Bagian 46 (Season 2)

4K 475 28
                                    

"Ayo ke kantin!"

Jam istirahat tiba dengan cepat. Bisma menjadi orang pertama yang membuka suaranya. Pemuda itu tersenyum setelah menutup buku catatan miliknya yang telah dipenuhi berbagai coretan gambar.

Sebagai teman sebangku, Edwin sudah biasa dengan kelakuan Bisma yang bukannya mencatat pelajaran malah mencoret-coret buku catatan.

Saat akan memasukkan buku catatan miliknya ke dalam tas tanpa sengaja Bisma malah menjatuhkannya. Buku itu terbuka menampilkan sebuah halaman.

Aldrean yang sudah berdiri dari bangkunya terkejut saat melihat gambar apa yang ada di dalam buku catatan milik Bisma. Pemuda itu terpaku.

Itu...

Semua orang tidak menyadari keanehannya bahkan Bisma dengan santai memungut kembali buku catatannya dan kemudian memasukkan bukunya ke dalam tas.

"Hari ini Edwin yang teraktir kan?" Tanya Bisma dengan tampang tidak berdosa.

Edwin yang disebut-sebut namanya langsung mengelak. "Kenapa gue?"

Seolah tidak ingin mendengar penolakan, Bisma justru berseru dengan semangat. "Oke, hari ini Kaisar Edwin akan mentraktir kita!"

Saat keempatnya sampai dikantin, seperti biasa tempat itu akan menjadi penuh sesak karena jam istirahat.

"Ayo Al, lo temenin gue pesen!" Tanpa meminta persetujuan, Bisma langsung menarik tangan Aldrean agar mengikutinya. Aldrean yang ditarik hanya bisa menghela napas pasrah.

Kenapa?

Aldrean terus mengingat gambar yang dibuat Bisma dalam buku catatannya dan membuatnya kehilangan fokus. Walau pun itu hanya sebuah gambar hitam putih tapi garisnya begitu jelas.

Itu adalah gambar dirinya.

Tidak. Lebih tepatnya gambar penampilan seorang Zero.

Sebenarnya apa yang Bisma pikirkan sampai bisa membuat sosok seorang Zero dalam sebuah gambar?

Bisma sendiri tidak tahu apa yang Aldrean pikirkan. Pemuda itu terus menarik tangan Aldrean dan membawanya ke depan banyak stan makanan.

"Nah Al, lo mau pesen apa?" Suara Bisma segera menyadarkan Aldrean kembali.

"Gue ke toilet dulu." Aldrean langsung berbalik pergi.

"Eh? Tunggu--" ucapan Bisma terhenti karena Aldrean yang telah menghilang dari pandangannya. Tidak terlalu peduli, Bisma hanya mengangkat bahu acuh. "Mungkin kebelet." Ujarnya pada diri sendiri.

Setelah memesan makanan, Bisma langsung kembali pada Edwin dan Deon yang telah duduk di salah satu meja. Tampaknya karena kondisi kantin yang hampir penuh dan sulit untuk menemukan meja sendiri, kedua temannya itu bergabung dengan anak-anak kelas sebelas tepatnya mereka adalah Revano dan teman-temannya.

"Hai." Revano melambai dengan riang ke arah Bisma begitu pemuda itu duduk dibangku di samping Edwin.

"Cih, apaan sih lo! Jangan SKSD deh!"

Bisma dengan sifat julidnya adalah hal yang biasa. Revano bahkan tidak memperdulikan ucapannya yang jika dianggap serius akan menciptakan rasa sakit hati. Revano masih memperlihatkan senyumannya yang manis hingga membuat matanya menyipit.

"Setau gue biasanya kalo orang abis sakit itu bisa berubah sifatnya tapi ternyata lo masih sama ya." Revano berucap dengan ringannya.

Mendadak aura dingin yang tidak mengenakkan terasa oleh semua orang. Itu tepat setelah Revano menyelesaikan kata-katanya.

Tersentak.

Revano akhirnya menyadari jika aura dingin itu berasal dari Deon. Adik kelasnya yang bahkan belum mengeluarkan satu kata pun sejak duduk di meja.

ZEROTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang