat menyedihkan untuk dipandang.
Jas hitam yang membalut tubuhnya seolah menyatu dalam kegelapan sekitar dan membuat sosoknya samar-samar seperti bisa saja menghilang.
Pemandangan itu adalah hal baru dalam hidup Sion.
Sion, dia tidak pernah melihat kakaknya terpuruk dan bertingkah seperti bajingan lemah yang menyedihkan.
"Kak," Sion memanggil.
Di atas atap yang sepi bersama malam yang melingkupi mereka, suara Sion terdengar sangat jelas meskipun pemuda itu hanya membuka sedikit bibirnya.
"Sion, pergilah."
Tanpa menoleh Ron sudah tahu jika saat ini Sion sudah berdiri di belakangnya. Pria itu tidak berani menoleh, dia tidak ingin memperlihatkan wajahnya di depan siapa pun saat ini. Tanpa terkecuali.
Tapi, Sion bergeming. Dia tidak bisa pergi.
Jika bisa pemuda itu ingin melangkah lebih dekat pada saudaranya tapi, dia tahu, saat ini yang diinginkan Ron adalah kesendirian.
Jadi, Sion menahan langkahnya untuk tidak terlalu dekat. Dia mencoba menjaga jarak yang cukup aman dan mulai berbicara secara perlahan. "Aku ke sini untuk menyampaikan pesan dari tuan."
Kalimat itu membuat Ron memejamkan matanya. Dia tidak ingin mendengar pesan yang dimaksud tapi, dia tahu, dia harus mendengarnya. "Katakan."
Mulut Sion terbuka dan tertutup, dia terlihat ragu-ragu. Tapi dia tetap mengatakannya. "Tuan menyuruhmu untuk pergi ke Negara G. Perintahnya, jangan kembali sebelum dipanggil."
KAMU SEDANG MEMBACA
ZERO
Novela JuvenilDia Zero. Sosok spesial yang akan hadir setelah kematian seseorang. [Selesai]
