004 - SEBUAH KEPUTUSAN YANG AKAN IA SESALI SEUMUR HIDUPNYA

427 58 0
                                    

Mata yang tertutup perlahan-lahan terbuka, sebab hidung empunya menghirup aroma ikan bakar yang menggugah selera.

Wajah bangun tidur Udelia berubah memerah. Suara perutnya bersenandung menyanyikan alunan nada keroncongan, seolah tak makan selama berbulan-bulan lamanya.

Aroma itu semakin mendekat, Udelia melirik ikan bakar yang dijulurkan ke arahnya.

"Dewi, ikan bupu?"

Mano menawarkan seekor ikan matang. Sirip atas dan bawah tubuh ikan itu mengembang.

Tubuh ikan itu berwarna oren, dengan corak berwarna biru terang, mampu menerangi gelapnya gua.

"Siapa kalian?" tanya Udelia waspada.

Seorang wanita sendirian, di dalam gua yang gelap, di sekitarnya banyak pria dewasa yang bertelanjang dada, tidak mungkin wanita itu merasa aman.

Udelia memperhatikan wajah-wajah pria di sekitarnya. Tidak ada ekspresi mesum di wajah mereka. Namun dia tetap waspada.

"Kami hanyalah orang-orang yang ingin mempertahankan Kelimutu," jawab Lowo.

"Ini di Kelimutu?" tanya Udelia memastikan.

Lowo mengangguk. "Iya."

"Jangan banyak basa-basi, kamu bisa mengusir Pasukan Maja dari sini?" sela Reo.

"Makan dulu." Mano memberikan ikan pada Reo.

Rekannya yang satu ini memang paling tidak sabaran.

"Ini, dewi yang baru matang." Mano mencabut ikan yang sedang dipanggang, lalu memberikannya pada Udelia.

Udelia melihat daging ikan di tangan Reo berwarna oren, seperti bagian luarnya.

Lelaki itu memakan ikan bakar dengan lahap, sampai tulang-tulangnya habis tak bersisa.

Akhirnya Udelia menerima ikan dari tangan Mano, namun hanya ia tatap lekat-lekat.

"Aku jamin tidak akan berbahaya. Silakan dicoba~"

Mano melahap ikan di tangannya, menunjukkan pada Udelia jika semua ikan bakar, termasuk ikan bakar di tangan Udelia, sama-sama aman.

"Siapa kalian?" Lagi, Udelia bertanya. Ikan bakar masih utuh di tangannya.

Makan bukan hal penting saat ini. Udelia harus memastikan dulu yang sebenarnya sedang terjadi.

Dia belum puas dengan jawaban mereka.

"Aku Mano, ini Reo. Yang tadi berbicara denganmu ketua kami, Lowo. Seperti kata ketua, kami ingin mempertahankan Kelimutu dari cengkeraman Maja," ucap Mano.

"Maja adalah negeri yang kuat, kalian bisa melawan mereka?" Udelia menarik corak yang bercahaya, lalu mencobanya.

Mata perempuan itu berbinar. Rasa ikannya pas! Padahal dia tidak mencium aroma rempah ataupun mendapati bekas rempah yang tersisa di sekitar perapian.

"Apa pun akan kami lakukan demi melawan orang-orang bengis itu," ucap Lowo optimis.

"Dewi, mereka menjarah, merampas, bahkan mem.." Mano menghentikan ucapannya. Dia menggigit bibirnya sembari mengernyit dan memejamkan mata, tak kuat untuk melanjutkan kalimat yang tak pantas diucapkan.

Ingatan keji itu melintas dalam benak mereka. Maja yang datang dengan tiba-tiba, memporak-porandakan tanah mereka. Mereka yang tak bersiap-siaga, tidak mampu melawan balik.

Udelia yang sedang memakan ikan, menghentikan kunyahannya.

Semua pria yang kini duduk melingkar di hadapannya, memiliki satu ekspresi yang sama. Yaitu wajah geram menahan amarah, juga tampak kesedihan yang mendalam.

TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang