Bagian 60 ( Season 2)

3.2K 362 39
                                    

Mendengar nama orang lain lagi setelah lama tidak mendengar kabarnya membuat kenangan buruk yang ingin Diki lupakan itu kembali keluar.

Bekas luka bakar yang melepuh sepanjang lengan kirinya sampai hari ini masih sering menghasilkan denyutan nyeri.

Diki tidak bisa melupakan hari di mana dia mendapat luka besar itu.

Rasa takut, tidak percaya, tapi lebih dari itu semua perasaan bersemangat yang entah berasal dari mana telah membuat debar jantungnya menggila.

"Aldrean masih hidup?"

Diki tidak percaya. Dia kira setelah Aldrean meminum racun menggantikan anak-anak orang kaya itu, Aldrean sudah menemui sang pencipta.

Aldrean ternyata masih hidup.

"Selama kepergianmu mungkin banyak hal yang kamu lewatkan tapi, Aldrean memang masih hidup."

"Bukannya racun itu mematikan?"

Senyum sinis muncul meladeni pertanyaan Diki. "Walau tidak sampai mati seharusnya bisa sampai gila. Sayangnya, anak itu baik-baik saja."

Diki merasa itu mustahil tapi anehnya, jika itu Aldrean, Diki bisa mempercayainya. "Jadi, bagaimana bisa Aldre baik-baik saja?" Suara takjub itu tidak bisa disembunyikan.

"Hahh... mana aku tahu. Keluarga Bagaskara ada di belakangnya, mungkin itu perbuatan mereka."

Tanpa sadar Diki meninggikan nada suaranya. Dia sangat penasaran. "T-tapi anda bilang racun itu racun mematikan yang penawarnya--"

"Kamu berani berteriak di depanku?"

Diki tersentak. Tiba-tiba tersadar bahwa dia terbawa suasana. "Maafkan aku."

"Hahh... kenapa juga aku harus terlibat dengan anak bodoh sepertimu? Jika bukan karena Tuan Alwi, jiwamu pasti sudah meninggalkan ragamu saat ini."

"Maafkan saya, Tuan Gibran."

Gibran, pria yang memang berbincang dengan Diki itu melambaikan tangannya. "Cukup. Pergilah! Pastikan untuk melakukan tugasmu dengan benar jika kamu masih menginginkan nyawamu."

Dengan cukup gugup dan terburu-buru, Diki bangkit dari sofa yang didudukinya dan menunduk sopan ke hadapan Gibran. "Saya permisi."

Gibran tidak peduli sama sekali. Begitu kehadiran Diki menghilang, pria itu menghempaskan rokok yang masih sisa setengah ditangannya ke lantai.

Tatapan sayunya berubah tajam.

"Apa kamu yakin dengan anak itu? Dia terlihat bodoh."

Antonio yang sejak awal telah menunggu di ruangan sebelah datang tepat setelah kepergian Diki.

Ada CCTV dan penyadap suara yang Antonio pasang di ruangan itu sehingga dia bisa mendengar semua pembicaraan Gibran dan Diki sejak awal.

"Aku membutuhkan kambing hitam." Balas Gibran santai.

"Kita tidak tahu apa yang membuat Tuan Alwi memerintahkan kita untuk tidak menyentuh Aldrean. Anak itu bahkan hanya seorang yatim piatu. Walaupun dia memiliki hubungan dengan Hendrawan tapi, Hendrawan itu tidak cukup kuat. Aku tidak bisa menebak sebabnya." Tambah Gibran lagi.

"Jadi, kenapa kamu ingin mengambil resiko dan malah berniat untuk menyingkirkannya?" Antonio mengambil duduk di depan Gibran, memangku salah satu kakinya dan duduk bersandar dengan sebelah lengan. Sikapnya penuh arogansi dan keanggunan. "Jika perbuatanmu ketahuan, Tuan Alwi tidak akan melepaskanmu."

Seringai muncul di wajah Antonio. Pria itu tampak sangat puas dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Gibran tidak peduli dengan ucapan Antonio itu karena dia sudah memikirkannya matang-matang. "Tidak akan ketahuan. Katakan saja anak itu memiliki inisiatif sendiri karena memiliki dendam pada Aldrean. Anak itu menerima luka parah karena Aldrean bukan?"

ZEROTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang