#088 : Tersurat Untuk Sahabat

82 7 0
                                        

Hai, sahabat.
Masihkah kau mengenalku?
Setelah menghargai keputusanmu untuk berpisah denganku, aku menjadi seorang penyendiri.
Hingga yang menjadi temanku sekarang hanyalah sepi.

Hai, sahabat.
Jika kau membaca ini, maukah kau menjawab pertanyaanku?
Adakah alasan logis untuk keputusanmu yang konyol itu?
Adakah alasan logis di balik kepergianmu yang tidak ada kejelasan?

Aku mohon.
Beri aku satu kalimat yang setidaknya mewakili semua rasa kebencian dalam hatimu.
Beri aku jawaban atas pertanyaan yang selalu kulayangkan namun tak pernah kau gubris.
Jangan biarkan aku menerka teka-tekimu di sepanjang jalan. Aku tak mau dunia memandangku seperti orang bodoh.

Aku tak ingin semesta merendahkanku karena tak mampu mengerti sahabatnya sendiri.
Aku tak mau dan tak ingin malam memakiku di keheningannya, tatkala aku mengadu pada bulan karena terlampau bingung.
Aku tak habis pikir, mengapa dengan mudahnya kau melupakan semua bagian dari cerita kita?
Saat aku ingin menulisnya kembali, kau sengaja menumpahkan tinta dendam di atas kertasku.
Kau merobek lalu membuangnya tepat di mukaku.
Rasanya ingin menangis, tapi aku terlanjur takut dibilang dramatis.

Apa yang harus aku lakukan jika hati sudah teriris?

Hai, sahabat.
Mengabaikan tatapan sinis darimu, aku masih menganggapmu orang yang istimewa.
Aku masih menunggu kedatanganmu setelah lelah mengejarmu.
Entah berapa bulan lamanya, hari-hariku selalu dihantui kenangan.
Kita melakukan semuanya bersama-sama. Bahkan aku pernah menceritakan gadis impianku padamu. Saat itu, kau menanggapinya dengan antusias sekali. Aku senang.

Hai, sahabat.
Sebagai penutup kata, aku rindu.

Selasa, 15 Jan 2019, Riau
18:58

RenjanaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang