"Tuan muda ini semua laporan tentang terbaru tentang keluarga Pratama." Haris menyerahkan tablet pintarnya ke hadapan Deon.
Deon menerima benda tipis itu dan mulai membaca semua isi laporan yang sudah dirangkum di dalamnya.
"Pastikan untuk membuat Mahyar Pratama mendekam lama dipenjara. Jika bisa, seumur hidup."
Hanya mata dan jemari Deon yang bergerak. Pemuda itu bahkan memiliki kesan dingin dalam setiap kata yang dikeluarkannya.
"Lihat ini, istri cantik yang selalu dia banggakan ternyata berselingkuh di belakangnya."
Wajah Deon tanpa ekspresi seperti biasa saat dia memberi perintah. "Sebarkan foto-foto ini pada media."
Haris baru saja akan menjawab saat pria itu mendengar suara dingin tuan mudanya lagi.
"Ah, putra sulung mereka saat ini berada di luar negeri?"
"Lalu bagaimana dengan narkoba dan obat-obatan lainnya? Seorang anak yang terkekang oleh orang tua biasanya selalu membutuhkan pelampiasan bukan?"
Haris terkejut tapi pria itu masih mengendalikan dirinya. "Maksud anda adalah?"
"Jika tidak ada hal buruk yang bisa ditemukan maka kita harus menciptakannya sendiri." Jawab Deon tanpa mengangkat wajahnya.
"Anda ingin--"
"Lakukan semuanya. Aku ingin keluarga Pratama membayar untuk semua dosa anak bungsu mereka."
"S-saya mengerti."
"Pergi."
Haris membungkukkan tubuhnya sebelum meninggalkan Deon sendiri di ruangannya yang dingin.
Penampilan pemuda yang duduk dikursinya itu tampak kesepian. Wajah datarnya memiliki sepasang mata yang telah kehilangan cahaya, dia mungkin tampak baik di luar tapi dia begitu kesakitan di dalam hatinya.
Langkah Haris berhenti dua langkah di depan pintu ruangan, pria itu menghembuskan napas, dia menengok penuh kekhawatiran ke arah pintu saat mengingat penampilan tuan mudanya di dalam.
Setelah kepergian Aldrean, Haris menyadari jika tuan mudanya tiba-tiba berubah menjadi penjahat dingin yang tidak memiliki hati.
Tuan mudanya itu mulai menggali semua seluk beluk keluarga Pratama dan menggunakan cara apa pun untuk menghancurkan keluarga itu.
Haris tidak berani bertanya apa penyebabnya dan dia lebih tidak bisa mencegah keputusan tuan mudanya itu.
Dilihat oleh orang lain, tuan mudanya seperti penjahat yang menghancurkan kehidupan satu keluarga tapi di mata Haris, tuan mudanya tidak lebih seperti seorang anak yang berusaha menyakiti dirinya sendiri.
Tampaknya kepergian Aldrean memang membawa luka dan penyesalan yang paling dalam dihati tuan mudanya.
___
Yang lain mungkin tidak tahu tapi, Deon bukan orang bodoh. Setelah melihat penampilan Aldrean dengan rambut putih malam itu, Deon sadar ada sesuatu yang berbeda dari temannya itu.
Awalnya Deon mencoba meminta penjelasan pada Aldrean tapi rupanya pemuda itu tidak berniat untuk mengatakannya.
Deon tidak masalah.
Dia akan menunggu sampai Aldrean berani mengatakan yang sejujurnya.
Tapi saat ini, Aldrean sendiri sudah pergi, sampai kapan Deon harus menunggu untuk jawaban yang ingin dia ketahui?
"Al... tidak, mungkin seharusnya gue panggil Zero?" Lirihan itu hanya untuk dirinya sendiri. Kepala Deon tertunduk dan rambut halusnya jatuh menutupi separuh wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZERO
Fiksyen RemajaDia Zero. Sosok spesial yang akan hadir setelah kematian seseorang. [Selesai]
