Satu hari setelah pemakaman Aldrean, Cakra dikejutkan dengan kedatangan Kei di rumahnya.
Cakra memang tidak bergelut dibidang bisnis tapi bukan berarti dia tidak bisa mengenali Kei.
Bagi mereka yang berada dilingkaran keluarga menengah ke atas, wajib bagi mereka untuk memiliki pengetahuan umum tentang siapa-siapa saja yang berada dilingkaran yang sama, mana yang bisa disentuh dan mana yang tidak bisa disentuh.
Usia Kei mungkin hanya dua tahun lebih tua dari putra sulungnya tapi dari segi kemampuan dan latar belakang jelas Kei tidak bisa dibandingkan.
Lukein Sing. Nama itu termasuk salah satu nama dalam daftar di mana mereka tidak bisa disentuh.
Cakra tidak tahu kesalahan apa yang telah putra bungsunya lakukan sehingga membuat orang sepenting Kei mendatangi keluarga mereka.
Selagi membiarkan kedua orang itu berbicara di ruang tamu, Cakra yang tidak diizinkan bergabung terpaksa pamit undur diri kembali ke ruang kerjanya.
Pria itu tidak bisa duduk dengan tenang. Dia bergerak ke sana kemari dengan gelisah sambil sesekali melihat waktu.
Sementara itu di ruang tamu, tanpa mempedulikan kegelisahan yang dirasakan papinya, Bisma berbicara dengan Kei dengan jauh lebih santai.
"Tuan Kei, apa yang anda inginkan dari saya?"
Bisma bahkan tidak bermaksud untuk berbasa-basi.
"Kamu memiliki potret lukisan Zero bukan?"
Saat nama Zero keluar dari mulut Kei, Bisma tidak bisa menutupi keterkejutan diwajahnya.
Bisma sempat berpikir jika selain dia, seharusnya tidak ada orang lain di dunia ini yang mengenal sosok Zero.
"Tuan, anda mengetahui Zero?" Tanyanya.
Wajah Kei tenang dan dia pun menjawab dengan tenang. "Bukan hanya tahu tapi saya juga mengenalnya."
"Sungguh?" Bisma semakin terkejut.
Bagaimana cara Kei mengenal Zero dan bagaimana orang lain tahu jika dia memiliki potret lukisan Zero? Bisma mau tidak mau semakin bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Tapi bagaimana anda--"
"Saya tahu banyak yang ingin kamu tanyakan. Selama kamu bersedia menjual lukisan itu pada saya, saya akan menceritakan semua yang saya tahu."
Bagi Bisma, Zero adalah seorang malaikat baik hati yang datang ke dalam mimpinya. Meski pun hanya pernah melihatnya sekali, pertemuan mereka sangat membekas dalam ingatan Bisma.
Karena Bisma tidak ingin melupakan sosoknya, Bisma pun memutuskan untuk melukis Zero sesuai dengan apa yang dia ingat dalam mimpinya.
Jika dia diberi kesempatan untuk bisa mengetahui hal tentang Zero lebih banyak, bagaimana bisa Bisma menolak?
Tapi, pemuda itu masih memiliki keraguan dihatinya.
"Kenapa anda menginginkan lukisan saya?"
Tatapan Kei tertunduk, wajah tenangnya seketika diisi oleh penyesalan. "Karena saya tidak pernah bisa melihat wajahnya."
Jawaban dari Kei itu membuat Bisma semakin kebingungan.
Tanpa membiarkan Bisma larut dalam kebingungannya, Kei kembali membuka suara. "Apa kamu bersedia menjual lukisan itu? Saya akan membelinya berapa pun harganya."
"...itu," Bisma masih ragu. Bukannya dia tidak bisa memberikan lukisan itu tapi masalahnya adalah jika bukan karena lukisan Zero yang ada ditangannya, sudah dari lama Bisma melupakan sosok Zero. Seolah-olah sosok itu memang hadir untuk tidak diingat.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZERO
Ficção AdolescenteDia Zero. Sosok spesial yang akan hadir setelah kematian seseorang. [Selesai]
