.
.
.
Satria menghentikan mobilnya di depan pagar hitam rumah Clara. Mengamati sejenak, dia tidak menemukan kehadiran kendaraan lain disana. Meraih satu papper bag di kursi samping, Satria lalu keluar dari crv miliknya. Berjalan perlahan memasuki teras rumah Clara. Satria kembali menatap sekeliling, seperti mencari seseorang. Tapi dia tidak menemukan siapapun disana. Membuatnya menghela nafas dan maju mengetuk pintu.
Tak butuh waktu lama hingga pintu itu terbuka dan menampilkan sosok Clara.
Satria tersenyum tipis. "Hai, Ra. Anakku ada?"
Clara mengangguk pelan. Diam-diam mengamati raut Satria yang tak secerah biasanya. "Ada, masuk aja!"
"Nggak usah," Clara yang baru akan masuk lagi menoleh pada Satria. "Maksudku, aku cuma mau nganterin ini buat Rara. Habis itu langsung pulang."
Clara mengamati sejenak papper bag yang ada di tangan Satria. Setelah itu dia masuk ke dalam memanggil Andhara. Tak butuh waktu lama, teriakan senang Andhara seketika terdengar membuat Satria langsung mengeluarkan senyum saat berhadapan dengan putri cantiknya.
"Hai, sayang!" Satria memeluk hangat Andhara. Membiarkan Andhara mengecup pipinya.
Satria kemudian mengeluarkan sebuah box cake berisi red velvet. Lalu dia memberikan cake itu kepada anaknya. Membuat anaknya melonjak senang.
"Yeay, makasih Papa. Rara suka red velvet!"
Satria tersenyum mengelus kepala anaknya. Lalu bangkit berdiri menatap Clara yang diam saja di samping.
"Ini buat kamu, tiramisu." Satria mengulurkan papper bag yang dibawanya.
Clara mengamati papper bag itu lalu menerimanya. "Makasih. Tapi kamu nggak perlu repot-repot begini."
Satria tersenyum. "Nggak repot kok, tadi sekalian mampir."
Clara terdiam mengamati raut wajah Satria yang berbeda dari biasanya. Entah perasaannya saja atau Satria sedang terlihat murung sekarang. Biasanya rautnya selalu cerah setiap kali datang kesini. Tapi kali ini—masuk pun Satria enggan. Ah, mungkin ada masalah dengan pekerjaannya. Clara tidak mau terlalu pusing memikirkannya.
Satria lalu beralih pada Andhara yang manis. Memeluk anaknya sesaat. Dia mengecup kening Andhara cukup lama.
"Papa pulang ya, sayang. Jangan lupa dimakan red velvet-nya." Satria tersenyum mengelus kepala Andhara. Satria kemudian menatap Clara. "Aku pulang ya, Ra." Clara hanya mengangguk.
"Papa nggak boleh pulang!"
Andhara berteriak saat Satria hendak menuju pagar. Dengan cepat dia mengejar dan memeluk kaki Satria. Tak akan membiarkan papanya pergi.
"Papa nggak boleh pergi! Katanya Papa mau main sama Rara!" Andhara mendongak menatap papanya dengan mata berkaca. "Kenapa Papa musti pulang?! Kenapa nggak tinggal sama Rara disini?!"
Satria menghela nafas berat. Sungguh dia tak bisa menjawab pertanyaan anaknya itu. Pertanyaan yang jawabannya terlalu rumit untuk diberitahukan pada Andhara.
Maka Satria kembali berjongkok. Membelai lembut wajah Andhara. Mencoba memberi pengertian pada anaknya. "Sayang, Papa sekarang musti pulang. Tapi Papa janji, besok Papa bakal main lagi sama Rara."
Andhara menggeleng dengan air mata menggenang. "Nggak mau! Nggak mau, besok! Rara maunya sekarang, Papa!" Andhara menggoyang-goyangkan tangan Satria.
Dan Satria tak tega jika harus menolak keinginan putrinya. Tapi disisi lain dia tidak bisa berhadapan dengan Clara untuk kali ini. Ada gejolak dalam hatinya yang butuh ditenangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
You Got It
RomanceSatria Evandra Arbani, laki-laki itu hanya menginginkan bertemu kembali dengan Clara Regina Anandhina, perempuan yang dipacarinya enam tahun silam. Saat mereka masih merasakan indahnya, cinta di masa putih abu-abu. Sebuah peristiwa terjadi, mengaki...
